
Dani dan Bella membantu Ronal untuk bangun. Kendati pukulan bertubi - tubi yang ia dapatkan dari ayah pacarnya. Namun, tak sekali pun Ronal melawan, ia merasa pantas mendapatkannya. Setalah mengetahui bahwa Rose telah hamil oleh nya .
"Mulai dari sekarang, kamu jangan pernah deketi anak saya lagi!!" tegas ayah Andre.
"Maaf Om, saya sungguh tidak mengetahui kalau Rose hamil" ujar Ronal.
"Kamu…"
"Apa kamu bilang?" ayah Andre kembali ingin menerjang Ronal, namun dengan cepat di tahan oleh Dani.
"Paman, tenang lah…"
"Ini tidak akan menyelesaikan apa pun." ucap Dani mencoba menenangkan pamannya itu.
"Suruh dia pergi dari sini Dani, aku tidak tahan melihat wajahnya" seru Andre membuang muka dari Ronal.
"Om… Tolong dengarkan saya."
"Om, biar kan saya bertanggung jawab kepada Rose"Ucap Ronal memohon kepada Andre. Namun Andre tidak menanggapi ucapannya.
"Om, saya sangat mencintai Rose, dan saya tidak mau berpisah darinya." Ronal berdiri dan bersujud di kaki Andre.
"Lepaskan…" ucap Andre menepis tangan Ronal yang memegang tangannya.
"Kalau kamu benar - benar mencintai anak saya. Kamu tidak akan pernah mau menyentuhnya sebelum kalian ada ikatan yang sah."
"Kamu pasti akan menjaganya, tapi ini APA?…"
"Kau bahkan tidak tau kalau dia sedang hamil, dan apa kau tau anakku hampir mati karna itu…" ujar Andre, ia mencoba menahan dirinya agar tidak memukuli Ronal lagi.
Ronal terdiam mendengar ucapan Andre, ia tak dapat lagi menjawab. Tapi ia benar - benar tak ingin kehilangan Rose. Awalnya memang ia hanya ingin main - main dengan Rose tapi lama - kelamaan Ronal memang sangat mencintai Rose.
"Om…"
"Lebih baik kau pergilah dari sini…" perintas Andre.
"pergilah, sebelaum Rose sadar. Aku tak ingin anakku menangis kembali."seru Andre.
"Izinkan saya bertemu dengan Rose sekali saja Om!" mohon Ronal.
"Apa kau tidak mengerti dengan ucapanku?" tanya Andre menatap Ronal dengan nyalang.
"Lebih baik kau pergilah dulu !"saut Dani, Ronal menatap Dani memohon.
"Pergilah dulu, nanti gue usahain." ucap Dani yang mengerti dengan maksud dari tatapan Ronal.
Sebelum pergi Ronal memandang kearah ranjang Rose, disana ia melihat Rose sedang terbaring dengan wajah pucat dan mata yang sembab.
"Kalau begitu saya pamit dulu om" pamit Ronal kepada Andre. Namun, Andre tak menggapi ucapan Ronal, dia begitu marah saat mengetahui putri bungsunya yang dia jaga selama ini, telah hamil dan dengan terpaksa calon cucunya itu harus di keluarkan secara paksa karena ada kelainan.
Dani menghampiri Andre dan membawa pamannya itu untuk duduk di sofa. Bella pun membawakan segelas air putih untuk Andre.
"Minumlah dulu paman!" ucap Bella. Andre menyaut gelas yang diulurkan oleh Bella dan meminumnya.
"Terima kasih…" ucap Andre dan memberikan kembali gelas yang telah kosong itu kepada Bella. Bella menerima gelas itu dan meletakkannya kembali di atas meja.
"Paman tenangkan lah dirimu dulu…" ucap Dani sembari memegang bahu pamannya itu.
"Aku sungguh lega sekarang, rasanya beban berat yang ku tanggung dari kemaren seakan menguap semua" ujar Andre
"Terima kasih ya Bell, berkat kamu paman bisa bertemu dengan anak nakal itu" ucap Andre manatap Bella.
"Iya, paman" Bella tersenyum kepada Andre. Inilah rencana Bella saat ia mengajak Ronal ke rumah sakit, dia ingin mempertemukan ayah temannya itu dengan Ronal. Bella tau betul bagaimana perasaan ayah sahabatnya itu.
"Good job Bell" saut Dani mengacungkan jempolnya kepada Bella. Bella membalasnya dengan kerlingan mata serta senyum manis di bibirnya.
"Ngomong - ngomong Rose kok gak bangun ya, padahal tadi itu sangat bising loh?" tanya Bella heran dengan sahabatnya itu.
"O itu, kita sengaja minta dokter agar memberikan Rose obat tidur." jawab Dani.
"Pantas saja." balas Rose manatap Dani.
"Kalau gitu, aku pamit dulu ya paman. Nanti pulang dari kampus aku kesini lagi" seru Bella.
"O iya nak, hati - hati ya." jawab Andre.
"Mau gue antar?" tawar Dani.
"Gak perlu, gue bawa mobil kok." tolak Bella.
"Aku pergi dulu ya paman, bye Dani" pamit Bella tersenyum.
"Lucu…" gumam Dani pelan saat ia menatap punggung Bella yang menghilang di balik pintu.
"Lebih baik, paman pulang aja, biar aku yang jagain Rose disini." saran Dani.
"Gak nak, kamu saja yang pulang biar paman yang disini" jawab Andre.
"Begini saja pama, sekarang oaman yang jaga biar nanti malam aku yang jaga. Gimana?"
"Baiklah" jawab Andre
"Kalau gitu aku pulang dulu ya pama, sampai jumpa nanti malam." pamit Dani dan berlalu pergi menggalkan Andre yang masih duduk di sofa.
"Cepatlah sembuh nak, ayah tak sanggup melihat mu terbaring lemah seperti ini." ujar ayah Andre mengusap kepala anaknya dengan lembut.
~
Siang itu Lisa terlihat sangat sibuk di dapur, ia sedang menyiapkan makanan siang untuk suaminya itu.
"Zidan pasti senang, kalau aku bawakan makan siang untuknya" ucap Lisa tersenyum.
Huelk… Huelk…
Tiba - tiba rasa mual kembali menyerang Lisa, ia dengan cepat berlari ke wash tafel yang ada di dapur.
"Kenapa aku tiba - tiba mual seperti ini" ucap Lisa senbari ia membasuh mulutnya.
"Aku harus kedokter dulu kaya nya, sebelum ke kantor Zidan." ujar Lisa.
Setelah ia merasa agak lebih baik, Lisa pun kembali menyiapkan makan siang untuk suaminya itu. Tak lama kemdia Lisa pun telah menyelesaikan semua masakannya dan telah di masukkannya kedalam kotak makanan.
"Semuanya sudah siap, sekarang tinggal aku siap - siap untuk pergi" ujar Lisa.
Lima belas menit, waktu yang sangat cukup di gunakan oleh Lisa untuk bersiap.
Lisa mengunci semua pintu dan pergi menuju kerumah sakit terlebih dahulu untuk memeriksa keadaan tubuhnya yang di rasanya sangat aneh itu.
Rumah sakit
"Bagaimana dok? Saya baik - baik saja kan?"tanya Lisa saat seorang dokter perempuan duduk di depannya.
"Menurut hasil pemeriksaan tadi, ibu Lisa tidak sedang sakit apa pun, Ibu sangat sehat." ucap Dokter
"Lantas, kenapa saya sering merasa gak enak badan dok? dan juga saya seri merasa mual" tanya Lisa.
"Itu normal - normal saja bu, biasanya wanita hamil memang akan mengalami gejala seperti itu, pada saat hamil muda." terang dokter
"Oooo seperti itu ya dok." ucap Lisa mengangguk - anggukkan kepalanya.
"Tunggu! Apa dok, hamil? hamil muda?"
"Maksudnya apa dok?" tanya Lisa bingung dan kaget.
"Selamat nona, anda akan menjadi seorang ibu." dokter itu pun memberikan kertas hasil pemeriksaannya kepada Lisa.
"Benarkah dok? Dokter gak bohong kan?" tanya Lisa yang masih tak percaya dengan yang di ucapkan dokter tentang dia hamil.
"Iya nona, saya tidak bohong. Anda bisa lihat sendiri di kertas itu." ucap dokter itu, ia tersenyum melihat ekspresi Lisa yang sangat kaget dan juga bahagia.
"Aku senang sekali..." Lisa memeluk hasil pemeriksaannya.
"Berapa usia kandunganku dok?" tanya Lisa sembari mengusap perut datarnya.
"Baru 2 minggu nona dan di masa ini, anda harus hati - hati karena di usianya sekarang sangat rentan untuk keguguran." nasehat dokter.
"Iya dok, saya akan menjaga anakku ini dengan hati - hati." ucap Lisa.
"Baiklah kalau begitu saya pamit dulu ya dok, terima kasih." ucap Lisa menyalami dokter cantik itu.
"Hati - hati ya nona." Lisa pun keluar dari ruangan dokter itu.
"Zidan pasti senang mendengar kabar gembira ini."
"Ayo sayang kita temui papa di kantor" ucap Lisa mengelus perutnya.
Lisa pergi ke pakiran rumah sakit dan berlalu pergi meninggalkan rumah sakit dengan menggunakan mobilnya. Lisa sengaja membawa mobil, karena ia sangat malas kalau haru menunggu - nunggu taksi.
Tak lama Lisa pun sampai di perusahaan suaminya itu.
"Selamat siang bu…" sapa security,membukakan pintu.
"Siang pak, terima kasih." balas Lisa, ia pun melangkah pergi keruangan Zidan tanpa bertanya kepada receptionis terlebih dahulu.
Saat di depan ruangan Zidan, Lisa menghampiri meja sekretaris Zidan.
"Apa bapak ada?" tana Lisa
"Bapak sedang ada tamu bu" ucap sekretaris itu.
"Tumben dia sopan" gumam Lisa dalam hati. Lisa tidak tahu kalau Zidan telah mengumumkan kepada karyawan perusahaannya kalau lisa adalah istrinya.
"Baiklah, terima kasih" ucap Lisa, ia menghampiri pintu ruangan Zidan yang pada saat itu tidak tertutup rapat.
Lisa mengintip di sela - sela pintu dan melihat siapa yang sedang bertemu dengan suaminya itu. Lisa dengan jelas melihat orang yang sedang ada di dalam ruang suaminya itu.
Lisa sangat kaget, hingga tanpa sadar Lisa mendorong pintu ruangan itu dengan keras dan tampak di dalam Zidan dengan seseorang yang sangat Lisa kenal.
"ZIDAN!!!"
~•••~
Jangan lupa dukungannya ya 🤗