ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Menemukan Daniel


Lisa masih menggenggam erat ponselnya. Ia masih menatap Zidan dengan tatapan takut.


"Aku..."


"Kenapa kau menolaknya untuk bertemu dengan nya? Temui saja dia!"perintah Zidan.


"Memangnya boleh?" tanya Lisa dengan nada polos.


"Kalau kau mau berkencan dengannya ya kencan saja, aku tidak akan melarangmu!" seru Zidan dengan raut wajah yang kesal.


"Aku Tidak berkencan dengannya, dia hanya mengajakku bertemu!"saut Lisa.


"Apa namanya seorang laki - laki dan perempuam bertemu berdua jika bukan berkencan?" seru Zidan seraya berlalu pergi meninggalkan Lisa.


"Zi..." Lisa memanggil - manggil nama suaminya. Namun Zidan sama sekali tak menghiraukannya. Ia mengikuti langkah kaki suaminya yang keluar dari kamar dan turun pergi ke dapur. Zidan terlihat mendaratkam tubuhnya di salah satu kursi meja makan yang baru saja ia tarik.


"Zi, aku tidak akan menemui Reyhan." ujar Lisa.


"Kau bertemu denganya atau tidak, itu bukan lah urusanku" seru Zidan sembari mengambil beberapa lembar roti dan telur mata sapi yang telah di masak oleh Lisa tadi. Lisa ikut mendudukkan tubuhnya di samping Zidan dan meletakkan secangkir kopi di depan suaminya itu.


"Jam berapa ayah pulang?" tanya Zidan dengan mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Entalah," saut Lisa. Zidan dengan cepat menghabiskan siaa roti miliknya. Lalu, ia beranjak berdiri.


"Kau hari ini pergi ke boutique atau tidak?" tanya Zidan.


"Kalau bekerja aku pasti akan kepikiran Rose, tapi kalau aku dirumah, yang ada aku bakalan bosan." gumam Lisa dengan bingung.


" Apa kau tuli?" suara Zidan yang keras mengagetkan Lisa dari lamunannya.


"Aku bekerja saja, tunggu sebentar aku akan bersiap - siap dulu" Lisa beranjak berdiri hendak pergi ke kamar mengambil tas miliknya yang tereltak di atas meja. Ia terlebih dahulu membenahi rambutnya yang sedikit berantakan.


"Kenapa lama sekali?" teriak Zidan dari bawah yang terdengar hingga ke kamar membuat Lisa begitu kesal.


"Rasanya ingin sekali mulutnya ku lempar meja, " umpat Lisa dengan geram. Iya dengan segera berlalu menemui suaminya tersebut.


"Lama sekali!" seru Zidan.


"Ayi cepatlah!..."Zidan menarik tangan Lisa keluar dari rumah sebelum meninggalkan rumah Lisa terlebih dahulu berpamitan kepada bi Anah yang sedang membereskan meja makan.


Setelah itu, barulah mereka berdua masuk kedalam mobil, Zidan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan srdang, ia terlebih dahulu mengantar istrinya ke boutique, setelah itu barulah ia pergi ke kantor miliknya.


~


Setibanya di kantor Zidan sedang duduk di kursi kerjanya. ia masih kesal dengan istrinya tadi.


"Berani - beraninya si bodoh itu mengajak istriku untuk ketemuan." gumamnya.


"Huh.... Apa selama ini mereka, masih sering berkomunikasih?" ujarnya


"Lagian, Lisa kenapa seperti ragu gitu ya, wajtu dia nolak tadi" berbagai macam pertanyaan bermunculan di benak Zidan.


Ceklek. Zidan menoleh kearah pintu melihat siapa yang berani masuk keruanganya tanpa mengetuk terlebih dahulu.


"Hai bro..." sapa Ridho menghampiri Zidan yang masih duduk di kursi nya.


"Ngapain elu kesini?" tanya Zidan ketus.


"Ya elah, masih pagi juga udah badmood aje lu. Kenapa lagi si elu? gak dapat jatah ya?" ledek Ridho yang melihat ekspresi Zidan yang kurang bersahabat.


"Bukan urusan elu! elu belum jawab pertanya gue. Ngapain rlu kesini?" saut Zidan.


"O iya gue udah dapat kabar nih soal mahasiswa yang elu suruh selidiki kemaren." ujar Ridho, dia menarik kursi yang ada di depan meja Zidan dan mendudukinya.


"Seriusan lu?"


"Iya, dia sekarang sedang ada di rumah sakit XXX" seru Ridho.


"Ngapain dia di situ?" tanya Zidan penasaran.


"Mending elu, lihat sendiri deh"


"Elu bener, mending gue kesana aja. Yaudah elu tolong gantiin gue rapat bentar lagi! oke" seru Zidan berdiri dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan sahabatnya itu yang masih terbengok.


"Lah...Lah... Kok gue sih? eh Zidan..." Ridho meneriakin nama Zidan. Tapi Zidan tak mengubrisnya.


"Dasar teman gak ada akhlak." Ridho sangat kesal dengan sahabatnya itu,dan sumpah serapa pun tak terelakkan lagi keluar dari mulut Ridho.


Sementara Zidan berjalan menuju mobilnya, dan berlalu meninggalkan kantornya.


Sama hal nya dengan Zidan, Bella pun sangat bingung kenapa Daniel berada di Rumah Sakit. Karena setau Bella, Daniel itu orangnya jarang banget sakit.


"Baiklah kalau begitu kita ketemunya di rumah sakit saja. Saya sekarang sedang dalam perjalanan kesana" tutur Zidan.


"Baiklah, pak saya akan segera ke sana" saut Bella.


Setelah mendengar jawaban dari Bella, Zidan pun mematikan sambungan telponnya. Ia menambah kecepatan mobilnya, ia sangat penasaran dengan. keadaan anak didiknya itu.


~


Zidan pun tiba di rumah sakit yang di maksud sahabatnya tadi, setelah memakirkan mobilnya ia langsung menuju lobi rumah sakit dan disana sudah ada Bella sedang menunggunya.


"Pak Zidan.." panggil Bella saat melihat Zidan yang baru datang, Zidan pun menghampiri Bella.


"Kamu sudah sampai, kok cepat?" tanya Zidan heran.


"Iya pak, tadi kebetulan saya sedang berada di sekitaran sini." jawab Bella. Zidan hanya menanggapinya dengan anggukan.


"Gimana ceritanya si pak, kok bisa Daniel bisa ada di sini?" tanya Bella.


"Saya juga tidak tau, makanya saya kesini. Karena sayang ingin tau pastinya." ujar Zidan. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ridho.


"Do, gue lupa nanya sama elu. Dia dikamar mana?" tanya Zidan.


....


"Ok, thanks" Zidan memutuskan sambungan telponnya sebelum Ridho menyautinya.


"Gimana pak?" tanya Bella.


"Ayo ikut saya!" Zidan berjalan menuju kamar Daniel.


~


Sore harinya seusai menyelesaikan semua pekerjaannya,Lisa.hendak pulanv. Namun, saat Lisa keluar dari pintu ruang utama boutique itu tiba - tiba suara ponsel miliknya berbunyi, ia segera meraih ponselnya yang tersimpan di dalam tas selempang miliknya.


"Ayah?" ucap Lisa saat melihat panggilan masuk dari ayah Andre. Lisa segera menerima panggilan itu dan mendekatkan ponselnya ke daun telinga nya.


"Hallo ayah?"


"Hallo nak. Sayang, maaf ayah tidak jadi pulang hari ini. Kemubgkinan ayah pulangnya besok pagi. Kamu dan suamimu tidak keberatankan tinggal semalam lagi di rumah ayah?" tanya ayah Andre.


"Tidak, ayah. Kami tidak keberatan kok, malahan kami senang bisa tidur di rumah ayah..."jawab Lisa.


"Bagaimana dengan Rose? Apa dia ada di rumah? Apa dia baik - baik saja? Apa dia merepotkanmu?..." begitu banyak pertanyaan yang di tanyakan oleh ayah Andre. Dia sangat merindukan putri bungsunya itu.


"Ehm, ti-tidak kol yah, Rose tidak merepotkan sama sekali. Dia juga baik - baik saja." jawab Lisa.


"Syukurlah,ayah takut dia akan merepotkan mu. Dimana dia sekarang nak? Tadi ayah menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif, ayah ingin bicara dengannya"tanya ayah Andre. Seketika Lisa bingung harus jawab apa. Karena sedari tadi dia juga tidak bisa menghubungi adiknya itu.


"Hallo, Lis. Kenapa kamu diam saja?" tanya ayah Andre.


"I-iya ayah. Lisa masih berada di boutiqur. Sepertinya Rose ada di rumah." jawab Lisa dengan sedikit gugup.


"Baiklah kalau begitu, nak. Kalau kamu sudah sampai di rumah, tolong suruh dia menghubungi ayah ya!" tutur ayah Andre.


"Baiklah, ayah. Bye..." ayah dan anak itu pun saling mengakhiri panggilan tersebut.


"Hi..."suara seorang laki - laki mengejutkannya.


~•••~


.


.


.


.


.


Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐


Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜