
Bella pergi ke rumah Lisa, karna tadi saat ia menelfon Dani, ia mengatakan kalau mereka semua sedang ngumpul di rumah Lisa.
"Gue harus ceritain ini semua ke kak Lisa, gue takut Ronal melakukan hal yang tidak - tidak untuk menjadikan Rose istrinya " ucap Rose.
"Benar gak sih ini rumahnya?"tanya Rose meyakikan dirinya.
"Gue telpon Dani aja deh, dari pada salah rumah kan malu." gumamnya. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Dani.
Tuuut… Tuuut…
"Hallo Dan… Elu dimana?" tanya Bella to the poin saat Dani menerima panggilannya.
…
"Gue udah di depan pagar, tapi gak tau ini be ar rumahnya atau nggak."
…
"Iya mending elu keluar deh biar gue gak puter - puter lagi." ucap Bella.
…
"Ok gue tunggu ya." Bella pun mematikan ponselnya.
Tak lama setelah Bella mematikan telponnya, Bella melihat Dani keluar dari pagar samping rumah yang ada di depannya.
"Tu kan salah." ucap Bella.
"Bella…" teriak Dani, Bella pun membunyikan klakson sebagai tanda kalau dia melihat Dani. Bella pun menjalankan mobilnya ke rumah Lisa.
Bella menghentikan mobilnya dan menurunkan kaca mobil. "Tu kan apa gue bilang, pasti salah... " ucap Bella kepada Dani.
"Elu nya aja yang bego, gue kan udah kirim alamat yang benar. Ayo masuk!!" ajak Dani, ia pun membukakan pintu pagar rumah Lisa.
"Malah ngatai gue bego…" gerutu Bella, ia menjalankan kembali mobilnya dan masuk kedalam pekarangan rumah Lisa.
~
Lisa memastikan kalau Zidan sudah benar - benar tidur, Ia menatap suaminya itu dalam diam.
"I love you, my husband" ucap Lisa kemudian ia mengecup dahi suaminya itu.
Lisa masuk ke kamar mandi, ia merasa sangat gerah karna drama yang terjadi pagi tadi benar - benar memuatnya lelah.Setelah membersihkan tubuhnya serta Lisa juga sudah mengganti pakaiannya.
Lisa merasa sangat lapar, ia baru ingat kalau pagi ini ia hanya memakan selembar Roti saja.
"Aku kebawa aja, nyari makanan. Zidan pasti juga laper banget." ucap Lisa. Ia pun berlalu pergi ke dapur.
Di dapur Lisa melihat seorang wanita asing yang sedang memasak di dapurnya.
"Anda siapa? Kenapa anda masak menggunakan dapurku?" tanya Lisa curiga.
"Maaf nyonya saya adalah pelayan yang di utus oleh nyonya besar untuk kemari." jawab wanita itu.
"Oo jadi kamu pelayan yang di maksud mama kemaren" tanya Lisa, wanita itu mengangguk.
"Siapa nama mu?" tanya Lisa.
"Saya mery nyonya" Mery mengulurkan tangannya, dan dengan senangbhati Lisa menjabat tangan itu.
"Saya Lisa, semoga bibi betah ya kerja disini." ucap Lisa .
"Apa nyonya membutuhkan sesuatu?" tanya Mery saat melihat Lisa sedang mencari sesuatu.
"Iya bi, aku lagi cari makanan. Apa bibi bisa menyiapkan makanan untuk ku dan Zidan? Kami melewatkan sarapan tadi pagi." ujar Lisa.
"Tentu bisa dong nyonya, tunggu sebentar ya, bibi siap kan dulu makanannya." bi Mery pun mulai menyiapkan makanan untuk dirinya dan Zidan.
Sembari menunggu makananya siap Lisa mengambil apel dan membawanya ke ruang keluarga. Di ruang keluarga Lisa melihat Bella, Dani dan Rose sedang duduk resehan dengan ekspresi tegang.
"Kalian kenapa?"tanya Lisa mendekat.
"Kak Lisa, gak ada apa - apa kok kak. Kita hanya lagi ngobrol saja." saut Rose sembari tersenyum kearah kakaknya.
"Apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari ku?" tanya Lisa curiga, saat ia melihat Dani sangat gugup.
"Hmm.... Tidak ada kak, tidak yang kami sembunyikan" ucap Rose lagi.
"Iya kan Bell, Dan" ucap Rose lagi.
"Iya kak, gak ada apa - apa kok." saut Bella.
"Bagus lah kalau gitu." ucap Lisa.
"Apa kalian sedah makan? Kakak sedang ingin makan, apa kalian mau ikut gabung?" ajak Lisa kepada mereka.
"Tidak kak, kita semua masih kenyang." jawab Bella.
"Ya sudah, kalian lajutkan lah ceritanya. Kakak mau makan dulu"pami Lisa dan berlalu pergi ke ruang makan.
Setelah memastikan bahwa Lisa benar - benar sudah pergi, Bella kembali melanjutkan ceritanya.
"Kita harus hati - hati dengan Ronal, kalau menurut gue nih ya, dia benar - benar bertekat ingin jafiin elu istrinya" ucap Bella.
"Terus gimana dong, gue gak mau nikah sama dia" ujat Rose.
"Dan gimana ini, gue gak mau Dan" rengek Rose
"Elu tenang aja, gue pastiin elu gak bakalan nikah sama dia" ucap Dani meyakinkan. Dani seperti memikirka sesuatu, dia memang tidak ingin jika sepupunya itu menikah dengan Ronal.
Karena menurutnya Ronal bukanlah pria yang baik, meskipun dia baru sekali bertemu dengan Ronal.
~
Ceklek
Lisa membuka pintu kamar dan masuk kedalamnya. Ia melihat keranjang dan tenyata Zidan masih nyaman dengan tidurnya.
"Mungkin dia memang membutuhkan, istirahan yang cukup." ucap Lisa, ia meletakkan nampan makan di atas meja samping tempat tidur.
"Hmm.... Lebih baik aku menghubungi Sindy, aku sudah lama sekali tidak ke boutique" ucao nya. Kemudian Lisa mengambil ponselnya dan membawanya ke balkon.
Sesampainya di balkon Lisa mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di sana. Lisa mencari nama kontak Sindy di ponselnya.
Tuuuut… Tuuuut…
"Hallo, Lisa…" teriak Sindy saat sambungan telponnya terhubung. Lisa nenjauhkan ponsel dari telingannya.
"Aduuh… Elu mau bikin gue budeg?" ucap Lisa menggosok telinganya.
"Sorry - sorry… Elu kemana aja sih, kok lama banget cutynya?"
"Iya, kemaren gue ngurus Rose yang masuk rumah sakit dan di tambah lagi. Daniel pacarnya Rose menggal dunia." seru Lisa.
"Daniel meninggal? Kok elu gak bilang ke gue sih "protes Sindy
"Gue lupa" jawab Lisa enteng.
"Dasar pikun…"
"Elu kapan ke boutiquenya sih? Ini pesanan design udah numpuk tau, " tanya Sindy.
"Kayanya untuk beberapa bulan ini, boutique gue pantau dari jauh aja deh Sin, "
"Lah kok gitu? elu kenapa emangnya? Elu jangan becanda gini dong Lis"
"Seriusan, Zidan gak bakalan ngizinin gue ke boutique, selama gue hamil." ujar Liaa.
"HAH… APA COBA ULANG LAGI!" teriak Sindy
"Ah… Elu ma, gak usah pake teriak juga. Sakit nih kuping gue." ucap Lisa kesal.
"Sorry… Gue kaget aja, "
"Iya gue lagi hamil…"
"Seriusan? Demi apa? Yeay akhirnya gue dapat kepoakan." ucap Sindy bahagia
"Selamat ya sayangnya aku, akhirnya happy ending juga." ucap Sindy.
"Makasih ya, gue sebenarnya mau cerita sama kalian, tapi ntar aja lah kalau kita lagi ngumpul biar ceritanya nikmat."
"Cerita apa, ah elu bikin gue panasaran aja tau gak" seru Sindy kesal.
"Bodoh, udah ah teponnya gue matiin dulu ya bye…"Lisa pun hendak mematikan ponselnya.
"LISA tunggu…"teriak Sindy
"Apa?" tanya Lisa, ia meletakkan kembali ponselnya ke telinga.
"Tadi ada yang mencarimu"
"Siapa?" tanya Lisa.
"Gak tau gue, katanya dia pacarnya adek elu…"
"Oo biarkan saja lah, gak penting juga" ucap Lisa. Lisa berbicara seperti itu karna dia tidak tau bagaimana keadaan antara Rose dan Ronal sekarang.
"Dia tadi nanyain alamat elu…"
"Terus elu kasih?" tanya Lisa.
"Iya" jawab Sindy.
"Hais,yaudalah. Udah kan gak ada yang lain lagi."
"Iya iya gak ada. Bye" Sindy pun menutup telponnya terlebih dahulu.
"Untuk apa Ronal meminta alamat ku?" pikir Lisa.
Lisa kembali ke kamar dan ternyata Zidan Sudah bangun dari tidurnya.
"Kamu telponan sama siapa?" tanya Zidan menatap Lisa.
"Sindy, aku tadi nanyain keadaan boutique aja" jawab Lisa. Ia mendekati Zidan, ia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang.
"Apa kau sudah merasa baikan?" tanya Lisa.
"Iya, aku lapar" ucap Zidan
"Ayo makan, tadi aku udah menyiapkannya untukmu." Lisa mengambil sepiring makanan dan memberikannya kepada Zidan.
"Suapi aku!! Aaaa" Zidan membuka mulutnya.
"Dasar manja" Lisa pun menyuapinya dengan senang hati.
Tok tok tok
Tiba - tiba seseorang mengetok pintu, Zidan dan Lisa menoleh kearah pintu.
"Tunggu aku buka pintu dulu." Lisa meletakkan piring kembali keatas meja.
"Mengganggu saja" ujar Zidan kesal.
~•••~