ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Siapa yang aku suka?


Setelah selesai menyiapkan sarapan, Lisa kembali ke kamar untuk membersihkan dirinya dan ingin membangunkan suaminya.


Ceklek.


Saat masuk ke dalam Lisa melihat Zidan berdiri di depan cermin sedang menata rambutnya. Lisa pun mendekati suaminya itu.


"Kau sudag bangun? aku baru saja mau membangunkanmu" ucap Lisa


"Hm" hanya itu jawaban dari Zidan yang di dengar Lisa.


"Dingin banget sih, ya sudahlah aku juga gak peduli" gumam Lisa, ia berjalan mendekati ranjang dan merapikannya.


Zidan melihat gerak gerik istrinya dari pantulan cermin.


"Kau tidak kerja?"tanya Zidan.


"Hm" Jawab Lisa.


Zidan melebarkan matany saat mendengar jawaban Lisa." Jawab lah yang benar! apa mulut mu itu tidak bisa berucap lagi" ucap Zidan kesal.


"Kau saja boleh, masa aku tidak" saut Lisa cuek.


"Kita itu berbeda, aku ini suamimu, pemimpinmu dan kau istri seorang istri harus menurut apa pun kata suami!" ucap Zidan berjalan mendekati Lisa.


Lisa menatap Zidan kesal." Ya terserah kau saja, aku ini memang tidak akan pernah menang melawanmu" ucap Lisa sembari menyusun bantal


"Turun lah terlebih dulu, aku mau mandi sebentar" imbuh Lisa.


"Mau ku mandikan?"tawar Zidan. Lisa menatap tajam suaminya itu. kemudian ia berlalu meninggalkan suaminya yabg menyebalkan itu.


~


Lima menit Zidan menunggu Lisa di meja makan. " Beginilah cewek, yang katanya sebentar tapi buktinya aku harus menunggunya sampai lumutan dan karatan seperti ini." ujar Zidan


"Apanya yang lumutan dan karatan" tanya Lisa tiba - tiba menyaut.


"Bukan apa - apa, ayo makan aku sudah kelaparan menunggumu" ucap Zidan


"Kau ini berlebihan sekali" Lisa mengambilkan makanan untuk Zidan.


"Makanlah yang banyak! hari ini kau melakukan banyak pekerjaan " Lisa mengulurkan makanan untuk suaminya itu


"Kau benar, hari ini jadwalku sangat padat sekali" saut Zidan menerima makanan yang di ulurkan oleh Lisa. Mereka pun makan dengan penuh hikmat.


"Zi…" panggil Lisa tiba - tiba.


"Apa?" jawab Zidan sembari menyendokkan makanan ke mulutnya.


"Bagaimana keadaan Daniel?" tanya nya


"masih seperti kemaren - kemaren."


"apa kau sudah memberitaukannya kepada Rose?"


"Belum, tapi secepatnya aku akan menyuruh Bella yang memberitaukannya. Aku takutnya nanti Rose tidak sempat bertemu dengannya"saut Zidan.


"Aku rasa juga lebih baik begitu."


"Cepatlah sedikit makannya, aku lagi buru - buru" perintah Zidan.


"Iya" Lisa mempercepat kunyahannya


~


Sebelum ke kampus, Zidan terlebih dahulu mengantarkan Lisa ke boutique.


"Nanti siang aku jemput, kita makan siang bersama dulu sebelum meeting." seru Zidan.


"Iya" saut Lisa membuka pintu mobil dan keluar dari mobil.


Lisa menatap kepergian mobil suaminya itu. "Entah apa yang akan terjadi, tapi perasaanku sungguh tak enak." gumam Lisa melangkah masuk kedalam boutique.


~


Setibanya di kampus Zidan langsung menuju ke ruangannya dan menyiapkan bahan ajarnya.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk!" Zidan menoleh kearah pintu melihat siapa yang masuk.


Ceklek


"Ada apa Bell?" tanya Zidan saat Bella datang menghampirinya.


"Apa nya yang gawat, kamu bicaralah yang jelas!" ucap Zidan.


"Daniel kritis pak, tadi mamanya Daniel menghubungi saya pak."


"Apa Rose sudah mengetahuinya?" tanya Zidan.


"Belum pak, saya belum memberitau nya."


"Beritaukan dia secepatnya, takutnya nanti Rose tidak sempat menemui Daniel. Kamu dengar sendirikan apa kata dokter yang menangani Daniel" tutur Zidan.


"Baiklah pak, saya akan beritau dia hari ini." Zidan menganggukkan kepalanya.


"Kembalilah ke kelas, sebentar lagi aku akan masuk!" perintah Zidan.


"Kalau begitu saya pergi dulu pak." pamit Bella. Bella pun berlalu pergi meninggalkan ruangan Zidan.


"Nanti saja aku pikirkan, sekarang aku akan melakukan pekerjaanku dulu, setalah itu nanti aku akan ajak Lisa ke rumah sakit.


~


Siang harinya, Zidan dan Lisa tengah bersiap - siap, untuk menemui Reyhan. Lisa yang memakai long dress berwarna hitam dan blazzer berwarna maroon, membuat perempuan yang sudah memiliki suami itu terlihat begitu anggun.


Ia melangkahkan kakinya mendekat ke cermin hendak merias diri, namun Zidan yang melihatnya segera melarangnya.


"Tidak usah berdandan! siapa yang mau kau goda di sana?" seru Zidan, merebut bedak dan lipstick yabg di pegang oleh Lisa dan meletakkannya di meja rias.


"Aku tidak berdandan, aku hnaya mau menggunakan bedak dan lipstick saja."jawab Lisa.


"Sama saja, yidak usah menggunakan lipstick dan besak! dan ikat rambutmu jangan di biarkan terurai seperti ini."perintah Zida mengambil ikat rambut dan memberikannya kepada Lisa.


"Sebenarnya, apa sih mau mu?" seru Lisa dengan kesal.


"Kau tidak dengar apa yang ku mau barusan? ikat rambutmu!" perintahnya kembali . Lisa berdecak kesal, ia menyuat ikat rambut yang di pegang oleh Zidan dan segera mengikat rambutnya yang panjangnya tersebut. Dan saat Zidan memunggunginya dan di sibukkan dengan memakai jas di tubuhnya.


Lisa mencuri - curi mengambil lipstick dan sedikit memoles lipstick itu di bibir tipisnya, karena wajahnya akan terlihat pucat jika tidak menggunakan pemerah bibir itu.


"Kau memakai lipstick?" tanya Zidan yang tiba - tiba menoleh dan memperhatikan warna bibir Lisa yang tampak berbeda.


"Tidak… Siapa yan memakai lipstick" bnatah Lisa


"Lalu itu, kenapa bibirmu bisa merah? Digigit serigala?" seru Zidan dengan kesal.


"Ini…" Lisa seketika melipat bibirnya.


"Ini apa?"


"Aku hanya memakai lipstick sedikit saja" ucap Lisa.


"Bibirku akan terkihat pucat jika tidak memakai lipstik" imbuhnya. Zidan seketika menarik beberapa lembar tissue dari atas meja.


"Hapus…" Zidan seketika menghapus lipstick yang menempel di bibir istrinya.


"Kau ini kenapa sih Zi? Tidak biasanya kau melarangku memakai bedak dan lipstick. Itu hal yang biasa aku lakukan, bukan?" protes Lisa.


"Kenapa hari ini kau jadi aneh seperti ini?" imbuhnya.


"Aku tidak suka, jika bertemu dengan Reyhan, tidak usah berdandan. walaupun hanya Lipstick dan bedak sekalipunl.


"Awas saja jika kau sampai berani genit dengannya." ancam Zidan


"Siapa yang genit? memangnya aku pernah genit dengan laki - laki lain? Dengan mu saja aku tidak genit, apa lagi dengan laki - laki lain. kau ini benar - benar sudah tidak waras"seru Lisa.


"Bisa saja kan, karna kau menyukai Reyhan, jadi kau genit dengannya. Kalian kan berteman sejak lama."


"Zi, aku tidak menyukainya, sudah berapa kali ku bilang? apa kau tidak juga mengerti?" bantah Lisa sembari mengeraskan suaranya


"Kalau kau tidak menyukainya, lantas siapa yang kau sukai?" tanya Zidan menatap istrinya itu. Lisa tiba - tiba bungkam, ia hanya diam saja, dan tidak menjawab pertanyaan suaminya itu.


"Kenapa kau hanya diam? siapa yang kau sukai?" Zidan memegang bahu Lisa dan memaksanya untuk berbicara. Namun, Lisa tetap tidak mau menjawab pertanyaan dari Zidan.


"Zi, bahu ku sakit!" Lisa mencoba meronta, Zidan seketika menjauhkan tangannya dari bahu Lisa.


"Awas saja jika kau berani macam - macam. Cepatlah? aku akan menunggumu di mobil.


Lisa terdiam dn memandangi gerak tubuh Zidan yang berlalu pergi meninggalkan kamar tersebut.


"Siapa yang aku sukai? Kenapa kau masih saja bertanya Zi" Kedua mata Lisa berkaca - kaca, memejamkan kedua matanya dan segera menyusul suaminya ke mobil.


~•••~