
"Rose kakak ipar lu kenapa tu?" tanya Bella yang heran melihat Zidan marah - marah. Tidak biasanya dosen tampan mereka itu suka marah - marah. Ya meskipun, selama ini Zidan tidak juga ramah kepada mereka, tapi hari ini Zidan sangat berbeda.
"Ya mana gw tau" jawab Rose.
"Itu yang dibelakang kenapa bisik - bisik" tanya Zidan yang melihat Rose dan Bella tidak fokus dengan materinya.
"Ini pak, sih Bella nanya tentang soal nomor 3" jawab Rose yang mengorbankan sahabatnya.
Bella yang mendengar namanya jadi tumbal pun membulatkan matanya kaget.
"Elu.... Apa - apaan sih Rose, tega banget lu " gumam Bella pelan, dia sangat kesal dengan Rose yang tega menjadikannya kambing hitam
"Sorry" ucap Rose pelan.
"Bella, kamu kedepan!!" perintah Zidan.
"A-apa pak, gak usah pak saya sudah ngerti kok" ucap Bella gugup.
"Oh jadi kamu sudah mengerti, baguslah. Sekarang coba kamu jelaskan didepan soal no 3!!" perintah Zidan.
"Mati gw, apa yang harus gw jelaskan. Gw aja kagak paham" pikir Bella ketakutan. Bella berdiri dari duduknya dan pergi ke depan.
"Ini" Zidan memberikan spidol kepada Bella. Bella mengambil spidol itu dengan tangan gemetar, tak terbayang olehnya hukuman apa yang akan ia terima nantinya.
"Ayo kerjakan, tunggu apa lagi?" tanya Zidan.
"Hmm... itu... anu pak" Bella gugup
"Anu anu apaan?" ucap Zidan
"Se- sebenarnya saya belum mengerti pak" ucap Bella menundukkan kepalanya. Zidan menatap Bella sangar, Bella yang melihat tatapan Zidan membuat dia menjadi tambah takut.
"Lalu kenapa kamu bilang sudah mengerti tadi?" tanya Zidan.
"Itu... Itu saya disuruh sama Rose pak" ucap Bella sengaja melibatkan Rose. Dia tidak terima kalau hanya dirinya yang akan dihukum.
"Ah sial" gerutu Rose membulatkan matanya saat mendengar namanya di ikut sertakan oleh Bella.
"Apa benar itu Rose?" tanya Zidan.
"Tidak pak, tidak ada saya bilang gitu" elak Rose. Zidan melihat kearah Bella.
"Ada pak saya tidak bohong"ucap Bella menyakinkan.
"Hm...Rose kedepan, pusing saya jadinya" ucap Zidan.
"Tapi pak..."
"Rose, kedepan!!" perintah Zidan. Dengan terpaksa Rose akhirnya maju kedepan. Rose berdiri di samping Bella.
" Sekarang kalian berdua, pergi kekantin dan belikan saya makanan. Saat saya sampai diruang nanti, makanannya harus sudah tersaji dimeja" ucap Zidan.
"A-apa pak?" tanya Rose memastikan hukumannya.
" Apa ucapan saya kurang jelas?" tanya Zidan.
"Jelas pak ,sangat jelas" sahut Bella cepat.
" Kalau begitu kami pamit dulu pak" ucap Bella menarik tangan Rose keluar.
Diperjalanan menuju kantin Bella tertawa puas karena dia berhasil membalas Rose.
"Puas lu sekarang?" ucap Rose kesel.
"Puas dong, ih tapi seru tau bisa keluar gini" seru Bella.
"Seru apaan, gw lagi malas kemana - kemana" ujar Rose.
"Lah kenapa?" tanya Bella. Rose menjawabnya dengan gelengan.
"Kenapa pak Zidan ngasih kita hukuman ringan kayak gini ya?"tanya Bella bingung karena biasa nya Zidan kalai memberi hukuman selalu yang susah dan berat misalnya lari keliling kampus sebanyak 50 kali, atau kalau nggak membersihkan semua toilet yang ada di kampus dan masih banyak lagi.
"Ya mana gw tau, mungkin dia laper kali" ucap Rose asal jawab.
" Apa karena lu udah jadi adik ipar nya?" tanya Bella.
"Mana ada yang kaya gitu" elak Rose. Bella mengangguk - anggukkan kepalanya.
"Ooo gw tau, atau jangan - jangan kakak lu gak kasih pak Zidan makan" ujar Bella.
"Sembarangan aja lu kalau ngomong" Rose menjitak kepala Bella.
"Hehe"Bella cengengesan.
"Kita belikan apa nih buat pak Zidan?" tanya Bella.
"Gak tau, biasanya paka Zidan makan apa ya?" tanya Rose.
"Kita tanya sama ibu kantin aja, biasanya pak Zidan pesan apa?" saran Bella.
Mereka pun bertanya ke bu kantin dan memesan sesuai perkataan bunkantin dan dengan ceoat mereka bawa ke ruangan Zidan.
~
Tok...Tok...
"Masuk" ucap Lisa
Ceklek
"Kenapa lu Lis?" tanya Dini datang menghampiri Lisa.
"Eh Din, gak ada. Gw lagi badmood aja" jawab Lisa.
"Kenapa lagi sih Lis? Lagi berantem ya sama suami lu?" tanya Dini.
"Nggak, kita nggak berantem kok Din" jawb Lisa.
"Lah terus kenapa?"
"Tadi pagi gw cuma nanya kenapa dia nerima pernikahan ini? itu doang Din" ucap Lisa
"Aduh Lisa, kenapa masih lu tanyain lagi sih. Sekarang tu yang harus lu lakuin itu adalah nerima dia sebagai suami elu" ucap Dini.
"Tapi gw masih penasaran Din" ujar Lisa.
"Gw ngerti, tapi pasti ada saatnya di ceritain alasan kenapa dia nerima perjodohan ini" nasehat Dini.
"Jadi gw salah?" tanya Lisa
"Bukan salah tapi gak tepat aja waktunya." ucap Dini.
"Ooo jadi ini yang membuat lu badmood seharian ini Lis" sabut Sindy yang tiba - tiba masuk.
"Lu nyambar aja markonah" gurau Dini.
"Hehe sorry ya Ndy, Lu jadi korbanya" Lisa menyunggingkan senyum termanisnya.
"Eh lu tau nggak Din?" tanya Sindy.
" Nggak tau" jawab Sindy.
"Ih gw belum kelar ngomongnya"ucap Sindy cemberut.
"Hehehe" Dini dan Lisa terkekeh melihat Sindy cemberut.
"Iya iya apa?" Bujuk Dini.
"Bodo"teriak Sindy berlalu keluar dari ruangan Lisa.
"Ya ngambek" ujar Dini dan Lisa bebarengan.
~
Malam harinya Lisa pulang lebih dulu dari Zidan, dia memasakakan Zidan makanan kesukaan nya. Malam ini Lisa berencana untuk berbaikan dengan Zidan. Setelah merenungkan kata - kata teman - temannya tadi.
"Akhirnya selesai juga,sekarang tinggal gw mandi setelah itu nunggu Zidan pulang" ucap Lisa semangat.
Lisa pergi ke kamar untuk membersihkam diri. Setelah dia selesai membersihkan tubuh, Lisa pun menyiapkan baju ganti buat Zidan.
"Udah jam segini dia belum pulang juga?" Lisa Melihat jam dinding di kamarnya.
"Mending nunggunya sambil nonton aja kali ya" ucap Lisa pergi ke ruang keluarga untuk menonton tv.
Tring... Satu pesan masuk ke ponsel Lisa. Lisa meraih ponselnya yang berada di atas meja didepannya.
From Reyhan: Hai Lisa.
Itulah isi pesan dari Reyhan, Lisa dengan semangat membalas pesan Reyhan.
To Reyhan: Apa rey?
From Reyhan : Lu lagi apa?
To Reyhan : Lagi nonton tv, kenapa memangnya
From Reyhan : Nonton di bioskop aja yuk Lis
Lisa hanya menatap isi pesan dari Reyhan, dia ragu untuk menjawabnya.
"Kenapa gak di balas?"
~•••~
Hai semuanya makasih ya sudah baca karya aku.
Dan jangan lupa like, komen dan kalau suka fav nya juga ya
Tunggu kelanjutannya ya.