
Di luar ruangan persalinan, Lilis dan yang lainnya bisa mendengar suara tangisan cucu pertamanya yang serasa menggetarkan jantungnya hingga air mata wanita paruh baya itu lolos begitu saja dari kedua matanya, rasa syukur ia ucapkan hingga berulang kali.
"Pah, cucu kita sudah lahir" ucap Lilis memeluk suaminya. Dika pun membalas pelukan sang istri dengan perasaan yang gembira.
"Selamat Andre, kita sudah resmi jadi seorang kakek" ujar Dika, merangkul bahu sahabatnya itu. Andre pun tersenyum senang, di sudut mata Andre telihat ada genangan air mata yang sedari tadi dutahannya.
~
Saat dokter Dinta dan perawat melakukan tindakan selanjutnya kepada Lisa, mereka menyuruh Zidam untuk menunggu di luar ruangan. laki - laki itu berjalan dengan langkah yang gemetar menemui keluarganya yang masih berdiri penuh penantian saat pintu persalinan itu ia buka lebar.
"Zidan, bagaimana Lisa dan cucu mama? Mereka berdua baik - baik sajakan?" Lilis menyambar kedua tangan putranya dan melontarkan pertanyaa dengan tidak sabaran.
"Zi, bagaimana keadaan anak dan cucu ayaj, mereka baik - baik saja kan?" semua orang melontarkan pertanyaan yang hampir sama kepada Zidan.
Sementara Zidan, ia masih berusaha mengatur napasnya, setelah jantungnya di buat naik turun di ruang persalinan tadi.
Zidan mengangguk, kedua matanya berkaca - kaca. "Iya, mereka berdua baik - baik saja"
Zidan manatap lekat wajah mamanya. Rasa kepanikan Lilis terlihat jelas saat garis - garis tipis itu menggurat di wajah ibu yang telah melahirkannya itu.
Zidan tiba - tiba menghambur ke pelukan mamanya, ia mendekap tubuh mamanya dan memberikan ciuman berulang kali di pipi mamanya dengan penuh penyesalan.
"Mama, maafkan aku" ucap Zidan dengan suara yang bergetar. Ia menenggelamkan wajahnya di bahu Lilis. Seakan tak ingin ada yang melihat bahwa laki - laki yang baru saja resmi jadi seorabg ayah ini sedang menangis.
"Kamu kenapa? Kenapa menangis, nak?" tanya Likis heran.
"Di dalam tadi sungguh mengerikan, Zi baru tau ternyata sesulit itu wanita melahirkan. Maafkan aku mah, maafkan atas semua kesalahan yag sudah Zi perbuat terhadao mama" ucapnya dengan suara yang parau.
Drama ibu dan anak itu membuat siapapun yang melihatnya akan hanyut dalam suasana.
"Ternyata pak Zidan yang serem ini bisa nangis juga" gumam Bella dalam hati, ia pun mengusap sudut matanya yang sedikit berair karena momen ibu dan anak itu.
Dani yang sedari tadi memperhatikan Bella pun, tiba - tiba meraih tangan Bella dan menggenggamnya erat. Bella menoleh dan melihat kearah Dani.
"Kau berhutang jawaban, kepadaku" bisik Dani di telinga Bella. Dengan kesal Bella mencubit pinggang Dani.
"Ah, sakit! " Keluh Dani meanahan serangan Bella.
"Makanya kalau ngomong itu lihat situasi" ucap Bella.
"Aku...."
"Sudah diam!! Hal itu kita bahas nanti saja" potong Bella saat Dani hendak memprotes perkataanya. Dani pun hanya busa bungkam mendengar ucapan wanita yang di cintainya itu.
"Mama selalu memaafkanmu nak" ucap Lilis seraya mengusap - usap punggung Zidan.
~
Dokter Sinta terlihat berjalan menghampiri Zidan dan keluarganya yang lain. Ia terlihat sedang menggendong seorang bayi mungil yang sudah di pastikan itu adalah anak Lisa dan juga Zidan.
Dokter Sinta memberikan bayi mungil itu kepada Zidan.
"Tuan Zidan, ini anak anda. Dia perempuan. Selamat ya ." Dokter Sinta menyerahkan bayi yang beberapa menit lahir itu kepada ayahnya yang masih menatap dengan penuh ketidak percayaan.
Zidan menoleh ke arah mamanya yang berada fi sampingnya. "Mama, benarkah ini anakku?"
"Iya itu anakmu, nak." Lilis mengusap - usap bahu anaknya iti seraya tersenyum hingga air matanya kembali menetes.
Zidan dengan perlahan mengambil anaknya dari tangan Sinta. Ia untuk pertama kalinya memberikan ciumannya kepada anaknya itu, sungguh ia masih belum bisa percaya bahwa dirinya sudah menjadi seorang ayah
"Zi, lihatlah dia mirip sekali dengan mu.." seru Lilis memandang cucunya itu. Semua orang yang ada di situ pun memperhatikan anak yang ada di gendong Zidan itu.
"Tentu saja dia harus mirip dengan ku, kan aku papanya yang tampan" seru Zidan penuh percaya diri. Ia berbicara dengan pelan, ia berusahan mengatur volume suaranya agar anaknya tidak terkejut karna suaranya.
Semua orang pun menggelengkan kepalanya melihat kenarsisan papa muda itu.
~
Zidan membawa putrinya itu masuk ke dalam ruang persalinan untuk menemui Lisa yang berada di dalam sendirian. Dengan langkah yang oenuh dengan hati - hati, ia pergi menghampiri Lisa yang sedang duduk bersamdar di atas bangkar rumah sakit.
Seulas senyuman di tunjukan oleh Lisa untuk menyambut suami dan anaknya itu.
"Sayabg. ini anak kita: Zidan mengalihkan bayi mungil itu kedalam gendongan Lisa. Lisa pun menerima bayinya dengan baik. Lisa menatap bayi yang ada dalam gendongannya dengan haru, kedua suut matanya tergenangi air mata.
"Dia mirip sekali denganmu."puji Lisa seraya memberikan ciuman pelan di kedua pipi putrinya itu.
"Tentu saja mirip denganku, jangan sampai dia mirip dengan Reyhan!!" seru Zidan
"Kau ini selalu saja!" cebik Lisa.
"Tafi itu sungguh menakutkan, aku tahu " Zidan menatap lekat wajah pucat Lisa yang di kedua matanya terlihat kantung hitam, lalu ia menghadiakan semua ciuman lembut yang cukup lama di puncak kepala istribya tersebut.
"Terima kasih banyak, sayang." ucapnya dengan suara berat.
"Kau sudah taukan, nak. Bagaimana perjuangan seorang istri melahirkan." Saut Lilis yang tiba - tiba datang menghampiri mereka.
"Mama...." Zidan dan Lisa tersenyum secara bersamaan.
"Iya a, Zi tau, bagaimana tadi Lisa melahirkan dan itu benar - benar menyeramkan" ujar Zidan dengan tubuh yang sedikit bergetar, ia masih terngiang - ngiang bagaimana teriakan istrinya itu menahan rasa sakit.
"Sangat menyakitkan, ingat lah selalu perjuangan istrimu ketika ia melahirkan anakmu. Jangan pernah kamu sia - siakan atau kau menyakitinya. Ia sudah rela mengorbankan nyawanya, hanya untuk melahirkan keturunanmu" tutur mama Lilis pelan.
"Mama tenang saja, aku tidak akan pernah meninggalkannya." Zidan memeluk Lisa dan memberi ciuman diseluruh wajah Lis dan terakhir ia mendaratkan ciumannya di puncak kepala Lisa. Lilis tersenyum bahagia melihat anaknya yang sedang berbahagia itu.
"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk anak kalian?"tanya Lilis.
"Sudah mah, aku sudah menyiapkan sebuah nama." jawab Lisa, Zidan menoleh kearah Lisa.
"Aku mau memberinya nama GEA PUTRI PRATAMA." ucap Lisa. menatap mertua dan suaminya.
"Nama yabg bagus, aku menyukainya." balas Zidan.
"Iya mama juga menyukai nama itu" saut Lilis sembari memberi ciuman di pipi cucunya itu.
~•••~