ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Terlihat lebih dewasa


Setelah kepergian Ridho , Zidan pergi menutup pintu dan tak lupa, ia juga mengunci pintu ruangannya itu. Lalu ia memasukan tangannya ke dalam saku celananya sembari berjalan menghampiri istrinya.


"Kenapa kau tersenyum gaje seperti itu?" tanya Lisa merasa aneh dengan ekspresi suaminya.


"Gaje gimana? orang ganteng gini malah di bilang gaje" protes Zidan, ia meraih tangan Lisa, dan membawanya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Lisa hanya menurut saja dengan suaminya itu, karena dia sudah terlalu lelah untuk berdebat.


"Zi, kenapa kau mengajakku bertemu dengan temanmu itu?" tanya Lisa, sembari menjauhkan tangan suaminya yang mulai nakal di pinggangnya.


"Kenapa memangnya? apa kau keberatan?" tanya Zidan menatap istrinya itu.


"Iya, aku sangat malas jika harus bertemu dengan temanmu itu." pungkas Lisa.


"Kenapa kau tidak menyukainya, apa dia punya salah kepada mu?"tanya Zidan heran dengan sikap istrinya itu yang tidak menyukai sahabatnya.


"Tidak ada"


"Lalu kenapa kau tidak menyukainya?" tanya Zidan, merebahkan kepalanya di paha Lisa. Lisa sangat kaget dengan sikap Zidan.


"Duduk lah!, nanti dilihat orang bagaimana?"


"Siapa yang akan melihatnya, disini cuma ada kita berdua. Jadi untuk apa kau khawatir seperti itu?" tanya Zidan.


"Ya, mana tau ada pegawaimu yang masuk"


"Tidak akan ada, pintunya sudah aku kunci"Lisa terdiam mendengarnya.


"Sekarang apalagi?" tanya Zidan memperhatikan wajah istrinya dari bawah.


"Lisa..."panggilnya. Lisa pun melihat kebawah, ia menatap suaminya itu.


"Apa?"


"Tidak ada, aku hanya ingin memanggilmu." ujar Zidan tersenyum


"Dasar, gak jelas" sungut Lisa. Zidan tersenyum mendengar perkataan istrinya itu.


Tok...Tok... Tok...


"Zi, ada yang datang."


"Biarkan saja, aku malas bergerak" seru Zidan.


"Minggirlah! biar aku yang buka pintunya" seru Lisa.


"Biarkan saja."


"Kau ini gimana, kalau itu penting bagaimana?" ujar Lisa.Tanpa memperdulikan suaminya yang masih berbaring di pahanya itu,Lisa beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu.


"Dasar tak berperasaan" sungut Zidan.Ia pun duduk dan memperhatikan gerak gerik Lisa yang sedang membuka pintu.


Ceklek. Lisa membuka pintu, saat pintu terbuka dia melihat seorang kurir makanan sedang berdiri sembari menenteng makanan pesanan Zidan tadi.


"Nona, ini pesanan atas nama Zidan."Kurir itu menyerahkan paper bag yang berisi makanan itu kepada Lisa.


"Iya, makasih." Lisa menerima paper bag itu kemudian ia menutup kembali pintu ruangan suaminya itu.


"Kunci!" seru Zidan. Lisa pun mengunci pintu itu dan berjalan menghampiri suaminya yang duduk di sofa.


"Ini makanlah, katanya kau lapar" Lisa menata makanan di atas meja.


"Suapi aku"pinta Zidan


"Jangan manja, ingat umur?" seru Lisa menyerahkan sekotak makanan kepada Zidan.


Zidan hanya diam menatap Lisa, kemudian ia membuka mulutnya. Memberi kode supaya ia di suapi oleh istrinya itu.


"Yaudah, gak usah makan" Lisa meletakan makanan yang di pegangnya tadi kembali keatas meja.


"Ya sudah, biarkan saja aku sakit. Kau kan sangat suka melihatku menderita." ujar Zidan cemberut.


"Kalau aku sakit, terus mati..." Lisa meraih salah satu makanan yang ada di atas meja, ia menyumbat mulut suaminya dengan makanan itu.


"Banyak bicara"Zidan mengunyah makanannya sembari tersenyum melihat istrinya.


"Aku mau yang itu" Zidan menunjuk salah satu makanan. Lisa meraih makanan yang di makasud oleh Zidan dan menyuapkannya kedalam mulut suaminya itu.


"Kau tidak makan?" tanya Zidan, dia tidak memakan satu pun makan yang ia pesan.


"Aku tidak selera."


"Bukannya itu yang kau ingin kan, biarkan saja aku kelaparan biar kau senang" ujar Lisa.


"Makanlah kau! kenapa kau jadi suka sekali marah - marah?" Zidan menyuapkan sesendok penuh makanan kedalam mulut Lisa.


"Jangan, banyak - banyak kau kira aku apaan makan sebanyak itu" protes Lisa, Zidan hanya menanggapi ocehan istrinya dengan senyuman.


~


Setelah acara suap - suapannya selesai Lisa pun membereskan tempat bekas makannya dengan Zidan. ia memungut semua sampah - sampah makanan mereka.


"Biarkan saja, nanti ada OB yang akan membersihkannya.


"Tidak apa - apa. lagian ini cuma tak seberapa.


"Terserah kau saja, aku mau bekerja dulu sebentar. Kau tunggulah disini!" perintah Zidan. Ia pun beranjak berdiri dan melangkah menuju ke meja kerjanya.


Lisa pun berdiri membuang sampah ke tempat sampah. Kemudian ia pun kembali ke sofa dan mengambil tas miliknya.


"Mau kemana?" tanya Zidan saat melihat Lisa hendak menyandang tasnya.


"Mau kembali ke boutique"


"Ngapain, disini aja, lagian ini juga sudah sore dan sebentar lagi waktunya pulang. Nanggung kalau kau pulang. Nanti saja kau pulang bersamaku.


"Tidak mau, aku sedang banyak pekerjaan. Lagi pula aku tidak bisa meninggalkan boutique." seru Lisa.


"Kan ada pegawai, gunanya kau merekrut pegawai untuk apa?


Suruh saja mereka semua mengerjakan pekerjaanmu!"


"Mereka tidak ada yang bisa"


"Kau bercanda? Untuk apa kau mempekerjakan mereka, jika mereka tidak bisa bekerja? Pecat saja mereka semua!" perintah Zidan


"Enak saja jika bicara!" saut Lisa.


"Sudah, duduk dan diamlah! Jangan berisik! Aku mau bekerja!"


Lisa seketika diam dan mendudukkan kembali tubuhnya di sofa. Sementara Zidan ia mulai menyalakan komputer dan laptop miliknya dan mulai melakukan rutinitas pekerjaannya. Beberapa karyawan keluar masuk ke dalam ruangan itu, untuk meminta tanda tangan dan persetujuan dari Zidan.


Zidan tampak begitu berbeda saat bekerja hingga membuat Lisa sedari tadi tak henti memperhatikan suaminya dari sofa tempat duduknya. "Aku baru pertama kali melihat dia bekerja, dia terlihat sangat berbeda dari biasanya. Dia terlihat lebih dewasa seperti bukan Zidan yang ku kenal" gumam Lisa pelan.


"Kenapa memperhatikanku? Kau baru sadar ya,kalau suamimu ini tampan"


Suara Zidan membut kedua mata Lisa membulat penuh. Kedua matanya fokus ke komputer,namun suaranya tertuju kepada istrinya itu.


"Kenapa dia bisa tau?" gumam Lisa dalam hati.


"Siapa yang sedang memperhatikanmu? Percaya diri sekali anda!" bantah Lisa, mengalihkan pandangannya dan melipat kedu tanganya di atas perut.


"Kau pikir aku tidak melihatnya?" Zidan menoleh, ia beranjak berdiri dan membawa komputernya meninggalkan tempat duduknya dan mendekati Lisa.


" Kau kan sedari tadi bekerj, bagaimana mungkin melihatku" seru Lisa. Zidan seketika mendudukkan tubuhnya di samping istrinya itu.


"Lihatlah!" Zidan menunjukkan rekaman CCTV di layar laptopnya yang menampakkan dirinya dan Lisa sedang duduk bersama.


"Ba - bagaimana bisa?" tanya Lisa. Jari Zidan menunjuk ke arah kamera CCTV yang melekat di ujung sana, membuat Lisa mengikuti gerak jari tangan suaminya itu mengarah.


"Sialan, berarti dari tadi dia memperhatikanku dari laptopnya!" umpat Lisa dalam hati.


"Masih mau mengelak tidak memperhatikanku?" tanyanya diiringi dengan senyuman meledek.


~•••~


.


.


.


.


.


Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐


Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜