
Zidan melepaskan cengkramannya di lengan Putri kemudian tanpa banyak bicara
Plak
Zidan menampar pipi Putri tepat di sebelah mana Putri menampar istrinya tadi.
"Aku tidak bisa menolerirkan jika itu berhungan dengan Istriku. Pergi dari sini!!" perintah Zidan.
Putri menatap Zidan dengan tatapan yang begitu sakit hati. Tanpa berkata ia pun berlalu pergi dari sana.
"Kuharap, tidak akan pernah bertemu lagi dengan kau!!" teriak Zidan.
Lisa menghampiri suaminya dan mencoba meredamkan amarahnya.
"Sayang sudah ya"Lisa meraih tangan suaminya dan menggenggamnya.
Zidan menoleh kearah Lisa dan menatapnya." Sejak kapan kalian saling bertemu seperti ini?"tanya Zidan.
"Sebelum tidak pernah, setelah kian lama ini pertama kalinya aku ketemu dengan dia lagi." jawab Lisa sembari mengiringi Zidan untuk masuk kedalam ruangannya.
"Ayo kita duduk duku" ujarnya. Zidan hanya menurut saja dengan perkataan istri nya itu.
"Duduklah dulu!" ucap nya. Setelah menyuruh suaminya untuk duduk, lalu Lisa pergi keluar menemui Sindy.
"Sin, tolong suruh OB untuk membuatkan teh hijau untuk Zidan ya." suruhnya.
"Lis, elu gak apa - apa?" tanya Sindy khawatir saat melihat bekas tamparan di pipi sahabatnya itu.
"Iya kau gak apa - apa kok."jawab Lisa.
"Yaudah, cepat ya aku tunggu di ruangan." serunya, kemudian berlalu pergi masuk ke dalam ruangannya kembali, Lisa juga tidak lupa untuk menutup pintunya.
Ia berjalan menghampiri suaminya yang sedang duduk sembari memperhatikannya.
"Kenapa lihat aku kaya gitu?" tanya Lisa seraya mendudukkan tubuhnya di samping Zidan.
"Apa masih sakit?" tanya Zidan memperhatikan pipi Lisa yang memerah bekas tamparan Putri tadi.
"Sakit banget, rasanya nyutnyutan." jawab Lisa tersenyum.
"Katanya sakit tapi malah tersenyum, dasar aneh" sungut Zidan.
"Sini, coba aku lihat!" Zidan mencoba melihat pipi istrinya yang terlihat sedikit membengkak itu.
Zidan beranjak hendak berdiri, namun di tahan oleh Lisa.
"Mau kemana?" tanya Lisa
"Mau cari OB, nyuruh mereka bawakan kompresan." jawab Zidan.
"Tidak usah, sebentar lagi mereka juga ke sini. Tadi aku sudah menyuruhnya untuk membawahkan teh hijau untukmu. Jadi tunggu saja disini." ucap Lisa
"Baiklah, sini aku bantu tiup - tiup" ucap Zidan.
"Tidak perlu, kamu kira aku ini anak kecil apa pake tiup - tiup segala" tolak Lisa.
"Ini, nih istri yang tidak pernah nurut sama suami" seru Zidan, Lisa menatap Zidan sebel.
"Iya deh iya, nah gini aja biat nyaman" balas Lisa, ia membaringkan kepalanya di pangkuan Zidan.
Zidan tersenyum melihat tingkah istrinya yang selalu terlihat menggemaskan di matanya.
"Aku tiup ya.." ucap Zidan.
Cup... Cup...
Zidan mengecup Lisa dua kali dan untuk yang ke tiga kalinya Lisa menahan bibir Zidan.
"Kan curang, katanya mau niup, ini apaan?" protes Lisa.
"Hahaha... Yang saah siapa? sudah jelas yang sakit pipi eh malah di kasih bibir" balas Zidan tersenyum.
"Hais... Kamu.."
Tok... Tok...
Lisa yang hendak protes tiba - tiba terhenti karna suara seseorang mengetuk pintu ruangannya.
"Masuk" saut Lisa, ia pun membenarkan duduknya.
"Maaf nona, saya mengganggu" ucap OB itu.
"Iya tidak apa - apa, masuk aja"suruh Lisa. Ob itu pun masuk dan menyajikan dua gelas teh hijau dan dia juga meletakkan sebuah ice bag.
"Silahkan di minum tuan, nona." ucap OB itu.
"Itu apa, air panas atau es?" tanya Zidan.
"Itu Es batu tuan" jawab OB.
"Baiklah, terima kasih. Kamu boleh keluar!!" suruh Zidan.
"Sini tiduran lagi!" suruh Zidan menepuk pahanya, Lisa pun hanya menurut saja dengan perkataan suaminya.
Zidan mengambil ice bag itu kemudian mulai menempelkannya dengan pelan di pipi Lisa.
"Nyaman sekali"ucap Lisa. Zidan tersenyum mendengarnya.
"Maaf." ucap Zidan. Lisa melirik kearah suaminya saat mendengar perminta maafan yang keluar dari mulut sang suami.
"Untuk apa minta maaf, kamu kan gak salah" seru Lisa.
"Maaf aku tidak bisa melindungi dan menjagamu dengan baik."ujarnya. Lisa merasakan ada tetesan air yang menimpa wajahnya.
Ia menoleh kearah Zidan dan melihat dengan jelas kalau suaminya itu sedang menangis.
"Hey, kenapa nangis?" tanya Lisa yang menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi Zidan.
"Aku merasa gagal menjagamu...."
"Hust hust... Sudah, sudah ini semua bukan salah kamu"
"Kamu sudah menjaga dan melindungiku dengan sangaaat baik selama ini" ucap Lisa sembari menghapus air mata Zidan.
"Sudah jangan menangis lagi, " ucap nya lagi.
"Tapi.."
Cup
Lisa mencium suaminya yang hendak nyalahkan dirinya sendiri. Zidan terdiam mendapat serangan mendadak dari istrinya itu.
"Udah mulai nakal ya kamu" ucapnya tersenyum.
"Gimana gak nakal, orang di latih mulu biar nakal" jawab Lisa tersenyum. Zidan tersenyum mendengarnya, lalu ia menarik tubuh istrinya itu kedalam dekapannya.
~
Sementara di rumah Lisa terlihat sedikit ke bising karna suara musik yang berasal dari kamar Dani.
"Dani kamu dancenya yang benar dong, ini waktunya udah mepet banget loh" ujar Rose yang sedang melatih Dani untuk dance.
"Ini tu udah benar, au ah capek gue" jawab Dani.
Rose pun mematikan musiknya , dan menghampiri sepupunya itu.
"Elu gimana sih, kok makin hari kesini makin gak jelas aja gerakannya. Kemaren - kemaren udah bagus loh gerakkannya tu" ujar Rose.
"Gak tau juga, perasaan gue udah lakuin gerakan yang sama kaya yang kemaren." balas Dani.
"Mana ada, ini tu jauh beda. Kalau kaya gini, alamat gatot semua nanti" seru Rose. Dani mengusap wajahnya frustasi.
"Elu gugup ya?" tanya Rose memperhatikan sepupunya itu.
"Banget" jawab Dani.
"Pantesan, kalau kaya gini elu bisa hancurin semua rencana elu sendiri." ucap Rose
"Terus mau gimana lagi, gue bener - benar tidak bisa fokus" keluh Dani.
Rose terdiam sejenak untuk memikirkan solusi yang bisa membantu Dani.
"Gimana kalau elu latihannya di teras depan aja" saran Rose.
"Gila elu ya, udah jelas gue grogi" balas nya.
"Maka dari itu, biar elu terlatih dance depan orang banyak." seru Rose, Dani tidak merespon ia hanyak diam saja.
"Udah ah kelamaan mikir" Rose menarik tangan Dani dan membawanya ke halaman depan.
Di depan Rose bertemu dengan tukang kebun, ia menyuruh tukang kebun itu untuk mengumpulkan semua pekerja yang ada di rumah ini.
Lilis yang mendengar ada keributan di halaman depan pun ikut menghampirinya.
"Ada apa ini Rose?" tanya Lilis.
"Mah, ayo sini gabung, kita lihat Dani latihan dance" seru Rose
"Kamu bisa dance Dan?" tanya Lilis.
"Baru belajar tan." jawabnya. Lilis pun dengan semangat duduk di kursi yang ada di sana.
Rose melihat sudah banyak orang yang terkumpul dan ia tersenyum melihat kearah Dani yang tampak pucat.
"Semangat" seru Rose.
~•••~
Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.
Terimah kasih💜