
Hay semua, maaf aru up.
Jangan bosan bosan ya nunggu upnya😁😉
Happy reading
*****
Zidan meletakkan kembali kartu kredit miliknya ke dalam dompet dan segera
mengikuti Lisa masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Setibanya di dapur Lisa membuka kulkas dan melihat bahan apa saja yang tersedia. Setelah melihat bahan baku Lisa menutup kembali pintu kulkas itu, lalu ia berjalan menghampiri suaminya yang sedang duduk di meja makan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Lisa.
Zidan menoleh melihat Lisa heran. "Tumben nanya? apa saja lah yang penting cepat! Aku udah laper banget soalnya." seru Zidan. Lisa tampak berpikir sejenak kemudian tanpa berucap sepata kata pun ia pergi berlalu mendekati kulkas.
Zidan yang sudah terbiasa dengan sikap istrinya itu pun hanya diam. Ia memperhatikan gerak gerik Lisa yang sedang memasak makan malam untuk mereka berdua.
Zidan beranjak berdiri dan melangkah nendekati istrinya. "Apa ada yang bisa ku bantu?" tawar Zidan, berdiri di samping istrinya.
Lisa menoleh dan meletakkan pisau yang sedang di pegangnya. Ia membalikkan tubuhnya dan menghadap kearah suaminya itu.
"Memangnya kau bisa masak?"tanya Lisa
"Hmmm..... Bisa, kalau kau ajari."jawab Zidan tersenyum. Lisa menghela nafas, lalu ditariknya tangan Zidan dan menuntunnya untuk duduk kembali ke meja makan.
"Lebih baik kau duduk saja disini! aku tidak punya waktu untuk mengajarimu."tutur Lisa.
"Tapi..."
"Diam disini! jangan bergerak! katanya kau lapar, kalau seperti ini yang ada kita gak makan - makan." seru Lisa. ia pun berlalu meninggalkan suaminya yang masih terdiam di tempat duduknya.
"Apa kau yakin tidak mau ku bantu?" tanya Zidan. Lisa tidak me jawabnya, dia hanya diam dan melanjutkan acara memasaknya.
"Padahal, aku cuma niat bantu" gumam Zidan. Zidan asik memperhatikan istrinya yang sedang memasak, sesekali Zidan juga tersenyum melihat istrinya yang terlihat sangat menggemaskan di mata Zidan.
"Kenapa dia makin hari, makin gemesin ya"ucao Zidan pelan.
Lisa melirik kearah suaminya, ia melihat Zidan tersenyum kearahnya. "Dia kenapa tersenyum seperti itu?" tanya Lisa lirih, ia oun melanjutkan kerjaannya.
Tiga puluh menit kemudian, semua masakan Lisa pun matang semua. Ia mehidangkan semua masakannya di meja makan.
"Ini makanlah!" Lisa mengulurkan sepiring nasi yang telah, ia ambilkan untuk suaminya itu.
"Terima kasih." ucap Zidan, dibalas anggukan kecil oleh Lisa. Lalu Lisa pun mengambilkan makanan untuk dirinya sendiri.
"Bagaimana tadi meetingnya?" tanya Lisa di seka mebgunyahnya.
"Ya begitulah, gak ada yang menarik." jawab Zidan
"Jadi sekarang, kalian sudah bekerja sama?."tanya Lisa,penasaran dengan hasil meeting tadi sore.
"Gak tau." jawab Zidan acuh. dia malas membahasnya, tentang hasil meeting tadi karena ia tak ingin menyebut nama Reyhan.
"Lah kok gak tau sih, yang benar saja!"
"Cepat habis kan makananmu,jangan banyaj bicara!" seru Zidan. setelah ia mengucapkan itu. Tidak ada lagi percakapan antara mereka.
Lisa mebgerucutkan bibirnya mendengar ucapan Zidan.
~
Setibanya di ruang kerja nya, Zidan mendudukkan dirinya di kursi yang ada di meja kerjanya.
Zidan kelihatan sibuk memeriksa e-mail yang dikirim kan oleh mahasiswanya. Di tengah ke sibukkannya itu, tiba - tiba ponsel Zidan bergetar.
"Halo pa, iya ada apa pah?"tanya Zidan to the poin kepada papanya.
"Halo Zi"
"Ada apa papa, telpon Zi?"tanya Zidan
" Bagaimana? kau sudah menemui Raihan tanya apa-apa dik ah menyeruput kopi dari cangkir yang ia pegang dan membalikkannya kembali cangkir tersebut.
" Sudah, tadi dan ditemani okeh Lisa.…"
" Lisa ikut menemanimu? selalu keputusannya bagaimana?"
" Rencananya 2 mibggu lagi, kita juga telah membuat janji untuk berjumpa dipertemuan berikutnya.."
"2 minggu lagi?. kenapa harus 2 minggu lagi? bukannya dia ingin melakukan observasi hari ini?" tanya papa Dika saat mendenar penuturan suaminys
" waktunya Tidak memungkinkan pa, Karena sore tadi cuma dia ada keperluan mendadak keluar kota. dan bisa dia akan pergi ke luar negeri selama satu minggu kedepan.
" oh,baiklah. papa harap Kau bisa bisa memenangkan hati Reyhan untuk bisa menjalin kerjasama, dia seumuran kok denganmu Jadi sepertinya sangat cocok untuk dijadikan teman berbisnis lagipula dulu dia juga satu sekolahan denganmu. " tutur papa Dika.
" di, kau sudah dewasa.... kau sudah harus bisa mengelola perusahaan mu dengan sungguh-sungguh, Jangan hanya selalu bergantung dengan papa setiap kali ada kerugian atau apapun Ini kesempatan emas untukmu maka lakukanlah dengan teliti dan berhati-hati" nasehat Papa Dika untuk Zidan.
" perusahaan yang dipimpin ini kan cabangnya dari perusahaan papa jadi Zi disini hanya mau sekedar membantu papa saja kerjaan utama Zi adalah mengajar menjadi dosen Jadi kalau seumpamanya aku tidak mendapatkan kerjasama ini." bantah Zidan.
" papa kan sudah bilang berkali-kali, Papa ingin kau memiliki tanggung jawab sendiri untuk perusahaan yang kau Rintis tanpa menggantungkan perusahaannya kepada papa." seru papa Dika.
" Dan Papa sudah membantumu untuk mencarikan relasi dan Reyhan, Papa harap kamu tidak mengecewakan papa sih kamu harus mendapatkan kerja sama dengannya!" tegas Papa Dika.
" Apa si Reyhan itu sudah menikah, pa?" tanya Zidan penasaran.
"Belum!...." jawab papa Dika.
" pantes aja dia memperhatikan Nisa hingga, bengali aku tidak akan mengajaknya lagi."gunam Zidan.
"oh, aku kira dia sudah menikah" ujar Zidan pelan.
"Belum, tapi katanya di sudah ada calonnya. api papa gak tau juga lah. Kenapa kau tiba - tiba menanyakan hal ini?" tanya papa curiga.
"Buanglah jauh - jauh pikiran papa yang gak aneh itu!" seru Zidan,
Zidan dan pala Dika masih berbincang - bincang, bahkan tak terasawaktu sudah menunjukkan pujuk 22.30 malam.
Zidan pun berpamitan kepada papanya dan ia pun mebgakhiri sambungan telponnya.
Di kamar, saat Zidan membuka lebar pintu kamarnya, Ia disuguhi dengan pemandangan istrinya yang tertidur di meja yang ada di sudut kamar dengan salah satu tangan menumpu wajahnya dan tangan yang lainnya masih memegang sebuah pensil. Zidan tersenyum, ia menutup pintu kamar dengan pelan dan segera menghampiri istrinya tersebut.
Zidan memperhatikan wajah Lisa dan menyibakkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya itu.
Karena penasaran dengan hasil coretan tangan istrinya, membuat tangan Zidan menyaut kertas yang tertindihih oleh wajah Lisa, dan dengan perlahan-lahan karena ia tak mau membuat wanitanya itu terbangun.
coretan tinta akan design sebuah gaun pernikahan yang masih tak sempurna tergores di kertas putih itu.
Zidan meletakkan kembali ke situ, ia mengambil pena yang masih dipegang erat oleh Lisa dan meletakkan pena itu ke tempat asalnya
Jangan lupa like dan komennya ya guys🤗kalau bisa kasih hadia dan vote juga boleh.😎