
Zidan mengajak Lisa kembali ke kamar untuk beristirahat. Tidak tau kenapa Zidan merasa kalau tubuhnya sangat lelah padahal seharian ini dia tidak melakukan hal apa pun.
Tak butuh waktu yang lama bagi Zidan untuk tertidur, berbeda dengan Lisa. Ia sudah berusaha untuk memejamkan matanya namun wanita itu tak juga tertidur. Ia menggulirkan tubuhnya kesana kemari untuk mencari posisi yang nyaman. Namun, tetap saja jedua matanya masih terjaga.
Lisa beranjak duduk, ia memandang wajah suaminya yang sedang tertidur pulas. Merasa bodan dan bingung, hibgga akhirnya, ia memilih untuk bangkit dan turun dari tempat tidur,kemudian ia pergi ke dapur untuk mencari makanan yabg sekiranya bisa ia makan.
"Apa anak mama lapar? Makanya mata mama gak bisa tidur" gumam Lisa sembari mengelus perutnya.
Lisa kembali mencari makanan yang ada di dapur.
Lisa membuka kulkas dan melihat ada sebungkus besar roti tawar. Dengan semangat Lisa mengambil beberapa lembar roti dan meletakkannya di atas piring.
"Apa lagi ya?" Lisa melihat satu persatu isi kulkas.
"Ini dan ini juga, kurasa ini sudah cukup" ucapnya. Lalu, ia membawa roti - roti tersebut kembali ke kamarnya untuk ia nikmati.
Lisa dengan semangat merangkak naik keatas tempat tidur, pemandangan serupa yang ia lihat tadi, Zidan masih tertidur puas dengan posisi yang masih sama.
"Zidan…" Lisa menguncang salah satu bahu Zidan, berharap suaminya itu bangun
"Sayang, bangunlah…"Lisa menekan - nekan pipi Zidan dengan jari telunjuknya, membuat Zidan berdecak kesal, namun ia tak membuka matanya. Lisa tak menyerah, ia kembali memanggil dan menekan - nekan pipi suaminya berulang kali. Hingga Zidan benar - benar bangun dengan mimik wajah kesal, ia sangat merasa terganggu oleh ulah istrinya itu.
"Ada apa?" tanya Zidan sambil berdecak, kedua matanya menyipit kearah jarum jam dinding yang menunjukkan pukul 01.00.
"Lihatlah,ini masih tengah malam!" imbuhnya.
"Apa aku mengganggumu?"
"Sangat mengganggu! Apa kau tidak tau aku sangat mengantuk." Zidan berucap dengan sangat kesal, namun suaranya melunak.
"Ya sudah, aku minta maaf. Kalau begitu, kau kembali lah tidur!" ujar Lisa. Zidan berdecak dan beranjak duduk.
"Ada apa kau membangunkanku? Ayo katakanlah!" perintahnya seraya mengusap kepala Lisa.
"Tidak jadi, kau tidurlah lagi!"
"Aku tidak mau melanjutkan tidurku, sebelum kau mengatakan, kenapa kau membangunkanku?"
"Apa kau merasa sakit?" tanya Zidan sedikit panik. Namun Lisa menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku tidak sakit." ucap Lisa.
"Lalu, kenapa kau membangunkanku tengah malam begini, sayang?" tanya Zidan lembut.
"Aku cuma mau minta tolong kepadamu, tolong pisahkan pinggiran roti ini untukku." Lisa dengan polosnya menyodorkan selembar roti kepada Zidan.
Zidan tak langsung menerimanya, ia memandang roti dan Lisa secara bergantian."Hanya karna ini?"tanya Zidan. Lisa mengangguk cepat.
"Kau membangunkanku tengah malam hnya untuk memisahkan pinggiran roti?"seru Zidan lagi, ia masih tidak habis pikir dengan istrinya itu.
"Iya, aku dari tadi tidak bisa tidur dan aku merasa sedikit lapar. Makanya aku pergi kedaour dan mengambil ini."
"Astaga! kau kan bisa mengambil roti yang tidak ada pinggirannya di kulkas. Kenapa kau harus membangunkanku hanya untuk memisahkan ini."seru Zidan
"Tapi aku maunya roti yang ini.." jawab Lisa
"Sudah jelas kau tidak menyukai pinggiran roti, kenapa masih kekeh memilih yang ini?" tanya Zidan.
"Ya karna, aku mau kau yang memisahkannya untuk ku. Kalau kau tidak mau ya sudah tidak apa - apa, lanjutkan saja tidurmu lagi. Aku akan memisahkannya sendiri." Lisa berucap datar, tanpa menyulutkan emosi sedikitpun, ia berucap sesuai apa yang di inginkannya saat ini.
Zidan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, ia merasa konyol akan keingin istrinya.
"Tentu saja aku mau, kemarikanlah rotinya, biar ku pisahkan." Zidan pun mengambil piring yang berisi beberapa lembar roti itu dari tangan Lisa dan segera memisahkan roti dengan pinggirannya.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Zidan, yang menangkap basa Lisa yang sedang tersenyum.
"Tidak, siapa juga yang tersenyum. Cepatlah aku sudah lapar! " kila Lisa.
"Iya ini makan lah, kau memakannya dengan aa?" tanya Zidan sembari memberikan piring roti kepada Lisa.
"Dengan ini" seru Lisa, sembari menunjukkan seboto kecap dan beberapa lembar keju.
"Apa kau becanda?" tanya Zidan kaget dengan apa yang akan di tunjukkan oleh istrinya.
"Kenapa memangnya?" tanya Lisa, sambil memakan roti keju plus kecapnya.
"Tidak, tidak apa - apa." ucap Zidan menggelengkan kepalanya.
"Apa kau mau?" tawar Lisa.
"Tidak kau makanlah, aku masih kenyang." tolak Zidan
"Yang benar saja, mana mau aku memakan - makanan aneh itu. Membayangkan rasanya saja perutku sudah mau bergejolak." pikir Zidan
"Cepat habiskan, setelah itu kita tidur!!" ucap Zidan
Lisa menganggukkan kepalanya dan menikmati rotinya. Zidan dengan setia terus menemani istrinya untuk menghabiskan makanannya.
~
Pagi hari, sinar mentari yang membias kaca jendela kamar akan gorden yang sudah tersingkap sebagian membuat wajah Lisa silau, sehingga mengharuskan wanita itu berpindah untuk menyembunyikan wajahnya dari jangkauan sinar matahari. Namun hal itu tidak membuat Lisa beranjak bangun dari tidurnya, ataupun sekedar membuka matanya.
Lisa memiringkan posisi tubuhnya, ia hendak menjangkau tubuh Zidan, namun sisi tempat tidur itu terasa begitu lapang. Tangan Lisa terus meraba - raba dan di susul dengn kedua matanya yang terbuka secepat kilat.
"Dimana, Zidan?" Lisa yang tak mendapati suaminya, segera menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Ia bangkit dan segera beranjak dari tpat tidur. Lisa hendak keluar meninggalkan kamar, namun suara berisik terdengar di dalam kamar mandi mambuatnya mengurungkan niatnya, dan dnegan cepat ia berbalik arah. Tangannya membuka pintu kamar mandi yang terlihat tertutup namun menyisakan sedikit cela di sana.
"Zidan…" panggilan Lisa tak membuat Zidan yang masih berdiri di depan washtafel menoleh learahnya. Laki - laki itu terlihat sibuk mengeluarkan isi makanan maupun cairan yang mengendap di dalam perutnya, Lisa pun denga cepat kembali kedalam kamar dan mengambik maskernya. Ia tau kalau untuk sekarang suaminya itu tidak akan mau melihat wajahnya.
Lis kembali kedalam kamar mandi dan membantu menepuk - nepuk pelan punggung suaminya. Merasa lega, Zidam berkumur, untuk menghilangkan rasa asam akibat caira. yang baru saja ia muntahkan.
"Apa sudah mendingan?" tanya Lisa khawatir.
"Iya sudah, ini tidak separah yang kemaren." ucap Zidan. Lisa mengajak suaminya untuk kembari ke ranjang.
"Muka mu pucat sekali, apa kau baik - baik saja?" tanya Lisa memastikan.
"Iya percayalah, tolong siapkan pakaianku." ujar Zidan.
"Kau mau kemana?"
"Aku mau ke kantor, pekerjaanku sungguh sudah menumpuk." kelu Zidan.
"Apa kau yakin, bisa ke kantor?" tanya Lisa.
"Bisa, aku tidak lemah sepertimu" ledek Zidan.
"Tidak lemah bagaimana? kemaren saja, kau seharian tidak keluar kamar karna alasan masih lemah" seru Lisa, membalas ledekan suaminya itu.
"Itu…
~•••~
jangan lupa dukungannya