
"Alasan! Bilang saja kau sengaja ingin menghindar dariku dan ingin makan sendiri, supaya bisa di goda oleh laki - laki genit dan mengira dirimu masih lajang? benarkan!" tuduh Zidan.
"Huh,kau ini bicara apa?" Lisa memukul dada suaminya dengan kesal. Namun, tak membuatnya sakit.
"Memangnya siapa yang mau menggodaku? Tidak akan ada yang mau denganku. Kau saja tidakkan mau dengan ku! Jadi, kenapa kau berpikir sedangkal itu!" Zidan diam sejenak mendengar perkataan Lisa.
"Jangan banyak bicara, ayo aku akan menemanimu makan." Zidan menarik tangan Lisa, ia mengandengan tangan istrinya itu dan mengajaknya untuk berlalu pergi dari sana.
Saat keluar dari ruangan, semua mata karyawan tertuju memperhatikan mereka berdua dan menatap Lisa dengan tatapan aneh. Para karyawan pun mulai saling berbisik dan melontarkan berbagai pertanyaan.
Seorang wanita pun datang mendekati karyawan yang sedang berbisik - bisik itu. Ia tak lain adalah sekretaris Zidan. Merasa sangat penasaran dengan topik pembicaraan mereka makanya dia mendekati mereka.
"Nona Grace." begitulah panggilannya.
Mereka semua hendak membubarkan diri, namun sekretaris Zidan yang diketahui bernama Grace itu menghentikannya.
"Tidak ada yang boleh kembali ke meja kerja! Sebelum kalian memberitahuku, apa yang sedang kalian bicarakan!"seru Grace.
"Ti-tidak ada, nona. Kami tidak membicarakan apa pun."
"Kalian pikir aku bodoh? apa yang sedang kalian bicarakan? cepat beri tau aku!"
"Ka- kami hanya membicarakan wanita yang bersama dengan tuan Zidan nona. Kami sabgat penasaran, karena tidak biasanya tuan Zidan mengajak seorang wanita ke kantor.
"Apa itu, kekasih tuan Zidan nona?" salah seorang pegawai lainnya ikut melontarkan pertanyaan.
"Jangan sembarangan bicara kamu! Mana mungkin itu kekasihnya tuan Zidan! Lagi pula tidak mungkin kekasih tuan Zidan seperti itu. Jelas sekali itu buka selera tuan Zidan!" bantah Grace.
"Tapi, nona. Kalau memang bukan kekasihnya tuan Zidan, kenapa tuan Zidan mau mengandeng tangan wanita itu?"
"Dan, kalaupun..."
"Sudah!" tukas Grace.
"Kalian kembalilah bekerja dan jangan membicarakan hal ini lagi, atau kalau tidak aku akan mengadukan kalian kepada tuan Zidan!" ancam Grace.
"Ja-jangan, nona. Kami kan kembali bekerja." mereka yang ketakutan akan ancaman Grace , akhirnya mereka pun membubarkan diri dan kembali ke meja kerja mereka masing - masing.
Begitu juga dengan Grace yabg berjalan kembali ke meja kerjanya dengan melamun dan pikirannya penuh dengan tanda tanya akan keberadaan Lisa di sana.
"Siapa sebenarnya wanita itu? apa mungkin client nya Zidan? tapi kenapa dia tidak memberitauku jika memang wanita itu adalah clientnya?"
"Kalau kekasihnya, ku pastikan tidak mungkin. Selera Zidan bukan wanita rendahan dan berpenampilan seperti itu." gumam Grace.
~
Zidan mengajak Lisa makan di restauran cepat saji yang ada di dekat kantornya tersebut. Mereka berdua menikmati makanan yang sudah ia pesan sejak 5 menit yang lalu. Tidak ada percakapan diantar mereka,
Zidan memperhatikan Lisa yang sibuk akan makanannya.
"Kau masih marah kepadaku?" tanya Zidan.
"Tidak.." jawab Lisa yang masih fokus dengan makanannya.
"Kalau kau tidak marah kenapa kau hanya diam saja dan tidak mangajakku berbicara? kenapa kau mendiamkan aku?" tanya Zidan.
"Kau tidak lihat aku sedang makan?" seru Lisa.
"Oh iya..." Zidan seketika melanjutkan kembali untuk menghabiskan makanannya.
Zidan dan Lisa masih berada di restaurant cepat saji itu, mereka masih enggan untuk meninggalkan tempat duduk, mengubah posisi atau bergerak bebas akibat kekenyangan pun tidak.
"Kau jadi menemui anak rekan bisnis papa itu?" tanya Lisa.
"Malas!"
"Zi, kau jangan membuat papa kecewa"tutur Lisa. Zidan terdiam, ia mengingat kembali ancaman dari papanya yang membuatnya tak ada pilihan lain untuk menolak, ia harus bisa mendapatkan kerja sama itu.
"Kemana?" tanya Lisa.
"Menemui anak rekan bisnis papa itu."
"Kau tidak malu mengajakku?" pertanyaan yang di lontarkan Lisa, membuat Zidan kembali terdiam, ia memperhatikan istrinya yang masih dudum di hadapannya itu. Tidak ada yang aneh dan memalukan dari penampilan istrinya itu. Entalah, mungkin karna Zidan sudah terbiasa melihat penampilan istrinya setiap hari.
"Malu kenapa?" tanya Zidan sambil mengernyi.
"Malu karena aku tidak seperti semua mantan kekasihmu yang cantik dan sexy" balas Lisa sambil melirik tidak enak.
"Tidak usah membahas mantan
mantan kekasih, mau ku lempar kau dari sini!" seru Zidan. Zidan tiba - tiba beranjak berdiri, ia merapikan jasnya terlebih dahulu. setelah itu ia pun menarik tangan Lisa " ayo..."
Zidan mengajak Lisa untuk kembali ke kantornya. Ia menyuruh istrinya itu untuk menunggunya di lobby utama, sementara dia pergi ke ruangannya untuk mengambil kunci mobil dan berkas yang akan di butukan nya saat pertemuannya dengan anak rekan bisnis papanya nanti.
Ia juga tidak lupa menghubungi sekretaris dari anak rekan bisnis papanya itu dan membuat janji akan bertemu sebentar lagi. Sebelumnya saat di restoran Zidan meminta nomor sekretaris Reyhan itu dari asistent pribadi papanya.
Saat Zidan sibuk menyiapkan berkas - berkas miliknya di dalam ruangan, terdebgar langkah kaki seseorang mendekat kearahnya. Namun Zidan tidak menghiraukannya.
"Zidan..." tangan seseorang menyentuh bahunya dengan Lembut. membuatnya terkejut, orang yang mendekatinya adalah Grace sang sekretaris.
"Ada apa?...." Zidan mengernyit kesal, seketika ia menjauhkan tangan sekeretaris itu dari bahunya.
"Kau ini kasar sekali!" rutuknya. Zidan tak menghiraukannya dan masih sibuk dengan aktivitasnya.
"Zi... Wanita tadi siapa? kenapa kau keliatan begitu dekat dengannya?" tanya Grace kembali, mencoba merengkuh bahu Zidan, namun Zidan menghidarinya. Ia menghadap ke arah Grace sambil mengernyitkan dahinya.
"Aku ingin tanya kepadamu, sebenarnya pekerjaanmu disini sebagai apa?" tanya Zidan
"Sekretarisamu" jawab Grace
"Pintar!"
"Aku mempekerjakan mu di sini hanya untuk membantuku mengurus pekerjaanku bukan urusan pribadiku, apa kau mau ku pecat!!?" seru Zidan.
" hey, kenapa kau jadi marah? Aku hanya bertanya saja, Zi?"
" Aku kan sudah bilang, jika di kantor panggil aku Tuan jangan sok akrab seperti sekarang ini."
"Bukan berarti kau temanku, Jadi kau bisa dengan Seenaknya saja di sini kasih dan sambil menegaskan jari telunjuknya kepada grace.
" Baiklah tuan Zidan!" Grace beucap dengan kalimat yang penuh dengan penekanan.
Zidan berlalu pergi meninggalkan Grace yang masih berada di ruangannya. wanita itu masih mematung memperhatikan Bos sekaligus temannya tersebut berjalan jauh dari pandangannya.
" Sejak beberapa bulan ini Zidan bener-bener berubah, apalagi semenjak ia pulang dari Paris . aku sungguh heran." dengan langkah kesal, Grace berlalu pergi meninggalkan ruangan itu dan melanjutkan kembali pekerjaannya.
~•••~
.
.
.
.
.
Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐
Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜