
Zidan menggandeng tangan Lisa dan mengajaknya pergi dari kantor Reyhan. Langkah kakinya yang berjalan dengan cepat dan tanpa jeda membuat wanita yang saat ini digandengnya merasa kesulitan untuk berjalan.
"Zi, pelan - pelan. Aku kesulitan berjalan!" perkataan Lisa tak membuat Zida melepaskan atau menghentikan pergerakannya, ia masih saja berjalan dengan langkah cepat hingga menuju ke parkiran.
Setibanya di parkiran, tepatnya di depan mobilnya. presiden menghentikan langkah kakinya dan diikuti oleh Lisa dengan nafas ngos-ngosan. Zidan menghempaskan tangan Lisa dengan pelan.
" kau dari awal memang sudah tahu kan, Reyhan anak rekan bisnis papa itu adalah Reyhan yang sama dengan temanmu?" pertanyaan yang sedari tadi tertahan di pikiran Zidan akhirnya terungkap juga kepada istrinya tersebut.
" Dan Kenapa dia bisa menganggapmu sebagai sekretaris ku?" tanya Zidan lagi, dia tadi semoat kaget saat Reyhan mengatakan kalau Lisa adalah sekretarisnya.
" Tadi saat kau pergi ke toilet, Reyhan tiba-tiba datang menghampiriku. Awalnya aku sangat kaget, kenapa dia bisa ada di perusahaan ini. Setelah aku tanya, ternyata dia bekerja disini, tapi dia tidak mengatakan kalau dia adalah pemilik perusahaan ini. Aku pun tidak menyangka kalau perusahaan ini miliknya." Lisa berucap dengan wajah polosnya.
"Untuk masalah sekretaris, kau kan tau sendiri tidak ada yang tahu tentang pernikahan kita, termasuk Reyhan. Aku tidak ingin melanggar kesepakatan kita, aku takut kau akan malu nanti. Itu sebabnya aku bilang sekretarismu."
"Kalau kau mau marah padaku, marah saja! Aku pasrah" imbuhnya sambil menunduk, menunjukkan bahwa dirinya siap untuk menerima makian dari suaminya itu. Namun, Zidan diam sejenak dan memperhatikan istrinya tersebut.
"Aku tidak akan memarahimu, ayo cepat masuklah ke dalam mobil!"perintahnya dengan suara yang melunak dan kini terlihat membelakanginya untuk masuk kedalam mobilnya.
"Tumben sekali dia tidak marah, apa otak dan hatinya sudah berada di jalan yang benar?" gumam Lisa melebarkan senyuman yanh terkesan meledek. Tiba - tiba Zidan membalikkan badannya menghadap kearahnya, membuat senyuman itu sirna seketika.
"Ada apan" tanya Lisa
"Tidak, aku kira kau meledekku. Awas saja kalau sampai kau berani meledekku!" ancam Zidan.
"Siapa juga yang berani meledekmu..."
Zidan mendahului Lisa untuk masuk kedalam mobil.sementara Lisa dia masih tidak bergeming dari tempatnya.
"Kenapa kau masih disana? mau ku masukkan kedalam bagasi?" seru Zidan yang mengeluarkan sedikit kepalanya di jendela mobil.
"Iya tunggu..." dengan mulut yang menggerutu, Lisa segera masuk ke dalam mobil suaminya itu.
~
Sore hari menjelang petang, Zidan dan Lisa berpamitan kepada ayah Andre untuk pulang ke rumah mereka. Barang-barang seperti baju yang selama beberapa hari mereka pakai di sana, tak mereka lupakan untuk dibawa pulang.
Lagu yang dipopulerkan oleh BTS boyband asal Korea selatan itu menemani mereka berdua selama dalam perjalanan menuju ke rumah mereka. Namun saat di tengah perjalanan, perhatian Lisa teralihkan akan sesuatu yang seketika memaksa suaminya untuk menghentikan mobilnya.
"Ada apa?" tanya Zidan sambil berdecak, menginjak rem mobilnya titik hingga mobil yang dikendarainya berhenti dengan sempurna.
"Apa boleh aku meminta uangmu...." bisa menadahkan Tangannya kepada suaminya itu. tak menanyakan untuk hal apa, di dan sesegera mungkin mengambil dompetnya dan menyondorkan kepada Lisa kartu debit miliknya.
"Aku minta uang, bukan kartu debit! Aku lupa bawa dompet" seru Lisa sambil mengembalikan kartu debit itu kepada suaminya. Zidan membuka kembali dompetnya dan memberikan kepada Lisa selembar uang pecahan 100.
"100? Banyak sekali, uang kecil saja..."
"Tidak ada! kau ini cerewer sekali, sudah pakai saja uang itu!" seru Zidan titik dengan mulutnya menggerutu, Lisa terpaksa mengiakan, Iya turun dari mobil dan berjalan menghampiri pedagang kaki lima yang ada di pinggir trotoar yang tidak jauh dari mobilnya itu.
Zidan mengawasi istrinya itu dari balik kaca spion mobil, hingga tak lama kemudian, Lisa terlihat kembali dengan membawa sekantong yang berisi dua bungkus cendol. Dengan langkah yang penuh semangat, wanita itu masuk kembali ke dalam mobil.
"ini kembaliannya, terima kasih." bisa mendengar kuda sambil menyodorkan beberapa lembar uang kembalian itu kepada Zidan.
"Ambil saja, aku tidak suka menyimpan uabg receh!" tolak Zidan.
"Mungkin bagi mu ini tidak ada apa - apa nya, tapi bagi orang lain, ini sangat berharga. Apa kau tau dengan uang segini orang lain bisa untuk makan berhari - hari!" tutur Lisa.
Zidan melirik Lisa yang sedang mengoceh. "Ya sudah, masukkan ke dalam dompetku, kau ini cerewet sekali!" Zidan memberikan dompetnya kepada Lisa dan segera melajukan kembali mobilnya untuk pulang.
" Ya beginilah, sebagian orang yang terlahir jadi orang kaya selalu saja meremehkan ruang!" Lisa menggerutu sambil memberikan kembali dompet itu kepada suaminya.
Zidane Mandiri kembali kearah Lisa yang setengah membenahi posisi duduknya, dan saat ini ia terlihat mulai membuka kantong plastik dan mengambil sebungkus cendol, yang di belinya tadi.
"Kau membeli apa?" tabya Zidan mengintip penasaran.
"Cendol, apa kau mau. Aku tadi sengaja membelinya dua, agar kau tidak meminta punya ku." ujar Lisa. Ia menuodorkan kepada suaminya itu sebungkus cendol yang telah di beri pipet olehnya. Zidan melihat cendol itu dan kelihatannya enak.
"Tidak usah, aku tidak terbiasa makan makanan pinggir jalan!" saut Zidan.
"Kenapa memangnya? apa kau takut mati?" tanya Lisa.
"Aku tidak terbiasa..." jawabnya.
"Mulai sekarabg biasakanlah! karena tidak semua makanan pinggir jalan itu buruk, malahan makanan pinggir jalan lebih enak dari pada makanan di restouran. Contohnya cendol ini sangat lezat, ini cobalah!" Lisa semakin mendekatkan cendal itu di dekat Zidan, Entah kenapa dirinya semakin tergoda sama janda mengambil bungkusan cendol tersebut dengan tangan kanannya. Namun, ia urungkan.
"Aku sedang menyetir" ujarnya.
"Ya sudah..." Lisa menjauhkan cendol itu dan segera menikmatinya sendiri, membuat Zidan kesal dibuatnya.
" kau ini niat memberiku atau tidak?"seru Zidan.
"Katanya, kau sedang menyetir..."
"Astaga, dia ini benar - benar bodoh atau bagaimana?" umpat Zidan.
"Maksudku, suapi aku!"perintah Zidan sambil mengalihkan pandangannya, Lisa pun terdiam.
" kenapa masih diam? aku suruh kau turun dari mobil ini dan jalan kaki sampai rumah!" ancam Zidan.
"Ini minumlah! hisap sampai habis!..." Lisa segera menyodorkan pipetnya ke mulut suaminya tersebut.
"Bagaimana, enak tidak?" tanya Lisa
Zidan menyeruput dan mengunya isian cendolnya, sambil melirik kearah istrinya yang juga menikmati cendol miliknya.
"Lumayan, aku mau isinya!" pinta Zidan. Lisa pun membuka pengikat bungkusan cendol itu dan mebgeluarkan sendok plastik yang di berikan oleh penjualnya tadi. ia pun menyedokkan isiannya, lalu menyuapinya kepada Zidan.
"Apa ku bilang, tidak semua makanan pinggir jalan itu buruk." seru Lisa.
Mereka pun melewati jalan menuju ke rumah sambil menikmati cendol dan alunan musik BTS.
~•••~
Selamat hari minggu guys🤗