ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Bekerja denganku saja


Hawa dingin akan tengah malam, membangunkan Lisa dari tidurnya. Lisa menyingkap selimutnya dan turun dari tempat tidur, hingga gelombang di tempat tidur itu ikut membangunkan Zidan. Zidan melihat istrinya tersebut masuk ke kamar mandi. Sepertinya, Lisa hendak buang air kecil.


Tak lama kemudian, Lisa keluar dari kamar mandi dan merebahkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur


"Dingin sekali." Zidan tiba - tiba memeluk tubuh Lisa sangat erat dan mendesis.


"Dia bangun?"gumam Lisa dalam hati.


"Aku lelah!" seru Lisa seraya menepis tangan Zidan di tubuhnya.


"Iya iya, aku hanya ingin memelukmu saja. Tidur lah lagi" ujar Zidan semakin mengeratkan pelukannya.


"Longgarkan la sedikit, aku sesak kalau kau memelukku seperti ini" keluh Lisa mencoba menguraikan pelukan suaminya itu.


"Iya dasar bawel" seru Zidan, ia melonggarkan pelukannya dan Lisa pun membalas pelukannya.


~


Keesokan paginya,


Lisan Zidan terlihat sudah rapi. Mereka berdua sudah bersiap untuk pulang sejak dua jam yang lalu. Kini mereka tinggal pergi meninggalkan tempat itu untuk kembali pulang ke tempat asalnya.


Namun, Lisa terlihat masih duduk bersantai dan mematung di tempat duduknya. Rasanya ia enggan untuk berdiri seolah tak memiliki tenaga sama sekali.


Sebenarnya, ia masih ingin menikmati pulau Jeju, ia belum puas mengelilingi pulau itu. Namun, bagaimana lagi, ia tak bisa menolak permintaan Zidan yang ingin pulang cepat.


"Ayo.." ajak Zidan yang saat ini sudah menarik koper ditangannya.


"Malas!" sahut Lisa.


"Kau yang benar saja, cepatlah aku sudah tidak bisa meninggalkan pekerjaanku terlalu lama." seru Zidan,ia sejenak melepaskan koper itu dari tangannya, Zidan berdiri didepan Lisa sambil meletakkan kedua tangannya di atas pinggang.


"Memangnya kau saja yang banyak kerja, aku juga, tapi aku belum puas disini" ujar Lisa


"Ayolah sayang, besok kita kembali lagi kesini ya. Sekarang kita pulang dulu" bujuk Zidan


"Janji ya" ucap Lisa, mengacungkan kelingkingnya


"Iya ,janji. Ayo" Zidan menautkan kelingking mereka.


Zidan membantu Lisa untuk berdiri, dan mengandengnya keluar dari kamar penginapan mereka. Dengan sedikit malas Lisa mengikuti langkah Zidan.


Zidan menoleh melihat istrinya yang tampak sangat sedih, sebenarnya Zidan tak tega melihatnya tapi mau bagaimana lagi, pekerjaannya benar - benar tidak bisa ia tinggalkan.


~


Lisa dan Zidan kini berada di dalam jet pribadi milik papanya yang sebelumnya sudah disiapkanya, Zidan sengaja menggunakan jet pribadi papanya bukan karna ingin memamerkan kekayaannya tapi, karena Zidan benar - benar harus cepat sampai pulang.


"Kenapa menggunakan jet?" tanya Lisa yang sempat kaget, tidak biasanya suaminya itu mau menggunakan jet pribadi.


"Kita harus cepat sampai dirumah,aku ada urusan mendesak" seru Zidan yang di anggukkan ole Lisa.


Mereka berdua tak berbicara satu kata pun selama perjalanan pulang. mereka lebih memilih berdiam diri untuk beristirahat dari pada harus membuang tenaga untuk berdebat hal - hal yang tidak penting.


~


Setibanya dirumah,


Lisa dan Zidan disambut oleh mama Lilis dan juga papa Dika, mereka memberi sapaan hangat dan memberi begitu banyak ciuman di kedua pipi anak dan menantunya itu. Layaknya anak kecil, Zidan dan Lisa begitu pasrah.


Mama Lilis Mengernyit heran saat memperhatikan raut wajah Lisa yang tampak tak bersahabat.


" Lisa, sepulang bulan madu kan harusnya senang, kamu kenapa cemberut seperti ini, nak?" tangan lembut mama Lilis menaikkan dagu menantunya, lebih leluasa melihat raut wajahnya yang muram.


"Cemberut? Tidak, kok ma, Lisa gak cemberut"bantah Lisa dengan senyuman yang memancar seketika di raut wajahnya


" Oiya Zi, kemaren sekretaris kamu ada yang datang megantarkan file. Katanya kamu yang suruh dia antarkan kerumah.l" ujar mama Lilis


"Astaga, iya aku lupa, aku kan menyuruh Bian megantar filenya kerumah"Zidan bergumam dalam hati sambil melirik kearah Lisa dan membuat mereka berdua sejenak beradu pandang.


"Oh iya mah, Zi baru ingat, mama taruh dimana filenya?" tanya Zidan


"File apa?" tanya Lisa. Namun Zidan tidak menjawabnya dan malah mengacuhkannya.


"Mama sudah meletakkannya di kamar kalian" mama Lilis sembari menyentuh kepala menantunya dan memberi usapan lembut disana.


"Ma, Zidan dan Lisa ke kamar dulu ya. Kami sangat lelah." pamit Zidan


" Iya Zi, ajak lah istrimu istirahat dia pasti sangat lelah" jawab mama Lilis mengusap tangan Lisa lembut.


" Lisa pamit ya ma, mama juga istirahatlah. Kami permisi ya pa" pamit Lisa kepada kedua mertuanya.


Zidan menarik tangan Lisa dan segera mengajaknya untuk masuk ke dalam kamar. Mama Lilis tersenyum saat melihat tangan Zidan mengandeng tangan Lisa seakan ada rasa lega tersendiri di dalam hatinya.


"Pa, sepertinya Zidan dan Lisa sudah semakin dekat ya?" ujar mama Lilis sambail merangkul lengan Dika dan meletakkan kepalanya di bahu suaminya itu


" Iya, papa rasa juga seperti itu. Semoga dengan adanya bulan madu kemaren Zidan dan Lisa bisa saling menerima satu sama lain " saut papa Dika.


~


Zidan menutup rapat pintu kamarnya. Ia melempar koper milikna ke sembarang tempat dan segera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Lisa hanya bisa menggelenkan kepalanya melihat kelakuan suaminya. Ia mengambil koper milik Zidan dan menyeretnya ke walk in closet untuk menata kembali pakaian mereka.


Sementara Zidan, laki - laki itu terlihat sedang mencari file yang dimaksud mamanya tadi, kemudian ia mendekati meja yang ada di sudut kamarnya, ia membuka map yang ada di meja tersebut. Zidan mmebacanya sejenak, lalu ia menyimpan file tersebut kedalam ruang kerjanya.


Setelah menyimpan file tersebut ke ruang kerja Zidan kembali ke kamar. Ia membaring kan tubuhnya di ranjang sembari menutup matanya.


Lisa yang baru keluar dari walk in closet pun menghampiri Zidan. Ia duduk di samping Zidan.


"Berkas apa? Mana berkasnya" tanya Lisa. Medengar mendengar suara Lisa, Zidan membuka matanya dan menatap istrinya tersebut.


"Berkas perusahaan, udah aku simpan di ruang kerja" ujar Zidan sembari memegang tangan Lisa.


Lisa melepaskan tangan Zidan, kemudian ia berdiri dan hendak melangkah pergi. Namun Zidan menahan tangannya.


"Mau kemana?" Zidan menarik tangan Lisa, hingga Lisa terjatuh diatas tubuh Zidan.


"Zidan, aku mau ke boutique" kata Lisa sejenak menatap suaminya itu. Kemudian ia beranjak duduk dan merapikan bajunya yang sedikit berantakan


"Untuk apa ke boutique?" tanya Zidan, menatap Lisa.


"Bekerja, kau pikir apa? Aku sudah lama meninggalkan pekerjaanku," saut Lisa tanpa memandang suaminya. Ia beranjak berdiri dan hendak bersiap - siap, saat Lisa melintas di jangkauan Zidan. Tangan Zidan dengan cepat menarik dan mendekap tubuhnya, bahkan hanya sekali rengkuh, ia mendapatkan tubuh istrinya itu.


"Zidan!!" Lisa berteriak, namun tak mengubah tangan kekar Zidan untuk melepaskannya.


"Kita baru pulang! Jangan pergi kemana - mana, istirahat lah!" perintah Zidan sambil menutup kedua matanya kembali.


"Zidan, lepaskan aku! Aku harus pergi bekerja." Lisa meronta, memukul - mukul dada bidang laki - laki itu berharap agar dia segera di lepaskan.


"Tidak usah kerja,kau pikir kau saja yang harus kerja. Aku juga punya banyak pekerjaan, besok saja mulai kerjanya. Sekarang, bekerja di atas tempat tidur saja denganku." Zidan memeluk erat tubuh Lisa, ia semakin mengeratkannya hingga membuat wanita itu hampir kehilangan napasnya.


~•••~