
Lisa dan Zidan pun pergi berlalu keluar dari ruangan Daniel. Saat Zidan hendak menutup kembali pintu rungan Daniel, tiba - tiba ia mendengar teriak Rose dari dalam ruangan.
Ia menoleh kedalam ruangan, betapah kagetnya dia saat melihat Keadaan Daniel.
"DANIELLL…" teriak Rose tiba - tiba.
Zidan dan Lisa pun dengan kaget langsung berlari masuk kedalam menghampiri Rose.
"Kenapa? Daniel kenapa?…"tanya Zidan
"Gak tau kak, dia tiba - tiba gak sadar kan diri…" ujar Rose panik, ia sedari tadi terus menguncang tubuh Daniel.
Zidan berlari keluar mencari dokter, tanpa mengetuk ruangan terlebih dahulu. Zidan membuka begitu saja pintu ruang dokter itu. Seghingga sang dokter pun merasa kaget dengan hal itu.
"Dok, Daniel tidak sadar kan diri…" ucap Zidan, dokter pun langsung berdiri dan berjalan cepat menuju ruangan Daniel.
"Semua orang mohon keluar!!!" perintah dokter yang mulai memeriksa keadaan Daniel.
Dengan patuh semua orang keluar. Rose sedari tadi tak bisa menghentikan tangisannya.
"Kamu jangan nangis dek, percaya sama kakak Daniel pasti akan baik - baik saja." ucap Lisa menenangkan adiknya itu. padahal dia sendiri sangat cemas denga keadaan pacar adeknya itu.
"Gimana aku bisa tenang kak, aku takut dia…" Lisa memeluk adiknya, dia tidak ingin Rose melanjutkan ucapannya.
"Sudah, kamu tenang dulu. Dia pasti baik - baik aja, kamu jangan kaya gini."Lisa mengusap - usap punggung adiknya.
Zidan terlihat sedang menerima telpon dari seseorang dan sesekali ia melirik Lisa.
"Siapa yang menghubungimu?" tanya Lisa saat melihat Zidan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
"Dani, katanya dia sudah nyampe depan rumah kita."
"Lah terus gimana dong?" tanya Lisa lagi, ia menguraikan pekukannya pada Rose.
"Aku suruh dia kesini…" jawab Zidan.
"Hmm…Bell, kamu bisa gak jemput Dani di bawa?"tanya Zidan kepada Bella.
"Dani? Baik pak, biar saya yang jemput." jawab Bella beranjak berdiri.
"Trrima kasih ya…" seru Zidan. Zidan berjalan mendekati istrinya yang sedang duduk di bangku depan ruangan Daniel.
"Zi, gimana ini?…"tanya Lisa pelan.
"Kamu tenang aja, semuanya akan baik - baik aja kok. Karena dokter sudah siaga akan keadaan Daniel." jawab Zidan mengusap bahu istrinya.
Zidan sejenak melihat kearah Rose yang sudah tampak pucat.
"Apa tidak sebaiknya Rose di bawa masuk ke kamarnya?…" tanya Zidan yang memperhatikan wajah adik iparnya itu.
"Tidak, aku tidak mau. aku mau disini nungguin Daniel" tolak Rose
"Tapi…" Lisa memegang tangan Zidan, sebagai isyarat agar suaminya itu tidak memaksa.
"Biar aku yang bujuk dia…" ucap Lisa pelan, Zidan hanya mengangguk.
"Rose…Rose…Rose…" Lisa memanggil - manggil adiknya itu dan ia sangat kaget saat kepala Rose sudah terkulai di bahunya.
"Zi, bantu aku, Rose pingsan" seru Lisa mencoba menahan tubuh adiknya itu.
Dengan Sigap Zidan menggendong tubuh Rose dan membawanya masuk ke kamar rawatnya. Sementara Lisa pergi memanggil Dokter.
"Sus, tolong adik saya pingsan…" ucap Lisa saat ia melihat ada suster yang lewat. Suster itu pun dengan cepat menggil dokter, Lisa kembali ke ruangan adiknya.
"Mana dokternya?…" tanya Zidan saat melihat Lisa hanya sendiri.
"Itu…" tunjuknya melihat Dokter membuka pintu.
"Kalian keluarlah dulu!" suruh Dokter.Lisa dan Zidan pun keluar dari ruangan itu. Lisa sangat gelisa melihat kondisi adiknya yang tiba - tiba sangat lemah. Biasanya fisik adiknya lah yang paling kuat dibandingkan dengannya.
"Kak Lis…" panggil Dani yang datang dengan Bella.
"Dan…" balas Lisa, Dani menghampiri kakak sepupunya itu.
"Dia sedang di periksa oleh dokter…" jawab Lisa.
"Ha… Dia kenapa, bukannya tadi dia baik - baik saja?" tanya Bella.
"Dia tiba - tiba pingsan" saut Zidan.
"Dan, kamu kesini sama siapa?"tanya Lisa
"Sendiri kak, Oma lagi keluar kota, jadi dari pada sendiri di rumah ya mending aku kesini." jawab Dani. Lisa mengangguk paham.
"Rose Sakit apa kak? kok sampai di rawat gini?" tanya Dani
"Kakak juga gak tau, semalam kata dokter cuma kelelahan aja. Tapi tadi di pingsan lagi." balas Lisa.
"Om Andre udah tau?"tanya Dani
"Udah tapi, gak tau kenapa ayah belum datang." ucap Lisa. Zidan menyuruh Lisa untuk duduk di kursi tunggu.
Ceklek. Pintu ruangan Rose dibuka dan keluar lah seorang dokter.
"Dokter gimana ,keadaan adik saya?" tanya Lisa spontan berdiri saat melihat dokter keluar dari ruangan.
"Nyonya Lisa mari ikut saya!!" ucap Dokter, dan setelah mengucaokan kata itu, ia langsung pergi menuju ke ruangannya.
"Ayo aku temani" ujar Zidan sembari menautkan tangan istrinya dengan tanganya. Mereka pun pergi menuju ruangan dokter.
Tok... Tok…
"Masuk!!" saut dokter dari dalam, Lisa dan Zidan masuk kedalam ruangan fokter itu.
"Silahkan duduk!" suruh dokter. Lisa dan Zidan pun menarik kursi yang ada di depan dokter.
"Bagaimana keadaannya dok? Adi saya baik - baik saja kan dok?" tanya Lisa tak sabaran.
"Tenang lah nyonya. Adik anda baik - baik saja, tapi…"
"Tapi apa dok? " sela Lisa.
"Tapi ada, hal yang aneh dengan kandungan adik anda." tutur dokter.
"APA MENGANDUNG DOK?" tanya Lisa sangat kaget, saat mendengar kalau adiknya sedang mengandung.
"Bagaimana itu bisa terjadi? " gumam Lisa dalam hati.
"Apa anda tidak sala periksa dok?" tanya Lisa memastikan, Zidan menggenggam tangan Lisa , ia memberikan semangat kepada istrinya itu.
"Tidak nyonya, kami sudah memastikannya dengan sangat teliti." jawab sang dokter. Lisa terdiam mendengar kabar yang sangat mengejutkannya itu. Zidan menatap istrinya sejenak.
"Hal aneh apa yang anda maksud tadi dok? Ada dengan kandungan Rose?" tanya Zidan.
"Anak yang di kandung oleh nona Rose terkena gagal ginjal." Lisa meneteskan air matanya saat mendengar kabar yang sangat mengejutkannya lagi, malahan ini lebih parah dari yang di dengarnya tadi.
"Apa ada obat yang bisa menyembuhkannya dok?, maksud saya, adakah cara agar anak ini saat di lahirkan tidak memiliki penyakit apapun?" tanya Zidan, Lisa meremas tangan suaminya itu.
"Untuk saat ini belum pak.."
"Terus bagaimana cara mengatasinya dok?" tanya Lisa lemah
"Saran saya, lebih baik kita melakuan aborsi sekarang dari pada anak ini akan menderita kelak." pungkas dokter.
"Lakukan saja dok.…" saut ayah Andre yang berdiri di ambang pintu.
"Ayah…" ucap Zidan dan Lisa bersamaan. Ayah Andre masuk dan menghampiri mereka.
"Lakukan apa yang terbaik menurut kalian dok, asalkan putri saja tidak menderita " serunya.
"Tapi ayah, anak itu bersalah…" saut Lisa.
"Lisa, ayah tau anak itu tidak bersalah, tapi apa kamu mau melihat keponakanmu menderita menahan sakit?" tanya ayah Andre menatap Lisa. Lisa terdiam mendengar ucapan ayahnya.
~•••~