
"Tunggu, mendingan kita duduk dulu di sana. Ayo" Amel mengaja Dani untuk duduk di sofa yang ada di teras rumahnya.
"Baiklah" Mereka pun berjalan menuju sofa itu kemudian mereka mulai berbicang.
"Sudah hampir sebulan ini saya ingin meluluhkan hati anak tante, namun sampai sekarang saya belum juga berhasil mendapatkannya." ujar Dani.
"Kenapa seperti itu, apa mungkin anak saya tidak menyukai kamu. "
"Entalah tan, dulu sebelum saya melamarnya. Saya kira dia juga menyukai saya karena tidak ada tanda - tanda kalau dia akan menolak saya tan. Makanya saya mulai yakin untuk melamarnya. Namun…" Dani tak melanjutkan perkataannya.
"Tante lihat sendirikan bagaimana sekarang?" ujar Dani.
Amel diam sejenak, memikirkan langkah apa yang harus dia ambil. Dia sangat sedih mendengar pengakuan Dani tadi. Tapi tidak ingin gegabah dalam bersikap, masalahnya ini menyangkut masa depan anaknya.
"Sekarang gini aja deh, kamu pulang dulu dan lanjutkan perjuanganmu selama seminggu ke depan. Jika nanti gak juga, nanti baru tante bantu." ucap Amel, Dani menatap Amel saat mendengar calon mertuanya itu akan membantunya.
"Benarkah tan?"
"Iya, kamu tenang saja. Tapi..."
"Tapi?…"
"Tapi apa tan?" tanya Dani penasaran.
"Tapi kamu harus tunjukin ke sungguhan kamu sama anak tante" ujar Amel
"Jadi, yang selama ini bekum cukup tan?" tsbya Dani
"Bukannya gak cukup, tapi tante butuh bukti lebih. Buat tante sampai sangat yakin, kalau kamu itu orang yang tepat untuk anak tante." tutur Amel.
Sejenak Dani terdiam, tak lama kemudian ia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kepada Amel.
"Tante tenang saja, tante tidak akan menyesal memilih saya jadi calon suaminya Bella." ucap Dani dengan percaya diri
Amel menatap Dani yang terlihat sangat yakin dengan ucapannya.
"Baiklah, selamat berjuang ya" seru Amel menepuk bahu Dani. Ia pun mulai beranjak berdiri.
"Lebih baik kamu sekarang pulang, dan istirahat. tante lihat muka kamu agak pucat." seru Amel.
"Iya tan, terima kasih suport nya" ucap Dani, seraya berdiri dari duduknya.
"Kalau gitu aku pamit pulang tan" pamit Dani kepada Amel.
"Hati - hati ya..." jawab Amel sembari melambaikan tangannya.
Dani pun mulai beranjak melangkah menuju mobilnya yang terpakir di depan gerbang rumah Bella. Sebelum menjalan kan mobilnya, Dani terlebih dulu melihat kearah jendela kamar Bella.
Betapa kagetnya Dani melihat Bella yang sedang berdiri di depan jendela sembari menatapnya, Dani hanya diam melihat Bella, ia membunyikan klakson mobilnya sebelum menjalankan mobil.
Bella terus melihat kearah Dani, hingga mobil Dani sudah tidak dapat di lihatnya lagi.
"Dia bicara dengan siapa tadi?" gumam Bella.
Sebenarnya tadi Bella sempat melihat Dani yang sedang mengobrol dengan seseorang, tapi dia tidak bisa melihat siapa lawan bicara Dani.
"Yaudah lah, gak penting juga" seru nya, kemudian ia menutup kembali jendela kamarnya, tadi ia sengaja membuka jendelanya hanya untuk bisa melihat Dani
~
Dani pun sampai di rumah Lisa, dengan hati yang bahagia ia melangkah masuk kedalam rumah. Di ruang keluarga ia melihat Lisa dan Rose yang sedang bermain dengan putri mungil Lisa. Ia pun berjalan menghampiri para wanita itu dan bergabung dengannya
"Hai, keponakan Om tersayang" seru Dani, ia mencium kedua pipi gembul bayi mungil itu.
"Kaya nya ada yang lagi senang nih kak" sindir Rose tersenyum kearah Lisa.
"Iya ya, apa jangan - jangan...."
"Belum" potong Dani. Ia menatap Lisa dan Rose secara bergantian. Rose dan Lisa pun saling pandang.
"Terus, elu kenapa keliatan senang gitu?" tanya Rose.
"O itu, gue punya kabar baik? kalian tau gak, gue udah dapat restunya mama Bella dan dia juga bilang mau ngebantu gue untuk mendapatkan Bella." seru Dani tersenyum senang.
"Tumben tante Amel mau ngebantu, biasanya ni ya setau gue. Tante Amel itu paling serem kalau tau ada cowok yang suka sama anaknya." tutur Rose.
"Maksudnya gimana, elu jangan takut - takutin gue dong" ujar Dani sedikit was - was.
"Serius, gak biasanya tante Amel mau ngebantu cowok yang mau mendekati Bella"
"Tapi semoga aja sama elu, tante Amel udah berubah" ucap Rose menepuk bahu Dani. Dani terdiam mendengar ucapan sepupunya itu.
Lisa menatap kearah Rose, dari tatapannya Lisa seolah berkata ' Benarkah itu'. Rose yang seolah mengerti maksud dari tatapan kakaknya itu seketika ia langsung mebgedipkan sebelah mata nya sebagai kode.
Lisa pun menggeleng menerima kode dari Rose.
"Kamu semangat aja, Dan. Mana tau Bella benar - benar jodohmu." tutur Lisa.
"Kak, bantuin aku dong" rengek Dani kepada Lisa.
Uwek... Uwek....
"Eh... Eh. anak mama kenapa nangis cup cup..." Lisa mengendong putrinya.
"Kakak ke kamar dulu ya, kaya nya Gea udah mau tidur." ucap Lisa dan beranjak pergi ke kamar seraya menepuk - nepuk anaknya sayang.
"Rose..." panggil Dani
"Apaaan? " jawab Rose.
"Elu bantuin gue napa? "
"Gak ah..Gue gak minat jadi makcoblang." balas Rose.
"Gue gak minta eku jadi mak comblang maimunah."
"Terus apaan?" tanya Rose menoleh kearah Dani.
"Elu coba deh, kasih tau gue hal - hal apa aja yang di sukai dan gak di sukai sama Bella." ujar Dani.
"Untungnya buat gue apa?" tanya Rose
"Elu mau apa aja, pasti gue turuti." balas Dani.
"Beneran ya" tanya Rose memastikan.
"Iya, tapi elu harus bantuin gue." ujar Dani
"Elu tenang aja" jawab Rose tersenyum.
"Udah ah, gue pergi dulu" ucap Rose seraya memasukkan ponselnya kedalam tas selempangnya.
" Mau kemana?" tanya Dani
"Ke kampus" jawab Rose sembari berdiri dari duduknya.
"Mau gue antar?" tawar Dani.
"Gak usah, palingan elu modus aja ngantar gue. Pada hal elu cuma mau ketemu sama Bella ya kan" cibir Rose berlalu pergi.
"Susah kalau punya sesepu gila" ujar Dani.
Setelah Rose pergi Dani pun ikut pergi meninggalkan ruang keluarga, ia lebih memilih masuk ke dalam kamar sementaranya di rumah Lisa.
Di dalam kamar terlihat Dani sedang sibuk menyusun rencana - rencana nya untuk menaklukan Bella.
~
~•••~
Jangan lupa like dan komennya ya.
Terima kasih💜