ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Keputusan Rose


Cekle, Lisa membuka pintu kamar.


"Eh bi Mery, ada apa?" tanya Lisa saat melihat Mery berdiri di depan pintu kamarnya.


"Itu nyah, di depan ada seorang laki - laki yang lagi nyariin nyonya." ucap Mery.


"Siapa bi?" tanya Lisa.


"Saya juga tidak nyah." jawab Mery.


"Baiklah, suruh dia nunggu saya di ruang tamu dan tolong buatkan minum ya bi!" suruh Lisa.


"Baik nya" saut Mery. Lisa pun kembali menutup pintu dan menghampiri suaminya.


"Siapa?" tanya Zidan. Lisa mendudukkan tubuhnya di tempat semula.


"Gak tau juga,"Jawab Lisa, ia meraih piring makanan yang ada di atas meja dan hendak menyuapi Zidan.


"Tapi ada tamu, pergilah temui dia." ucap Zidan


"Nanti aja, setelah aku suapi kamu." balas Lisa


"Buka mulutnya!!" seru Lisa.


"Biar aku makan sendiri, kamu kira aku sakit parah sampai gak bisa makan sendiri." ujar Lisa.


"Tapi katanya tadi kamu minta di suapi" ucap Lisa.


"Iya itu tadi, sekarang pergilah temui orang itu. mana tau penting, pergilah!!" Zidan mendorong pelan tubuh Lisa.


"Hais… Iya iya, awas kalau minta suapi lagi." ancam Lisa. Ia meletakkan kembali piringnya dan berlalu pergi.


Sepanjang langkahnya menuju ruang tamu, mulut Lisa tak henti - hentinya menggerutu. Saat sampa di ruang tamu Lisa sangat kaget melihat Ronal.


"Kamu…" ucap Lisa saat melihat Ronal sedang duduk di ruang tamunya.


"Hai kak Lisa." sapa Ronal.


"Kamu ngapain disini?" tanya Lisa dengan nada jutek. Lisa mendudukkan dirinya di kursi yang agak jauh dari Ronal.


"Aku kesini mau mencari Rose Kak"


"Cari Rose? Ngapain lagi amu cari dia?" tanya Lisa sinis.


"Kakak santai dulu dong, gak usah gitu juga nada bicaranya. Saya kesini tu dengan niat baik." ujar Ronal, dia sangat tidak menyukai dengan nadan dan tatapan mata Lisa.


"Niat baik apa? Saya tidak butuh niat baik mu itu, yang jelas, saya tidak mau lagi kamu deketin Rose." ujar Lisa menatap Ronal dengan tatapan membunuh.


"Gak bisa gitu dong kak, saya itu cuma mau bertanggung jawab dengan Rose" protes Ronal.


"Sudah saya bilang, saya tidak butuh pertanggung jawabanmu, yang saya butuhkan itu hanya satu. Tolong pergi jauh - jauh dari Rose, itu aja BISA KAN" seru Lisa.


"Tapi…"


"Apa kau tidak mendengar ucapannya!!" saut Zidan tiba - tiba sudah berdiri tidk jauh dari mereka.


"Zidan" panggil Lisa. Zidan pun berjalan menghampiri Lisa.


"Ini tidak ada hubungannya dengan anda. Pokoknya saya akan memperjuangkan Rose." kekeh Ronal.


"Sebenarnya, apa yang sudah kau rencanakan di balik pertanggung jawabanmu ini?" tanya Zidan, menatap Ronal penuh selidik.


"Apa maksudmu?" tanya Ronal, pura - pura tidak mengerti. Zidan tersenyum mendengarnya dan ia melangkah mendekati Ronal.


"Jangan cari masalah dengan keluarga gue, atau hidup elu berakhir di tangan gue." bisik Zidan. Tubuh Ronal menegang seketika saat mendengar ucapan Zidan.Tanpa sepata kata pun Ronal berlalu pergi meninggalkan rumah mereka.


"Kamu ngomong apa, sampai muka dia pucat kaya gitu?" tanya Lisa bingung.


"Bukan apa - apa" jawab Zidan tersenyum. Ia berjalan mendekati Lisa.


"Yuk, temani aku makan" ajak Zidan memeluk bahu Lisa.


~


Malam harinya, pada saat makan malam Rose tiba c tiba memberitahu kepada kekuarganya kalau ia ingin tinggal dengan Oma nya.


"Benarkah itu sayang?" tanya oma senang.


"Iya Oma, aku juga sudah menyuruh bi Anah untuk menyiapkan barang - barang Rose" seru Rose semangat.


Oma sangat senang mendengar kalau cucunya ingin tinggal dengannya, berbeda dengan ayah Andre yang langsung terdiam saat mendengar keputusan Rose.


"Tidak apa - apa, ayah hanyak capek saja." kila ayah Andre.


"Aku sudah selesai, aku dulu ya mah, Dik dan semua" pamit ayah Andre, ia langsung berdiri dan berlalu pergi ke kamarnya.


Semua orang yang ada di meja makan pun terdiam memperhatikan kepergian ayah Andre.


"Kayanya paman tidak setuju dengan keputusan mu itu Rose" ujar Dani.


"Kakak bantu aku bujuk ayah ya." pinta Rose menatap Lisa.


"Iya, nanti kakak coba" ucap Lisa. Ia sangat mengerti dengan alasan adiknya dengan pindah ke ruah oma.


"Nanti paman juga akan coba bantu memberi pengertian kepada ayahmu" seru Dika.


"Sudah, sudah sekarang ayo kita lanjutkan lagi makannya." seru mama Lilis.


~


Setelah selesai makan malam, Lisa pun pergi ke kamar ayahnya.


Tok… Tok…


"Ayah, apa sudah tidur…" panggil Lisa


Tok… Tok…


Ceklek, ayahnya membukakan pintu kamar untuk Lisa.


"Ada apa sayang, ayo masuklah!" ucap ayah Andre, Lisa pun masuk ke kamar ayahnya .


Ayah Andre mengajak putrinya itu untuk duduk di sofa yang ada di kamar itu.


"Ada apa nak?" tanya Andre.


"Kenapa ayah tampak murung?"


"Apa ayah tidak senang kalau Rose tinggal dengan Oma?" tanya Lisa menatap ayahnya.


"Bukannya gitu nak, ayah cuma sedih aja akan di tinggal sendiri oleh adikmu." ucap Andre.


"Yah, aku ngerti bagaimana perasaan ayah. Tapi ini demi kebaikan Rose sendiri yah, dia di sana cuma ingin menenangkan dirinya."


"Ayah tau sendirikan bagaimana kondisi Rose sekarang. Dia sangat tertekan kalau tinggal disini yah. Karna disini, begitu banyak kenangan dia dengan Daniel." Andre terdiam mendengar perkataan putri sulungnya itu.


"Yah…" Lisa memeluk ayahnya, dia mencoba memberikan pengertian kepada ayahnya.


"Iya nak ayah sangat mengerti, baiklah ayah akan mengizin kannya untuk tinggal dengan Oma." ujar Andre membalas pelukan anaknya itu.


"Rose itu sudah besar yah, biarkanlah dia membuat keputusan sendiri" ucap Lisa. Andre mengangguk kan kepalanya.


"Terima kasih ya nak, kamu selalu bisa menenangkan hati ayah." ucap Andre.


Lisa melepaskan pelukannya dan menatap ayahnya dengan senyuman terbaiknya.


"Kalau ayah takut kesepian, ayah boleh kok tinggal di sini bareng aku dan Zidan." ajak Lisa.


"Tidak usah nak, kalau ayah tinggal dengan kalian. Terus rumah kita siapa yang jagainnya?"


"Kan ada bi Anah dan mang Dadang yah." ucap Lisa.


"Gak lah nak, biarlah ayah tinggal di rumah aja, lagian Rose kan perginya cuma sebentar aja." tolak ayah Andre halus.


"Yasudah, sekarang kamu pergi lah ke kamar. Kasihan dia sudah menggumu dari tadi." ucap ayah Andre sengaja menyindir Zidan yang berdiri di deoan pintu.


"Siapa? " tanya Lisa yang memang gak tau kalau suaminya itu mengikutinya kesini.


"Masuklah nak!!" seru ayah Andre. Zidan pun masuk ke kamar ayah mertuanya itu.


"Hehe… Ayah lihat ya." ucap Zidan. Ia menggarut tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Andre tidak menjawab ia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada menantunya itu.


"Yaudah kalau gitu kita ke kamar dulu ya yah, pengawalnya udah datang" gurau Lisa.


"Selamat malam ayah" ucap Zidan


"Iya kalian juga." balas ayah Andre. Zidan dan Lisa pun berlalu pergi dari kamar Andre.


~•••~