ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Maafkan Aku


"Makan malamnya mana?" tanya Zidan melihat lisa duduk santai didepan tv"


"Bentar" jawab Lisa singkat.


5 menit kemudian


Zidan Menghampiri Lisa di dapur.


"Cepatlah!! gw udah lapar" ucap Zidan.


"Kalau mau cepat, yaudah bantuin dong" balas Lisa.


"Malas" ujar Zidan santai berlalu pergi keruang keluarga.


"Dasar nyebelin" Lisa kesal. Lisa menata makanan yang telah dimasaknya dan kemudian dia memanggil Zidan.


" Makanannya udah siap yuk makan" ucap Lisa menghampiri Zidan.


"Hm" Zidan mengikuti Lisa ke meja makan.


"Ini ambilah" Lisa mengulurkan piring yang sudah iya isi dengan makanan. Zidan mengambilnya tanpa banyak bicara.


Lisa menatap Zidan yang sedang makan. Dia heran kenapa Zidan tidak protes tentang makanan yang dimasak oleh nya.


"Kenapa dia hanya diam?" pikir Lisa.


Setelah makanannya habis Zidan pergi begitu saja tanpa bicara sepata kata pun kepada Lisa.


"Dia kenapa?" gumam Lisa heran.


Lisa menghabiskan makanannya dengan cepat, kemudian dia membereskan meja makan.


"Gw susul dia aja deh" ujarnya pergi kemar.


Ceklek


Sesampainya di kamar dia melihat Zidan tiduran di ranjang.


"Habis makan langsung tidur? dasar kebo" seru Lisa heran.


Lisa berlalu mengambil tasnya dan mengeluarkan buku sketsanya. Dia duduk disamping ranjang tempat dia tidur semalam.


"Mending gw lanjut kerja aja" pikirnya mulai mencoret - coret buku sketsanya. Saat Lisa sedang asik menggambar dia tiba - tiba mendengar deru napas Zidan yang tidak normal.


Lisa berdiri dari duduknya dan menghampiri Zidan.


"Dia kenapa?Zidan....Zidan" Lisa membangunkan Zidan, tapi Zidan tak kunjung bangun yang ada suara napas Zidan yang semakin berat. Lisa panik dan tak tahu harus berbuat apa .


"Zidan bangun, lu jangan becanda deh" ujarnya panik, Lisa meletakkan tangannya di dahi Zidan.


" Panas banget, gw harus gimana ini." panik Lisa


"Mending gw telpon mama aja" Lisa mengambil ponselnya dan menghubungi mertuanya.


Tuuutt....tuuuuu...


Namun Lilis tidak mengangkat telponnya,Lisa tambah panik kemudian dia mencoba menghubungi Dika


Tuuuttt..Tuutttt....


Halo ~ papa Dika


Halo pa. Pa, mama mana? ~ Lisa


Tunggu sebentar papa panggilin ya ~ papa Dika


Halo Lis, apa kabar sayang? ~ mama Lilis.


Halo ma, kabar Lisa baik ma ~ mama Lilis.


Suara kamu kenapa sayang, kamu nangis? ~ mama Lilis.


Ma Lisa mau nanya, ini Zidan lagi demam tinggi dan napasnya sesak banget itu kenapa ya ma? dan pas Lisa bangunin, dia gak bangun - bangun. ~ Lisa


Kamu jangan panik ya, itu mungkin karena Zidan makan makanan yang pedas. Dia alergi pedas ~ mama Lilis.


APA MA ~ Lisa


Aduh sayang jangan teriak dong ntar mama budeg gimana? ~ mama Lilis


Sorry ma ~Lisa


Emang kenapa kamu sampai teriak begitu? ~ mama Lilis


Ma, Lisa gak tau kalau Zidan alergi sama makanan pedas, jadi tadi Lisa bikin makanan yang ekstra pedas. trus ini gimana ma, Lisa takut Zidan gak bangun - bangun lagi ~ Lisa.


Baiklah mama, kalau gitu telponnya Lisa tutup dulu ya ma ~ Lisa


Iya sayang, bye ~ mama Lilis.


Lisa meletakkan ponselnya di atas meja disamping ranjang.


"Tasnya dia simpan dimana ya?" gumam Lisa mencari tas kerja Zidan.


"Oiya diruang kerja" Lisa berlari keruang kerja dan melihat tas kerja Zidan dia atas meja.


"Nah ini dia" teriak Lisa senang menemukan obat Zidan. sebelum kekamar Lisa pergi ke dapur terlebih dahulu dia mengambil air minum.


"Zidan bangun lah, ini minum obatnya dulu" Zidan bangun dan dibantu duduk oleh Lisa.


"Ah syukurlah lu udah sadar" gumam Lisa pelan


"Makasih" ucap Zidan setelah dia meminum obatnya.


"Tidur lah lagi dan maaf sudah membuat lu jadi kaya gini" gumam Lisa menyesal.


Zidan menatap Lisa yang sedang menunduk


"Tidak apa - apa" ucap Zidan. Dia kembali tidur meski napasnya sangat sesak.


Lisa pergi kedapur mengambil air panas dan handuk kecil untuk mengompres Zidan.


Saat kembali kekamar Lisa mengecek suhu tubuh Zidan. "Masih panas" gumamnya, dia meletakkan kain kompres di dahi Zidan dan membenarkan letak selimutnya. Lisa merawat Zidan sampai larut malam hingga dia tertidur sambil duduk disamping Zidan.


Pagi harinya, Zidan bangun terlebih dahulu dan mendapati Lisa yang tidur sambil duduk disampingnya dan yang membuat kagetnya, Lisa menggenggam erat tangannya. Zidan tersenyum senang Melihat tangannya yang di pegang Lisa.


Tak lama kemudian Lisa pun bangun dan dengan spontan Zidan menutup matanya kembali.


"Hoamm... Aduh badanku rasanya remuk semua" ujar Lisa merenggangkan otot - ototnya.


"Syukurlah demamnya sudah turun" ucap Lisa memeriksa suhu tubuh Zidan.


Lisa pergi kemar mandi untuk cuci muka dan kemudian dia pergi kedapur untuk membuatkan Zidan Bubur.


Dikamar Zidan sangat senang mendapatkan perhatian dari Lisa.


"Haruskah gw mengorbankan nyawa dulu biar lu perhatian sama gw" gumam Zidan pelan. Dia bangun dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai, Zidan pun turun kebawah dan menghampiri Lisa.


"Sudah bangun, duduklah gw buatkan bubur" ujar Lisa yang melihat Zidan berdiri diambang pintu ruang makan.


Zidan tak menjawab dia hanya nurut perkataan Lisa. Lisa meletakkan semangkuk bubur dan segelas susu coklat kesukaan Zidan.


"Makanlah" suruh Lisa. Namun Zidan hanya menatap makanan didepannya.


"Lu tenang aja, itu aman kok." ujar Lisa yang melihat Zidan ragu untuk memakan sarapannya.


"Nih gw buktiin " ucap Lisa. Zidan menatap Lisa yang memakan buburnya.


"Aman kan" ucap Lisa.


"Iya tadi aman, sekarang jadi tidak aman" sahut Zidan.


"Maksudnya?" tanya Lisa.


"Bekas Lu yang bikin gak aman" ujar Zidan.


"Hehe... Iya iya gw ganti, lagian bekas gw gak akan buat lo mati kok" Lisa mengganti bubur Zidan dengan yang baru.


Zidan mulai nemakan bubur dan susu yang telah di siapkan oleh Lisa.


"Hm...Soal yang semalam gw minta maaf ya. Gw benar - benar gak tau kalau lu itu gak bisa makan pedas" Lisa minta maaf kepada Zidan.


"Lupain aja" jawab Zidan.


"Hm... Sebagai permintaan maaf gw, Lu hari ini mau makan apa biar gw masakin?" tanya Lisa.


"Nggak ada, masak aja seperti biasa. Gw selesai" ucap Zidan meletakkan sendok dan berlalu pergi kekamar.


Lisa menatap Zidan, dia semakin merasa bersalah


"Gw harus gimana?" ujar Lisa frustasi.


Seharian penuh Lisa bersikap manis kepada Zidan tetapi Zidan malah tidak menanggapinya. Hal itu membuat Lisa semakin pusing dibuatnya.


"Mungkin dengan begini lu bisa jerah dan lebih baik lagi sama gw" pikir Zidan yang melihat Lisa sedang memasakkan makanan kesukaannya yang dia tahu, Lisa tadi menelpon mamanya untuk menanyakan makanan kesukaannya.


~•••~