ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Ingat, ini semua tidak gratis


Zidan menemui Lisa di lobby, lalu ia mengajak istrinya ity masuknke dalam mobil dan segera melaju meninggalkan kantor dan menuju ke tempat anak rekan bisnis papanya tersebut.


Lisa sedari tadi memperhatikan Zidan yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.


"Zi, kau mau mengajak ku kemana?"tanya Lisa.


"Mengukur jalan!" saut Zidan dengan kesal.


"Ngukur jalan? Zi, aku tidak becanda!"


"Masih saja bertanya! aku kan tadi sudang bilang, aku mau kau menemaniku unyuk menemui anak rekan bisnis papa!"imbuhnya.


"Kalau begitu kita mampir dulu ke boutique, aku mau mengganti pakaianku."


"Memangnya, kenapa dengan pakaianmu?" tanya Zidan sambil mengernyit heran, ia memperhatikan pakaian yang sedang dikenakan oleh istrinya itu, namun tidak ada noda maupun kerusakan di pakaian tersebut.


"Biarkan aku mengganti pakaian ku terlebih dahulu dan aku juga ingin bedandan sedikit."


"Mau berdandan untuk siapa? Kau jangan macam - macam ya!" seru Zidan.


"Memangnya siapa yang mau macam - macam? Aku hanya tidak ingin mempermalukanmu itu saja,!"bantah Lisa.


Zidan terdiam sejenak, mendengus kesal, kemudian mengiyakan permintaan istri nya itu. Ia memutar aeah mobilnya dan melaju kan mobilnya menuju boutique istrinya itu.


Sesampainya di boutique, Lisa keluar dengan cepat - cepat berlari masuk ke boutique, ia dengan terburu - buru mengambil baju yang dikiranya cocok dipakainya untuk menemani suaminya ke pertemuannya dengan anak rekan bisnis papa mertuannya itu.


Zidan terlihat sedang menunggu Lisa di dalam mobil. Sudah hampir tiga puluh menit lamanya, ia menunggi istrinya di dalam sana. Merasa kesal, Zidan meraih ponselnya dan hendak menelpon Lisa.


Namun, ia urungkan tatkala pintu mobilnya terbuka dan wanita yang telah menjadi istrinya itu masuk kedalam mobil dan mendudukan tubuhnya di kursi samping Zidan.


"Ayo, Zi. Aku sudah siap." Lisa segera memasang seat belt di tubuhnya.


Pakaian yang di pakai oleh Lisa terlihat berbeda darisebelumnya, blezzer berwara milk white yang saat ini ia kenakan membuatnya semakin terlihat lebih dewasa. Terlebih lagi rambutnya di biarkan tergerai begitu saja.


Meskipun penampilannya tidak jauh berbeda dari sebelumnya, namun entah kenapa membiat wanita itu bisa terlihat lebih cantik hingga membuat Zidan tak bergeming saat melihatnya.


"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" tanya Lisa dengan tatapan heran.


"Apa ada yabg salah dengan cara berpakaianku?" tanya Lisa.


"Iya! Mengganti pakaian saja kau lama sekali! Hampir saja aku maumembakar boutique mu ini karna kau membuatku terlalu lama menunggu."seru Zidan.


"Kau ini, selalu saja emosi!"


Zidan tak menghiraukan celotehan Lisa ia menyalakan mobilnya dan melajukan kmbali mobilnya yang ia kendarai itu ke tempat tujuannya tersebut. Selama dalam pejalanan, Zidan tak henti - hentinya mencuri pandang kearah istrinya yang duduk di sampingnya itu.


"Ikat rambutmu seperti biasa!"Mendengar perkataan suaminya itu membuat Lisa yang sedang memperhatikan jalan segera menoleh ke arah suaminya itu.


"Kenapa memangnya?" tanya Lisa.


"Sudah ikat saja! aku tidak suka melihat rambutmu tergerai seperti itu.!"


"Aku jelek ya, kalau kaya gini?"tanya Lisa


"Memangnya sejak kapan kau cantik?" jawab Zidan melirik istrinya sejenak.


"Tadi kata Sindy aku terlihat cantik jika rambutku di geraikan seperti ini" ucap Lisa dengan polosnya.


"Itulah sebabnya!"


"Sebabnya? sebabnya apa? bicaralah yang jelas!" tanya Lisa, ia mengernyit bingung akan ucapan suaminya.


"Bukan apa - apa, sudahlah , cepat ikat rambutmu itu!"


"Tapi Zi..."


"Mau kau ikat sendiri atau aku yang akan mencukurnya hingga botak" ancam Zidan.


"Baiklah akan ku ikat" Lisa mendengus kesal. Zidan pun memperhatikan istrinya itu yang sedang sibuk mengikat rambutnya.


"Kalau rambutmu di ikat seperti itu kan, lebih bagus dari pada tadi" ujar Zidan.


"Memangnya kenapa kalau rambutku di gerai seperti tadi?" tanya Lisa kesal, sebenarnya ia suka penampilannya seperti tadi.


"Kau tadi seperti hantu" jawab Zidan, sambil menahan tawanya.


"Sudah diam lah, fokuslah ke jalanan." ujar Lisa ketus. Zidan hanya diam menanggapi ucapa istrinya itu.


~


Setibanya di tempat tujuannya, Zidan memakirkan mobilnya di basemant, ia mengajak Lisa untuk trun dari sana.


"Ayo..."


"Tunggu.." suara Lisa menghentikan Zidan yang hendak membuka pintu mobil


"Apa?" tanya Zidan sambil berdecak.


"Kau menculikku dari boutique dan mengajaku kesana kemari, seharian kau juga memerintahku ini dan itu!"


"Ingat, ini semua tidaklah gratis!.." seru Lisa sambil melebarkan kedua matanya dan menaik turunkan alisnya.


Zidan tersenyum."oh kau sudah berani ya sekarang"


"Kau saja berani, kenapa aku tidak berani" saut Lisa sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Tenang saja, aku akan membayarnya nanti" ujarnya sambil tersenyum penuh arti.


"Ayo turun!" perintah Zidan, ia melanjutkan kembali niatnya untuk turun dari mobil dan mengajak istrinya itu untuk masuk ke dalam perusahaan anak dari rekan bisnis papanya itu.


"Ingat, ini tidak gratis!" Lisa mengingatkan kembali sambil menunjukkan jarinya kepada suaminya itu.


"Banyak bicara..." Zidan mengapit kepala Lisa dibawah lengan tangannya dan berjalan dengan sangat cepat, hingga wanita itu meronta monta di lepaskan.


"Zidan,lepaskan aku...Lepaskan..." Zidan pun melepaskan istrinya itu dan menarik tangannya.


Perusahaan yang Zidan pijaki saat ini, terlihat jauh lebih besar dari pada perusahaan yang di pimpinnya saat ini. Banyak sekali orang penting yang berlalu lalang di sana, menunjukkan bahwa perusahaan itu memanglah sangat berpengaruh.


Zidan menghentikan langkah kakinya tepat di lobby utama.


"Benar kata papa, perusahaan ini sangat besar dan sangat berpengaruh di negara ini. Kalau aku bisa mendapat kan kerja sama dengan perusahaan ini, perusahaanku pasti juga aakn ikut menanjak, dan aku tidak akan bisa di ancam lagi sama papa." Zidan bergumam sambil memperhatikan sekitanya.


"Tunggulah disini.. aku mau ke toilet sebentar!" Zidan melepaskan tangannya yang kala itu masih mengandeng tangan Lisa dan memastikan bahwa istrinya duduk di tempat yang ia pilihkan untuknya.


"Jangan ke mana - mana! tunggu aku disini kau mengerti!" Lisa seperti anak kecil yang mengiyakan setiap apa kata suaminya tersebut.


Merasa asing, Lisa memperhatikan sekitar dengan tatapan bingung. Seseorang tiba - tiba menghampirinya, membuyarkan pandangannya yang tak jelas arah.


"Lisa..." panggilan itu membuat Lisa mendongakkan wajahnya ke atas. Ia melihat seorang laki - laki sedang berdiri di sampingnya dengan senyuman melebgkung di bibirbya. Lisa mengernyit, sebab laki - laki yang ada di sampingnya saat ini sangatlah tidak asing baginya.


~•••~


Siapakah laki - laki yang datang menghampiri Lisa tersebut?...


Tunggu di up selanjutnya ya, jangan bosan - bosan menunggu


.


.


.


.


Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐


Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜