
Paginya, Lisa mulai membuka mata, dan ia merasa semua badannya terasa kaku.
"Ini badan kok pegal - pegal semua ya" gumam Lisa. Lisa belum menyadari dimana di berada. Ia beranjak duduk dan betapa kagetnya di saat melihat sekeliling.
"Kenapa aku bisa disini?...." ucapnya heran.
"Pantas saja badanku rasanya remuk gini,...."
"Ini pasti ulah Zidan... Haish dasar suami gak ada akhlak." gerutu Lisa sembari beranjak keluar dari bath up.
Saat Lisa keluar dari kamar mandi, ia melihat suaminya sedang tertidur pulas di atas tempat tidur.
"Enak dan nyaman sekali dia tidur di sana...." gumam Lisa sembari berjalan mendekati suaminya itu.
"Zi ppfft..." Lisa tidak bisa melanjutkan ucapannya, dia merasa perutnya tiba - tiba mual dan seperti sedang diaduk - aduk. Lisa berlari dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi.
Zidan terbangun saat mendengar suara Lisa yang sedang muntah - muntah di kamar mandi. Ia pun segera beranjak dari tempat tidur dan berlari meng hampiri istrinya tersebut.
"Kau kenapa?" tanya Zidan, sambil memijit - mijit tengkuk Lisa. Lisa tidak menjawab pertanyaan Zidan, dia hanya menggelengkan kepalanya.
Lisa mencuci mulutnya saat di rasa dia tidak akan muntah lagi. Zidan dengan telaten mengelap mulut istrinya itu dan membawanya kembali kedalam kamar, Zidan membantu Lisa untuk berbaring.
"Tunggu lah, disini sebentar!" seru Zidan, ia beranjak keluar dari kamar.
"Mau apa dia, sok - sok bertanggung jawab pppfffttt..." saat Lisa menggerutu kesal tentabg suaminya, tiba - tiba rasa mual itu kembali menyerangnya. Lisa kembali berlari ke kamar mandi.
Tak lama, Zidan pun masuk kedalam kamar. awalnya kaget saat tidak melihat Lisa di atas tempat tidur. Tapi, setelah mendengar suaranya di dalam kamar mandi Zidan pun langsung tau dimana keberadaan istrinya itu.
Ia meletakan teh yang dibawanya tadi ke atas meja, kemudian ia pergi menyusul Lisa kedalam kamar mandi.
"Apa masih mual?" tanya Zidan. Lisa tidak menjawab, ia terlalu sibuk dengan rasa mual di perutnya.
"Aku lemas sekali" ujar Lisa, dengan sigap Zidan pun menggedong Lisa dan membawanya kembali keranjang.
"Apa perlu aku panggilkan dokter?" tanya Zidan khawatir.
"Tidak perlu, ini hanya masuk angin" jawab Lisa. Zidan pun terdiam mendengar ucap Lisa.
"Masuk angin? berarti dia seperti ini karna aku?" gumam Zidan dalam hati.
"Maaf kan aku..." ucap Zidan menundukkan kepalanya. Lisa kaget saat mendengar ucapan Zidan.
"Maaf kan aku..." ulangnya lagi. Lisa menyentuh kepala Zidan , kemudian di angkatnya wajah Zidan yang sedang menuntuk itu, hingga kini Zidan mentapa wajah Lisa.
"Kau menangis? Kenapa?...." tanya Lisa kaget saat melihat genangan air di sudut mata Zidan.
"Karna kelakuan bodohku, kau jadi seperti ini..." ucap Zidan.
"Ini hanya masuk angin biasa, kau tidak perlu khawatir begitu.." balas Lisa, berusaha menenangkan suaminya itu.
"Tapi, tetap saja a..." perkataan Zidan dipotong oleh Lisa. Lisa tiba - tiba mengecup bibir Zidan.
"Stop menyalahkan dirimu..."
"Ini hanya masuk angin, dan nanti juga akan hilang." ucap Lisa. Zidan sangat kaget dengan viuman mendadak dari istrinya itu.
"Kau sekarang sudah berani ya..." seru Zidan.
"Maksudnya, bera.." Zidan tiba - tiba menarik tengkuk Lisa dan mencium bibir istrinya itu dengan lembut.
"Kalau ciuman itu, lakukan lah dengan benar. Ok" ucap Zidan saat melepaskan pagutan bibirnya. Zidan hendak beranjak berdiri, ia ingin mengambil gelas teh yang dibawanya tadi untuk Lisa.
Namun, belum sempat Zidan meraih gelas tersbut, Lisa sudah menariknya, hingga Zidan terjatuh diatas tubuh Lisa.
"Mulai nakal ya kamu..." ujar Zidan, Lisa tersenyum genit menatap suaminya. Zidan mengerti maksud dari istrinya itu dan ia pun dengan senang hati memenuhi keinginan istrinya itu.
~
Pagi - pagi sekali Bella sudah menenghubungi Ronal, dan menyuruh Ronal untuk datang ke rumah sakit.
"Mana tu cewek, katanya jam 8. Ini sudah jam 9 masih aja belum kelihatan batang hidungnya." gerutu Ronal kesal. Bagaimana tidak kesal ia sudah 1 jam menunggu Bella.
Ronal mengeluarkan ponselnya dan mencari nama kontak Bella.
"Hallo"
"Elu dimana?" tanya Ronal.
"Ngapain elu nanyain gue di mana?" protes Bella.
"Elu gimana sih, gue udah nungguin elu dari tadi? Jadi gak usah becanda…" seru Ronal.
"Lah ngapain elu nungguin gue?" tanya Bella yang pura - pura lupa.
"Gak usah pura - pura lupa, cepatan kesini!! Atau elu mau gue jemput kerumah?" Ronal benar - benar kesal di buatnya.
"Gue gak mau tau, pokoknya dalam waktu sepuluh menit elu harus udah sampai disini!! Awas kalau nggak, kita liat aja nanti!!!" imbuh Ronal yang tidak membiarkn Bella untuk menjawab.Dia tau jawaban Bella hanya akan membuatnya makin kesal.
Sementara Bella menatap ponselnya yang sudah mati. Ia tersenyum mendengar ancaman yang ucapkam oleh Ronal.
"Elu berani ngancem gue? Kita liat aja, siapa yang menang. Gue bakal bikin elu kesal, sekesal - kesalnya." gumam Bella. Sebenarnya Bella sudah berada di Rumah sakit dari tadi, tapi dia sengaja tidak menghampiri Ronal.
Bella melihat Jam tangannya, disana sudah menunjukkan jam 10. Berarti sudah 2 jam Ronal menunggunya, Bella keluar dari mobil dan ia pergi menemui Ronal yabg sedang menunggunya di loby.
"Hai, sudah lama?" tanya Bella basa basi.
"Menurut elo gimana? Janji jam berapa, datang jam berapa. Dasar jam karet " gerutu Ronal.
"Elu kaya cewek, Cerewet amat." Ujar Bella berlalu pergi meninggalkan Ronal.
"Eh elu mau kemana?" tanya Ronal.
"Follow me" ucap Bella terus berjalan. Ronal dengan cepat mengikuti Bella dari belakang.
"Kita lewat tangga? gak pake lift aja?" tanya Ronal, saat Bella mengajaknya lewat tangga darurat.
"Mau gimana lagi, liftnya lagi rusak." jawab Bella
"Kenapa, elu gak kuat naik tangga, lembek amat jadi cowok." ejek Bella.
" Hais, untung elu cewek, kalau cowok. ih..." geram Ronal.
"Emang kenapa kalau cowok?" tanya Bella.
"Gak ada, pengen gue ajak mabar aja" jawab Ronal berjalan mendahului Bella.
"Ayo!!… " ajaknya.
"Elo duluan aja, nanti gue nyusul"
"Lah kok gitu,gak ada. Pokoknya ayo bareng gue" Ronal menarik tangan Bella.
"Gue mau ke toilet dulu, ntar gue nyusul." Bella menepis tangan Ronal.
"Beneran ya, awas kalau elu bohong" ancam Ronal.
"Sok ngancem, iya ntar gue nyusul. Udah pergi sana" usir Bella. Setelah melihat Ronal pergi, Bella pun berjalan menuju lift.
"Rasain elu, siapa suruh elo berani - beraninya ngehamili sahabat gue"seru Bella tersenyum puas.
~
Lisa terbangun dari tidur paginya, ia melihat ke samping dan menatap suaminya yang masih tertidur pulas.
"Tampan sekali… alisnya juga tebal dan bibirnya…" Lisa menghentikan ucapannya.
"Kenapa aku jadi seperti ini, dan kenapa bibirnya terlihat sangat menggoda.." gumam Lisa, ia masih menatap bibir suaminya.
"Tidak, tidak.… Otak ku sudah terkontaminasi dengan virus mesum Zidan" ucap Lisa pelan
"Mesum…"
~•••~