ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Setidaknya gue adalah ayahnya


Dokter pun dengan cepat memeriksa kondisi Zidan, dokter pun tersenyum saat ia selesai memeriksa Zidan.


"Bagaimana Dok? Apa anak saya sakit parah?" tanya mama Lilis. Lisa yang baru datang kembali ke kamar pun langsung berjalan dengan cepat menghampiri Suaminya itu.


"Bagaimana?"tanya Lisa.


"Tuan Zidan…" dokter menggantung jawabannya karna dia heran dengan penampilan Lisa.


"Nona, anda kenapa berpakaian seperti ini?" tanya dokter. Semua orang pun menatap Lisa heran.


"Oh ini, kan suami saya gak bisa liat wajah saya dok. Makanya saya pake masker dan kaca mata kaya gini, biar saya bisa dekat dengannya." jelas Lisa. Zidan tersenyum mendengar jawab istrinya itu.


"Jadi, bagaimana kondisi suami saya dok?" tanya Lisa lagi.


"Tuan Zidan baik - baik saja, dia hanya terkena morning sickness." ucap dokter.


"Tapi bukannya itu akan terjadi pada calon ibu dok, dan aneh nya saya tidak mengalaminya dok." seru Lisa.


"Morning sickness tidak hanya terjadi pada calon ibu saja, calon ayah pun juga sering mengalaminya."


"Kok aneh banget sih dok" saut Rose.


"Itu bukan hal yang aneh nona. Hal ini juga sering terjadi pada calon ayah. Bahkan, ada istilah ilmiah untuk femonena para calon ayah yang ikut merasakan mual-mual tersebut, yakni sindrom couvade. Sindrom couvade adalah kondisi di mana suami ikut mengalami gejala-gejala kehamilan, seperti berat badan naik, mual, insomnia, dan juga mood swing."


"Dan dari gejala - gejala yang di alami tuan Zidan, dia sedang mengalami morning sickness dia menggantikan sang calon ibun." terang dokter. Semua orang mengangguk mengerti.


"Kamu semangat ya sayang, kaya nya anak kamu lebih sayang mamanya dari pada kamu" ucap mama Lilis sambil tersenyum.


"Kok kalian pada senyum sih? Kalian senang ya liat aku menderita kaya gini!" ucap Zidan cemberut.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu ya semua"


"Kalau ada apa - apa, hubungi saya aja." ucap dokter Melisa.


"Iya, makasih ya dok." jawab Lisa.


"Dani, tolong antar dokter Melisa sampai depan ya." suruh Lisa.


"Yuk dok mar" Dani mulai pergi meninggalkan kamar itu dengan dokter itu.


"Gimana udah mendingankan?" tanya mama Lilis.


"Udah sih mah, kan aku mualnya pas lihat mukanya Lisa aja" jawab Zidan menatap waja Lisa yang di tutup pake masker.


"Yuadah kalau gitu mama dan Rose kembali kebawah. Kalian sebentar lagi turun lah, untuk sarapan." seru mama Lilis.


"Iya mah"Jawab Zidan.


"Ayo Rose kita sarapan." ajak mama Lilis mengandeng tangan Rose.


Setelah mama Lilis dan Rose pergi, Lisa menatap suaminya itu.


"Sorry…" ucap Lisa pelan


"Sorry untuk apa?" tanya Zidan


"Karna aku kamu jadi muntah - muntah kaya gitu." ujar Lisa menundukkan kepalanya, ia benar - benar kasihan melihat kondisi suaminya saat ini.


"Sayang hey… Coba tatap aku" Zidan mengangkat wajah Lisa.


"Ini bukan saah kamu." Lisa menatap wajah suaminya dan menggelengkan kepalanya. Zidan meraih kepala Lisa dan membawanya kedalam pelukannya.


"Kamu tau gak sih, ini tu bukti cinta aku ke kamu…" Ucap Zidan, Lisa mengangkat wajahnya menatap Zidan bingung.


"Saking besarna cinta ku ke kamu, sampai - sampai morning sickness pun aku gantiin. Aku gak kebayang aja kalau kamu yang mengalami hal ini." Ujar Zidan mengalus rambut Lisa sayang.


"Kamu bisa aja…" seru Lisa memukul dada Zidan pelan.


~


Di meja makan, semua orang sudah berkumpul kecuali Zidan dan Lisa.


"Zidan dan Lisa kemana? Kok dari tadi aku gak ada melihat mereka?" tanya Dika


"Kayanya Zidan gak kuat turun deh"jawab mama Lilis.


"Emang Zidan kenapa?" tanya Dika lagi.


"Dia terkena Syndrom ibu hamil" jawab mama Lilis lagi.


"Hahaha.... Rasain tu anak" Dika tertawa puas saat mendengar kondisi anaknya.


"Tega banget sih elo ketawa di aas penderitaan anak sendiri" ujar Andre.


"Gitu tu Dan, Oom mu ini emang gitu. Tertawa diatas penderitaan anaknya." saut Lilis.


"Bukannya gitu, aku tu ya senang aja kalau Zidan dapat pengalaman baru. Kalian tau kenapa Zidan bisa terkena syndrom itu?" tanya Dika. Ia menatap semua orang.


"Dia begitu karna dia benar - benar cinta sama istrinya" ucap Dika.


"Tapi…"


"Tapi apa nak?" tanya Andre kepada putri bungsunya itu.


"Gak jadi yah, Rose lupa mau ngomong apa" kila Rose.


"Sudah - sudah, ayo mulai sarapan!" suruh mama Lilis.


~


Ronal elu apa - apaan sih, kasar banget jadi cowok" Seru Bella saat dirinya tiba - tiba di tarik oleh Ronal. Ronal membawa Bella kedalam Mobilnya.


"Gue mau bicara" ucap Ronal.


"Ya bicara aja, kenapa harus tarik - tarik gini dan ini kenapa lagi? Elu ngajak gue masuk ke mobil elu" keluh Bella.


"Gue mau bicara empat mata sama elu dan eli harus jawab pertanyaan gue denga jujur." ujar Ronal


"Iya, eku mau nanya apaan? Buruan gue mau pergi!!" ucap Bella ketus.


"Apa benar Rose hamil?" tanya Ronal


"Kan elu denger sendiri kemaren om Andre bilang gitu" jawab Bella.


"Berapa bulan?" tanya Ronal lagi.


"Sekitar 4 bulan."


"Udah besar dong, terus kenapa perut Rose masih keliatan datar saja?" tanya Ronal heran.


"Itu mungkin karena Rose kurus, makanya perutnya belum jelas." ujar Rose.


"Gue akan punya anak, gue akan jadi ayah." gumam Ronal pelan, yang asih bisa di dengar oleh Bella.


"Tapi…" Bella menggantung perkataannyal


"Tapi apa Bell?" tanya Ronal menatap Bella dengan sebelah alis nya terangkat keatas.


"Tapi anaknya gak selamat, karna harus di aborsi." seru Bella.


"Ab- aborsi …"


"Kenapa mereka sampai tega membunuh anak gue" seru Ronal.


"Bukan mereka ya g mau bunuh, tapi anak elo sakit. Makanya harus di keluarkan." terang Bella.


"Sakit? sakit apa yabg elu maksud?"


"Dia sakit gagal ginjal dini dan kalau anak kalian tetap di pertahakan maka dia akan menderita kelak." ucap Bella. Ronal terdiam mendengar perkataan Bella.


Ia sangat syok saat mendengar calon anaknya telah tiada. Bella bisa melihat ada air mata yang mengalir di pipi Ronal.


"Kenapa gak ada yang bilang ke gua? Kenapa kalian gak ada minta persetujuan gue dulu?" tanya Ronal.


"Elo siapa? Suaminya kah? Bukan kan" ucap Bella balik nanya.


"Setidaknya gue adalah ayah dari anak itu." ujar Ronal.


"Udalah Ron, sekarang ini Bella sedang terpukul banget. Elu sebaiknya gak usah nambah beban pikirin dia." saran Bella.


"Gue bakal perjuangin Rose, gue mau di nikah sama dia." ucap Ronal.


"Kalau elu memang ingin menjadikannya istri maka elu harus berusaha keras." suruh Bella.


"udah kan, gue mau keluar" pamit Bella.


Sebelum keluar dari mobil Bella menatap waja Ronal terlebih dahulu.


"Kalau elu benar - benar cinta dan sayang sama dia, maka berjuang lah" ucap Bella. Kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Ronal di dalam mobil.


~•••~


Jangan lupa dukungannya😂


Terima kasih yang sudah dukung karya yeoja selama ini🤗