
"Sepertinya aku juga harus mengirimkan SMS kepadanya." Lisa meletakkan sendok dan garpu yang baru saja ia pegang. Ia meng - copy paste pesan yang sudah ia kirim lewat WA tadi kepada Zidan dan mengirimnya lagi lewat SMS, lalu ia juga mengirimkan beberapa poto melalui MMS. Reyhan mamsih meperhatikan Lisa yang sibuk dengan ponselnya.
"Ada apa dengan Lisa? Kenapa dia sepertinya cemas sekali,apa ada yang sedang menunggunya?" gumam Reyhan
" Semoga Zidan membacanya dan percaya..." Lisa meletakkan ponselnya ke dalam tas dan melanjutkan kembali makannya. Sesekali Reyhan mengajaknya mengobrol di sela - sela makannya
Lisa mempercepat kunyahan makannya hingga makanan yang semula memenuhi piring miliknya kini habis tak tersisa.
"Reyhan, Sindy.. Gue udah selesai makan, jafi gue pergi duluan ya.." ujar Lisa sambil menelan makanan yang masih tersisa di mulutnya, lalu ia beranjak berdiri dan menyelempangkan tas di tubuhnya.
"Lis,tunggulah sebentar. Kenapa terburu - buru sekali?" tanya Reyhan.
"Iya, elu kenapa terburu - buru sekli, baru saka selesai makan?" saut Sindy.
"Ehm, gue lupa, hari ini gue harus pulang cepat untuk memsak makan malam." jawab Lisa.
"Bukan kah dirumahmu ada pelayan?" tanya Reyhan.
"Bi Anah lagi demam, jadi gue harus bantuin dia."kekeh Lisa.
"Yaudah, kalau gitu biar gue antar..." Reyhan beranjak berdiri.
"Tidak usah, Rey. Gue bisa pulang sendiri" tolak Lisa.
"Tidak apa - apa, biar gue antar aja" paksa Reyhan.
"Jangan, Rey..."penolakan Lisa yang tak wajar membuat Reyhan mengernyit heran.
"Elu kenapa sih? Biasanya juga, gue yang antar." tanya Reyhan.
"G-gue harus mampir dulu ke swalayan untuk berbelanja bahan makanan, gue gak mau merepotkanmu." ujar Lisa.
"Tidak apa - apa, sama sekali tidak merepotkan. Gue akan menemani wlu berbelanja." Sindy melihat Reyhan dan Lisa secara bergantian, ia begitu bingung melihat apa yang sedang di ributkan oleh mereka berdua.
"Rey, gue bisa pulang sendiri, tolong jangan memaksa..." seru Lisa
"Baiklah...hati - hati di jalan. Terima kasih, sampai bertemu di lain waktu..."
"Sin, gue duluan ya.." Lisa segera berlalu pergi dari sana saat Sindy dan Reyhan mengiyakannya. Kedua mata Reyhan menyiratkan rasa kekecewaan akan penolakan Lisa, masih tak lepas memandangi gerak tubuhnya yang kini telah menjauh dari jangkauan matanya.
Lisa baru saja tiba di rumah dengan menggunakan taxi yang tadi ia tumpangi. Ia berjalan dengan cepat masuk kedalam rumah. Namun, di halaman rumah ia tak melihat mobil Zida. Terpakir di sana.
"Zidan belum pulang..." Lisa mematung di depan pintu rumah. Tangannya meraih ponselnya yang ada di dalam tas. Hal sama yang ia lihat, pesan yang ia kirimkan belum juga di terima oleh suaminya itu. Lisa memasukkan kembali ponselnya kedalam tas dan segera masuk ke dalam rumah.
Kamar menjadi tujuan utamanya, hingga Lisa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa melepaskan tasnya terlebih dahulu.
"Mungkin dia lembur..." gumamnya sambil beranjak duduk.
Lisa meletakkan tas miliknya di atas meja yang sda di kamarnya. Baru saja kakinya mengajaknya untuk keluar menuju dapur. Namun, suara dering di sertai getar ponsel mengurungkan niatnya untuk pergi kedapur. Lisa dengan penuh semangat mengambil ponselnya di dalam tas.
"Rose? Aku kira Zidan," ucapnya saat melihat satu pesan dari adiknya. Lisa segera membuka pesan yang telah dikirmkan oleh adiknya
Kakak, aku berniat pulang sore ini, tetapi ayah baru saja mengabariku kalau dia aka. Pulang besok. Jadi, aku akan pulang besok pagi - pagi sekali sebelum ayah pulang. Jaga tumah dan jangan bilang sama ayah oke ~ Rose.
Membaca pesan itu, Lisa berdecak kesal.
"aku benar - benar lepas tangan denganmu Rose, terserah kau saja, mau pulang atau tidak. Aku tidak peduli"
"Terserah... Terserah...!" Lisa meletakkan kembali ponselnya tanpa membalas pesan dari adiknya itu. Ia melanjutkan niatnya pergi kedapur untuk menyiapkan memasak makan malam.
Sesampainya di dapur Lisa melihat bi Anah sedang memasak , Lisa menghampiri bi Anah.
"Hi.. Bi" sapanya
"Eh non Lisa, udah pulang non?"tanya bi Anah yang sedang menggoreng ikan.
"Ini non, bibi masak makanan ke sukaan nona Lisa sama tuan Zidan. Tidak usah biar bibi saja" tolak bibi
"Wah enak dong ya bi, gak apa - apa bi. Biar sekalian aku belajar masak." paksa Lisa.
"Baiklah non" mereka pun masak makan malam bersama - sama.
Setelah makan malam siap di sajikan, Lisa kembali ke kamar untuk membersihkan tubuhnya sembari menunggu suaminya pulang. Namun, saat keluar dari kamar mandi, ia masih belum mendapati Zidan pulang. Lisa berulang kali mengecek ponselnya. Tetapi, tak mengubah apa pun, pesan yang ia kirimka sore tadi masih belum di baca oleh suaminya itu.
"Kalau lembur, tidak mungkin sampai semalam ini, atau dia pulang kerumah? Tapi kenapa dia tidak memberitauku" pertanyaan - pertanyaan itu terlontar secara bersamaan di pikiran Lisa.
"Kenapa aku jadi seperti ini? Memangnya seberapa penting aku di hidupnya, sehingga kemana - mana fia harus minta izin dariku?"
Baru saja Lisa meletakkan ponselnya ke tempat semula, tiba - tiba ponselnya berdering. Terlihat ada satu panggilan masuk dari mama Lilis. Dengan egera Lisa menerima panggilan utu
"Hallo, Lisa" suara mama Lilis yang begitu keras membuat Lisa menjauhkan srdikit ponselnya iti dari telingannya.
"Iya , ma?"
"Lisa, kamu apa kabar sayang? " tanya mama Lilis.
"Lisa baik kok ma,mama sama papa apa kabarn" tabya Lisa.
"Syukurlah sayang, kamu lagi apa sayang? Mama sangat rindu sama kamu" tanya mama Lilis.
"Lisa, lagi nunggui Zidan pulang kantor ma. Aku juga rindu mama"
"Jam segini dia belum pulang kantor, ngapain dia di kantor sampai selarut ini?" tanya mama Lilis.
"Mungkin di lembur ma." jawab Lisa.
"Begitu ya. O iya Lis teleponnya mama tutup dulu ya. Papamu baru ini, jaga kesehatan ya nak. Bye"
"Iya ma, bye" Lisa pun memutuskan sambubgan telponnya.
"Jam segini, dia masih belum pulang" gumam Lisa saat melihat jam yang ada di ponselnya.
"Atau mungkin Zidan sedang bersama teman c temannya..." Lisa meletakkan ponselnya di atas tempat tidur. Ia membawa beberapa buku yang baru saja ia ambil dari rak buku. Ia turun dan pergi ke ruang tamu, ia mendudukkan tubuhnya dan membaca buku - buku itu sembari menunggu Zidan pulang
Di sela mambava bukunya, Lisa tak henti berulang kali melihat kearah jam dinding.
"Sudah jam sebelas ,tapi kenapa dia belum pulang juga?" Lisa menguap seakan tak bisa menahan kantuknya lagi. Nmun ia masih tetap memaksa untuk melanjutkan membaca buku miliknya.
Hingga lewat tengah malam, saking lelahnya dan rasa mengantuk tak bisa Lisa bendung lagi, membuat dirinya tertidur di atas sofa ruang tamu, bahkan membuat buku yang ia pegang terjatuh di lantai ruang tamu itu.
Tok... Tok... Tok...
~•••~
.
.
.
.
.
Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐
Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜