ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Tidak Gratis


Lisa memutuskan naik kembali ke lantai atas, mencari Rose di kamarnya. Ia memegang ganggang pintu, Lisa mengerak - gerakkan ganggang pintu itu mencoba untuk membukanya. Namun, pintu itu di kunci dari dalam.


"Rose, apa kau di dalam" Lisa meneriaki nama adiknya itu.


"Rose sayang, buka pintunya, ini kakak..." Lisa mengiringi ketukan pintu di sela teriakannya.


Ceklek, pintu terbuka.


Terlihat Rose yang membuka pintu dengan rambut yang acak - acakan, khas orang bangun tidur.


"Ada apa kakak memangilku?, ini masih dini hari" keluh Rose kesal.


"Apa kau baik - baik saja? Kenapa kau jadi begini sih dek?" Lisa memperhatikan adiknya dengn sedih. Rose hanya diam saja, dia menundukkan kepalanya.


"Kakak tidak pernah mengajarkan kamu seperti, apa kau ada masalah? Dan dimana Daniel? Kenapa kau selalu dengan pria kurang ajar itu?" tanya Lisa.


"Aku tidak tau dia dimana, dan aku tidak mau peduli lagi dengan nya.?" jawab Rose dengan ketus.


"Tapi...."


"Kakak udalah, aku mengantuk, mending kakak juga tidur lah? " ujar Rose, ia berbalik dan mesuk ke dalam kamar, dan menutup pintunya dengan keras di depan Lisa. Lisa menghela napas beratnya.


Ia tak tau lagi harus berbuat apa lagi? agar adiknya bisa kembali seperti dulu lagi.


Lisa kembali turun ke bawah untuk membersihkan rumahnya yang berantakan akibat kelakuan adiknya beserta teman - teman adiknya tersebut, tak peduli itu masih pagi ataupun malam yang penting ia arus membersihkan rumah ayahnya itu, Lisa sangat tidak suka melihat sesuatu yang berantakan.


Zidan tak bergeming memperhatikam Lisa dari atas. Bahkan, ia tak menyadari bahwa dirinya telah begitu lama memandangi istrinya dari atas sana.


Tak lama kemudian, ia menuruni anak tangga dan segera menghampiri Lisa yang kala itu bergantian membersihkan meja makan yang ada di dapur.


Langkah kaki Zidan yang hendak mendekat terdengar sangat jelas di telinga Lisa, membuatnya menoleh kearah laki - laki itu. Saat tau yang datang ialah Zidan suaminya, Lisa menghentikan kegiatannya sejenak.


"Zidan" Lisa berucap dengan suara rendahnya.


"Kenapa kau bangun sepagi ini?" tanya Zidan


"Aku mau membersihkan rumah," jawab Lisa.


"Kau bisa membersihkannya nanti, dan lagi pula dirumah ini ada pelayan, mana dia? Kenapa tidak suruh dia saja yang bersihkan?" ujar Zidan, tapi Lisa tidak mengubrisnya.


"Bi Anah sudah capek seharian bekerja membersihkan rumah ini, jadi aku kasihan membangunkannya.... Kenapa kau bangun juga? Tidurlah!" perintah Lisa, Zidan terdiam mendengar ucapan istrinya yang begitu pengertian dengan orang lain


"Aku terbangun karna kau tidak ada di kamar, makanya aku langsung menyusulmu" ujar Zidan.


"Aku akan membantumu." Zidan mengambil sendok kotor yang bertebaran di atas meja makan.


"Tidak usah, ini bukan pekerjaanmu, ayo istirahatlah lago di kamar, tinggalkan aku, biar aku yanh membereskan ini semua." perintah Lisa lagi.


"Tidak apa - apa biar ku bantu," paksa Zidan.


"Tidak usah!" Lisa menarik semua sendok yang kini di pegang Zidan.


"Kau ini keras kepala sekali! Aku benar - benar ingin membantu mu, sudahlah, biaekan aku membantu mu!" Zidan tetap kekeh ingin membantu istrinya itu. Lisa pun terpaksa mengiyakan


40 kemudian


Saat dirasa rumahnya sudah rapi dan bersih seperti semula, Lisa mengajak suaminya itu untuk beristirahat kembali. Namun, Zidan menyuruh Lisa terlebih dulu untuk naik ke kamarnya.


Lisa masuk ke dalam kamar dan mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur.ia mengatur napasnya karena kelelahan.


Tak lama kemudian, Zidan menyusulnya dengan membawa segelas air putih di tangannya. Ia menutup rapat pintu kamarnya yang baru saja ia buka itu dan mendekati Lisa.


"Minumlah!" Zidan menyodorkan segelas air putih itu kepada Lisa, Lisa terdiam sejenak melirik gelas itu kemudian mengalihkan lirikannya kearah Zidan.


"Ayo minumlah..."perintahnya kembali. Losa menyaut gelas itu dan meneguk air tersebut hingga tak tersisa.


" Terima kasih..." Losa memberikan gelas kosong itu kepada Zidan. zidan dengan senang hati mengambilnya dan meletakkannya di atas meja.


"Sudah tau, masih aja nanya!" saut Lisa dengan nada ketus.


"Apa kau mau ku pijat?" tawar Zidan.


"Boleh...."saut Lisa seraya memegang lehernya yang begitu kaku. Kedua tangan Zidan mulai menyentuh leher Lisa dan memberikan pijatan kecil di sana.


"Tumben sekali dia baik," gumam Lisa dalam hati seraya memancarkan senyuman yang tertahan di wajahnya.


"Berselonjorlah, aku akan memijit kakimu sekalian!" perintah Zidan yang menuntun tubuh Lisa untuk merebahkan sebgin tubuhnya dan menyelonjorkan kakinya.


Zidan mulai memijit kaki Lisa perlahan - laham. Membuat Lisa merasa lebih baik dari sebelumnya.


"Pijitanmu sangat enak,"puji Lisa.


"Benarkah?" tanya Zidan.


"Iya, kenapa kau tidak menjadi tukang pijat saja?" tanya Lisa. Zidan seketika menghentikan pijitannya.


"Ku ingin suamimu ini jadi tukang pijat?" Zidan menautkan kedua alisnya dan menatap tajam Lisa, membuatnya sedikit takut.


"Aku hanya becanda" seru Lisa.


"Ayo lanjutin lagi pijitannya," perintahnya kembali, Zidan pun kembali menggerakkan tangannya untuk memijit kaki istrinya itu.


Sekitar 10 menit, Zidan mencoba memelankan gerakan tangannya.


"Apa kau masih merasa lelah?" tanya Zidan dengan suara yang begitu lembut.


" Sudah tidak, terima kasih banyak ya. Ayo kita tidur lagi, ini masih jam 4 pagi kita punya waktu 2 jam lagi untuk tidur," Lisa merebahkan tubuhnya dan hendak menarik selimut miliknya. Namun, Zidan dengan cepat menarik selimut itu hingga selomut iyu tak sampai membaluti tubuh Lisa.


"Enak sekali kau mau tidur!" ujar Zidan.


"Tapi aku mebgantuk, Zi. Ayo kita tidur." Zidan tersenyum, ia merangkak ke atas tubuh Lisa membuat posisi wanita itu kini terkungkung di bawah tubuhnya.


"Zi..."


"Ini semua tidak gratis sayang, kau harus membayarnya," bisik Zidan di dekat daun telinga Lisa. Bahkan suara desisan anginyang keluar dari mulut Zidan menyentuh halus telinganya, membuat bulu - bulu di sekitarnya berdiri dengan sendirinya.


Lisa dengan cepat hendak mendorong tubuh Zidan. Nmun, tangannya yang kecil tak sekuat itu mendorong tubuh Zidan yang dua kali lipat lebih besar dari nya.


"Kau membantuku tadi tidak ikhlas? Kau benar - benar keterlaluan!" seru Lisa.


"Aku ikhlas membantumu, tapi aku juga lelah, jadi kau harus membayarnya!" ujar Zidan.


"Aku tidak punya uang untuk membayarmu!" Lisa mengeraskan suaranya bahkan lebih keras lagi dari sebelumnya.


"Bicara lah pelan sedikit!" seru Zidan


"Bayarannya menggunakan ini saja!"


"Zi..."teriakan Lisa tertahan di tenggorokannya saat Zidan mulai ******* bibir tipisnya, benar - benar membuat wanita itutak bisa mengeluarkan suaranya, kecuali melenguh. Zidan menindih tubuh Lisa. Lisa pun sudah terbiasa dengan ini semua, ia pun pasrah ketika Zidan mulai


menggeluti tubuhnya yang mulai tak berbalut oleh sehelai benang pun, meronta pun ia percuma.


~•••~


Jangan bosan - bosan ya nunggu up kelanjutannya.


Terima kasih atas dukungannya semuanya🤗


Jangan lupa Like dan komennya ya, karena komen dari kalian sangat saya nantikan.😉


Happy reading guys😘