
Keesokannya, Zidan terbangum, ia tak melihat Lisa di sampingnya. "Aku lupa kalau tadi malam kami pisah kamar." Zidan beranjak duduk dan merenggangkan otot - ototnya yang terasa kaku. Kedua matanya melirik kearah meja samping tempat tidur, terlihat segelas teh hangat sudah tersedia di sana, begitu juga dengan pakaiannya kerja miliknya dan handuk yang terlipat rapi pun sudah di siapkan. Ponsel yang semalam ia banting juga terlihat sudah di letakkan di samping gelas teh itu.
Zidan beranjak turun dari tempat tidur, ia segera pergu ke kamar ayah mertuanya, dan tidak ada siapa pun di sana. Ia meninggalkan kamar itu dan pergi ke dapur dan ia begitu terkejut saat melihat ayah Andre berada disana.
"Zidan..."sapa ayah mertuannya.
"Ayah kapan pulang?" tanya Zidan.
"Ayah baru saja pulang. Ayo kita sarapan bersama kami" ajak ayah Andre. Zidan habya diam saja, kedua matanya melihat sekeliling dapur seakan sedang mencari sesuatu.
"Kamu, mencari Lisa?" tanya ayah Andre.
"Iya, ayaj. Di mana Lisa, ke apa dia tidak ada?" tanya Zidan.
"Lisa baru saja berangkat bekerja, nak. Apa tadi dia tidak berpamitan kepada mu?" tanya ayah Andre. Zidan terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya sambil berkata,
"Tidak, ayah. Lisa tidak ada berpamitan sama aku."
"Mungkin dia sedang terburu - buru Zi, makanya dia tidak berpamitan denganmu" imbuh ayah Andre.
"Ehm, Aku rasa juga begitu ayah, aku permisi kembali ke kamar untuk bersiap ke kantor dulu ya ayah." ayah Andre pun mengiyahkan.
"Lisa masih marah, kalau dia tidk marah mana mungkin dia sepagi ini pergi ke boutique nya dan bahkan dia tidak berpamitan kepada ku." Zidan merasa begitu kacau pagi itu, ia menaiki tangga dan hendak kembali ke kamar, ia berpapasan dengan Rose yang baru saja keluar dari kamarnya. Perempuan itu pulang kerumah sebelum ayah Andre pulang. Mereka tak saling sapa dan lewat begitu saja.
~
Zidan terlihat sudah berpakaian rapi, ia bersiap - siap hendak pergi bekerja. Sebelum pergi ia meneguk teh yang di buatkan oleh istrinya itu terlebih dahulu. Setelah itu ia turun dan menemui ayah Andre yang saat itu masih duduk di dapur.
"Ayh, Zi pamit berangkat dulu." pamit Zidan ia terlihat begitu terburu - burukedua matnya sejenak melirik kearah Rose.
"Kau tidak sarapa dulu, kenapa terburu - buru begitun" tanya ayah mertuanya itu.
"Nanti saja ayah, aku mau menemui Lisa di boutique terlebih dahulu" jawab Zida. Yang ingin segera pergi.
"Pasti bertengkar!" suara Rose yang menyaut secara tiba - tiba membuatnya begitu kesal.
"Jangan sok tau!!" seru Zidan
"Kalau tidak bertengkar, untuk apa semalam kakak tidur di kamar ayah?" sindir Rose.
"Rose.."tegur ayah Andre.
"Memang benar kakak semalam tidur di kamar ayah! Kalau tidak bertengkar, mana mungkin kakak pergi bekerja sepagi ini"
Jawaban Rose membuat ayah Andre membenarkannya, karena dirinya tadi sempat heran, melihat putri sulungnya berangkat kerja sepagi itu.
"Zi,apa itu benar?" tanya ayah Andre.
"Tidak ayah, kami tidak bertengkar, semalam Lisa tidur di kamar ayah, karna dia sangat merindukan ayah"bantah Zidan.
"Oh..."ayah Andre tersenyum. "pantas saja, tadi saat ayah datang dia langsung memeluk ayah" imbuhnya sambil mengingat bagaimana pagi tadi Lisa membukakan pintu dan menyambutnya dengan hangat.
"Ayah sangat mengenal Lisa, dia tidak suka bertengkar dangan menghindari pertengkaran." ucap ayha Andre.
"Tapi tidak berlaku untuk ku" gumam Zidan dalam hati.
"Tapu kenaa Lisa pergi bekerja sepagi itu, bahkan sampai tidak berpamitan dengan mu Zi ?" tanya ayah Andre seraya mengernyitkan dahinya.
"Ehm..." Zidan bingung harus menjawab apa, ia sendiri merasa bingung karna Lisa tidak berpamitan dengan nya bahkan dia juga tdak di bangun kan oleh istrinya itu.
"karena itulah sebenarnya Zidan mau menemuinya ayah. Kalau begitu amZidan pergi dulu ya ayah" Zidan kembali berpamitan dan segera pergi meninggalkan rumah mertuannya tersebut.
Zidan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan maximal menuju ke boutique milik istrinya itu. Ia ingin terlebih dahulu menemui istrinya itu, setelah itu barulah ia akan pergi ke rumah sakit. Setibanya di boutique, Zidan memakirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam. Salah satu pegawai tiba - tiba menghadang dirinya untuk masuk.
"Selamat pagi tuan" Zidan membalas sapaan pegawai tersebut.
"Permisi gue mau menemui Lisa" ujar Zidan.
"Nona Lisa tidak ada , tuan. Nona belum datang" kata pegawai itu.
"Tidak ada? Tapi dia tadi berangkat bekerja! Tidak mungkin dia belum sampai di sini"
"Tapi nona benar - benar belum datang tuan."
Mendebgr perktaan itu, Zidan terdiam. " Lalu pergi kemana di?" gumamnya. Ia menggaruk - garuk kepalanya dan keluar dari boutique. Zidan hendak masuk kedalam mobil, namun tiba - tiba ia mengurungkannya.
"Tuan, kau mau kemana!" melihat Zidan masuk kembali, pegawai yang sama pun mengikutinya dari belakang
"Mau menemui istri gue!" seru Zidan.
"Tuan, nona Lisa belum datang, lebih baik tuan pergi saja!" pegawai itu menghadang tubuhnya di depan Zidan, membuat langkah kaki lelaki itu terhenti.
Raut wajanya yang begitu kesal membuatnya harus mengeluarkan suaranya dengan penuh tenaga.
"Aku hanya pegawai disini, jangan menghalangi ku! Apa kau sudah bosan bekerja?"hardik Zidan
"Ma-maaf tuan, saya hanya menjalankan tugas dari nona Lisa, katanya nona sedang tidak ingin bertemu dengan mu...." katanya denga terbata - bata.
"Minggir!" teriak Zidan membuat pegawai itu tersentak takut dan seketika itu ia berpindah posizi memberi Zidan jalan.
Zidan tak peduli, ia melanjutkan kembali langkah kakinya dan segera menaiki anak tangga menuju ke ruangan Lisa yang kala itu pintnya tertutup rapat.
Zidan segera membuka pintu itu dengan penuh tenaga dan kekesalan.
Kata makian ingin sekali segera ia lontarkan kepada istrinya itu, namun ia urungkan tatkala kedua matanya melihat istrinya itu sedang melipat kedua tangan di atas meja dan menenggelamkan wajahnya itu di lipatan tangan tersebut.
Wajah Zidan yang awalnya mengeras, seketika melunak. Ia berjalan mendekati istrinya itu, hingga menempatkan posisi tubuhnya di samping Lisa. Ia mengintip, melihat kedua mata wanita itu terpejam dengan begitu lelap.
"Dia tidur.." gumamnya.
Zidan membenarkan posisi tubuh Lisa kemudian ia memindahkannya di sofa yang ada di ruangan istrinya itu.
Ketika Zidan merebahkan tubuh istrinya itu di atas sofa, Lisa tiba - tiba terbangun. Ia mengerjapkan matanya sejenak menatap suaminya itu.
"Kau sudah bangun?..."Lisa mengucek kedua mata nya yang masih buram, sejenak ia menatap suaminya.
"Kau disini?" tanya Lisa sambil menguap.
"Apa maksudmu menghindar dari ku seperti ini?" tanya Zidan sembari mengusap tangan istrinya dan menatap istrinya itu.
"Siapa yang menghidari? Aku banyak perkerjaan, ini sudah hampir siang, lebih baik berangkatlah kekantor atau kekampus!" Lisa mendudukkan tubuhnya dan menghadap ke Zidan.
"Sungguh aku tidak menghindarimu" imbuhnya. Ia pun berdiri dan pergi kembali ke meja kerja nya . Ia mengambil beberapa berkas design di dalam laci dan tak menghiraukan suaminya itu, namun dengan cepat Zidan berdiri dan mengkah mendekati Lisa. Ia mengambil berkas yang sedang di pegang Lisa tersebut dan membuangnya ke lantai.
"Zidan!"teriak Lisa.
"Kenapa? Kau mau marah?" seru Zidan. Lisa hanya diam dan tak menjawabnya.
"Apa kau tau, sekalipun aku mengatakan perkataan kasar atau menyakiti hati orang lain, aku tidak pernab mau minta maaf. Tapi denganmu aku melakukannya, aku minta maaf duluan pada mu, kau tau kenapa aku melakuknanya. Itu karena kau istri ku, tapi apa yang kau lakukan kau malah menghindari ku seperti ini"
"Aku tidak menghindarimu!" bantah Lisa.
"Pergi bekerja pagi sekali,tidak membangunkanku dan menyuruh pegawai untuk berbohong, apa itu bukan menghindar?"
"Aku banyak pekerjaan, itu sebabnya aku tidak mau di ganggu oleh siapa pun."
"Termasuk diriku? Kau pikir aku pengganggu begitu?"
Lisa berdecak bingung, ia beranjak berdiri, lebih dekat dengan suaminya itu.
"A...
~•••~
.
.
.
.
.
Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐
Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜