
"Kenapa Memangnya? Kakak ada masalah?" seru Rose . Tak lama kemudian Zidan terlihat turun dari atas. Seperti halnya Lisa, ia juga terbangun akibat mendengar keramaian dari bawah. Pandangan Rose mengalih kearah Zidan yang sedang berjalan menghampirinya dan juga kakaknya.
"Lebih baik Kakak masuk ke kamar, urus suami kakak dengan baik, tidak usah ikut campur urusan Ros lagi!" perintah Rose.
"Rose!! " teriak Lisa.
" Ini sudah bukan rumah kakak lagi, jadi bicaralah yang sopan di sini " Seru Rose
" Kau ini, kenapa jadi seperti ini" tanya Lisa.
"Kenapa memangnya? Rose bukan anak kecil lagi Kak, Ayah selalu saja mengatur hidup Rose, nggak boleh ini, tidak boleh itu. Aku bukan kakak yang bodoh menuruti semua Keinginan ayah. Jadi Kakak jangan coba-coba mengaturku sama seperti ayah !" bantah Rose.
"Ayah dan Kakak sangat menyayangimu, kami hanya tidak ingin kau salah bergaul itu saja" ujar Lisa.
"Sayang? omong kosong! Rose tahu mana yang baik dan buruk untuk hidup Rose, jadi jangan terlalu mengatur hidupku! lebih baik Kakak masuk sana ke dalam kamar ajak suami kakak ini jangan mengganggu atau keluar kamar sampai pesta aku dan teman-temanku selesai!" seru Rose
"Kakak tidak akan mengizinkannya!" Lisa menegaskan suaranya.
"Kalau kakak tidak mengizinkan Rose dan teman-teman Rose berpesta di sini, Rose akan berpesta di tempat lain dan Rose tidak akan mau pulang ke rumah ini lagi!" ancaman Rose selalu saja membuat Lisa tidak berkutik dan takut akan hal itu. Ia terpaksa mengizinkan adik perempuannya itu untuk bersenang-senang bersama kekasih dan teman-temannya.
"Lisa sudahlah, biarkan saja ayo kita kembali ke kamar" ajak Zidan yang kini merengkuh tangan istrinya dan mencoba mengajaknya untuk naik ke atas kamar Lisa pun mengiyakannya dan kembali ke kamar bersama Zidan. Sementara Ronal ia memperhatikan Lisa yang mulai menjauh dari pandangannya.
Lisa dan Zidan masuk ke dalam kamar, Zidan mengajak Lisa untuk duduk di tepi tempat tidur. Kedua matanya melihat dengan jelas wajah istrinya yang basah karena menangis.
Lisa merasa tidak bisa mendidik adiknya dengan baik. Dirinya pernah berjanji kepada mendiang ibunya. Bahwa ia akan menjaga adiknya dengan baik dan mendidiknya menjadi anak baik. Namun, semakin Rose bertambah dewasa rasanya ia sangat sulit sekali untuk menasehati bahkan dia sudah tidak mengenal adiknya itu lagi.
"Pergaulan seperti itu sudah wajar di negara kita, jangan terlalu dipikirkan!" tutur Zidan.
" Apanya yang tidak perlu dipikirkan, dia adikku. Aku tidak mau suatu hal yang buruk terjadi kepadanya," ujar Lisa.
" Aku heran kenapa Rose, kenapa dia bisa jadi seperti ini, dulu dia tidak seperti ini dan di mana Bella dan juga Daniel? Kenapa mereka berdua tidak ada bersama dengan Rose? apa yang terjadi sebenarnya?" keluh Lisa frustasi
" Sudahlah tidak usah dipikirkan kau ini terlalu berlebihan..."
"Wajar jika aku berlebihan, Rose seorang perempuan!" tukas Lisa, rasanya Lisa tak bisa menahan emosinya terlebih lagi setiap kata yang keluar dari mulut Zidan seakan musuh baginya.
"Ayo istirahat lah, kau sepertinya kurang beristirahat, jadi emosimu tidak stabil ." Zidan mencoba merengkuh tubuh istrinya
"Aku tidak mau." penolakan Lisa membuat Zidan menggaruk-garuk rambutnya dengan kebingungan
Lisa meraih ponselnya dan menekan nomor telepon ayahnya, ia hendak menghubungi ayah Andre untuk memberitahu tentang sifat adiknya itu. Meskipun Rose seringkali membantah ayahnya tapi tidak bisa dipungkiri hanya ayahnya sajalah yang bisa membuat adiknya itu takut.
Lisa mendekatkan ponsel yang terdengar nada sedang menghubungkan dengan ayah Andre ke dekat daun telinganya. " kalau aku memberitahu Ayah, nanti ayah akan panik dan aku tidak ingin penyakit jantung Ayah kambuh lagi." Lisa dengan cepat menekan ikon merah yang tertera di ponselnya itu. Ia mengurungkan niatnya untuk memberitahu Ayah nya tersebut, kemudian ia meletakkan ponselnya ke tempat semula. Kelopak matanya terpejam hingga buliran air mata ikut tersapu disana.
"Ayo Istirahatlah! kau butuh istirahat untuk menenangkan hati mu!" tutur Zidan sembari mengusap airmata Lisa dengan ibu jarinya.
" Tidak, aku tidak mau istirahat. Aku mau mengawasi adikku," ujar Lisa.
"Aku yang akan mengawasinya nanti, Ayo sekarang tidurlah, aku akan menemanimu dulu." Lisa terdiam sejenak kedua matanya yang bengkak menatap Zidan, kemudian ia mengangguk perlahan. Zidan segera mencoba membantu Lisa untuk merebahkan tubuhnya, ia melingkarkan tangannya ke tubuh Lisa. ia mencoba menenangkan istrinya tersebut hingga tertidur.
Lisa benar-benar merasa lelah hingga saat Zidan menenangkannya, tak butuh waktu lama membuat wanita itu tertidur dengan sendirinya. Zidan masih mengusapv- ngusap kepala istrinya itu hingga ikat rambut yang Lisa kenakan saat memasak tadi terlepas dari rambut sang pemiliknya. Zidan hendak mengenakan kembali ikat rambut itu. Namun, dirinya tidak bisa mengucir rambut Lisa yang begitu panjang. Terlebih lagi ia takut membuat Lisa terbangun dari tidurnya, Ia pun terpaksa meletakkan ikat rambut itu ke dalam laci yang ada di samping meja tempat tidurnya.
Terdengar suara dentuman musik yang samar samar di kamar yang memiliki ruangan yang sedikit kedap suara itu dan perlahan - lahan Zidan menjauhkan tubuhnya dari Lisa dan segera beranjak turun dari tempat tidur .
Ia keluar kamar dan kembali menutup rapat pintu kamar agar Lisa tidak terbangun akibat suara musik liar itu. Ia menuruni anak tangga menghampiri Rose dan teman - temannya yang sedang berpesta minuman.
Tak jarang, Zidan sudah terbiasa melihat pemandangan ini sebelumnya. Namun, berpesta minum di dalam rumah sangatlah tidak wajar bagi Zidan.
Suara alunan musik yang berasal dari speaker begitu menyakiti telinga Zidan, laki-laki itu segera mematikan asal suara dari alunan musik itu berbunyi, membuat suasana Hening seketika Rose dan yang lain menoleh secara bersamaan ke arah Zidan.
"Eh bapak dosenku atau kakak iparku, berani sekali bapak dosen ini mematikan musiknya. Jangan menggangguku bapak dosen yang terhormat, jangan mengacaukan pesta Ku." teriak Rose yang kini berjalan dengan cepat mendekati Zidan.
" Apa kau tidak punya sopan santun? suruh temanmu pergi dari sini!! Beginikah sikapmu selama ini? Kukira kau adalah perempuan yang baik, anak yang baik ternyata , aku salah" tutur Zidan.
" Bukan urusanmu. Memangnya kau siapa? kau berani mengusir tamuku di rumahku sendiri" Rose mengeraskannya.
"Kau yang tidak punya sopan santun, kau disini hanya menumpang" imbuhnya
"Ayahmu yang menyuruhku dan Lisa untuk menjaga rumah ini, jadi sudah seharusnya kau menuruti perkataan orang yang mendapatkan amanah dari ayahmu." seru Zidan yang mulai terpancing emosi.
"Akhiri Pestamu dan suruh teman - temanmu pergi dari sini " Imbuh Zidan dengan suara tegasnya.
"Tidak akan"
PRANGGGH!!!
~•••~
Jangan bosan - bosan ya nunggu up kelanjutannya.
Terima kasih atas dukungannya semuanya🤗
Jangan lupa Like dan komennya ya, karena komen dari kalian sangat saya nantikan.😉
Happy reading guys😘,