
"Hi..."suara seorang laki - laki mengejutkannya. Lisa menolehkan kepalanya melihat siapa yang menyapanya.
"Reyhan?.." Lisa begitu terkesiap saat melihat Reyhan disana.
"Lisa...." senyuman dan lambaian tangan, Reyham lemparkan kepada wanita yang saat ini tengah berdiri di hadapannya.
"Kamu sedang apa di sini?" tanya Lisa.
"Aku tadi kebetulan lewat jalan ini dan tidak di senfaja melihat kamu berdiri di sini, jadi aku berhenti dan menghampiri mu." ujar Reyhan sambil tersenyum
"Oh, seperti itu..."
"Kamu sudah selesai bekerja?" tanya Reyhan.
"Iya, aku sudah pulang bekerja" jawab Lisa.
"Kebetulan sekali, bagaimana kalau kita makan bersama? Jadi kita tidak perlu membuat janji untuk bertemu." usul Reyhan.
"Makan bersam?" tanya Lisa bingung.
"Iya, kalau kamu tidak keberatan."ucap Reyhan dengan penuh harap.
"Bagaimana ini? Reyhan orang baik, aku tidak mungkin menolak ajakannya" gumam Lisa dengan bingung.
"Bagaimana Lisa?" tanya Reyhan memastikan.
"Ehm...."
"Lisa..." Lisa dikejutkan akan suara cempreng dan tepukan bahu di bahu sebelah kanannya.
"Sindy!" sapa Lisa
"Elu mengagetkan gue aja!"setu Lisa, Sindy hanya terkekeh.
"Oops, sorry. Elu sedang apa disini? Kenapa belum pulang?"tanya Sindy.
"Ini gue mau pulang..." jawab Lisa.
"Oh..." Sindy membulatkan bibirnya, ia memandang Lisa dan juga laki - laki asing di hadapannya secara bergantian. "Dia siapa Lisa?" bisik Sindy yang saat ini mendekatkan bibirnya di dekat daun telinga temannya itu.
"Oh, dia Reyhan teman gue" jawab Lisa.
"Reyhan,perkenalkan ini Sindy teman gue..." Reyhan dan sindy saling sapa memperkenalkan diri dan berjabat tangan.
"Bagaimana Lisa? kau mau makan bersamaku ?" Reyhan mengingatkan kembali ajakannya kepada Lisa.
"Mumpung adavSindy, lebih baik aku mengajaknya dia saja," gumam Lisa.
"Boleh, tapi gue ajak Sindy, elu gak keberatan?" tanya Lisa.
"Ehm... Baiklah tidak masalah," saut Reyhan.
"Sindy, ayo ikut makan bersama dengan kami" ajak Lisa.
"Gratis atau tidak? Ini kan bersifat ajakan, seharusnya..."
"Iya gratis, makanlah sepuasnya nanti," tukas Lisa.
"Yeay... Makan gratis" Sindy begitu girang mendengar pernyataan Lisa.
Mereka berdua masuk kedalam mobil Reyhan yang terpakir di depan sana. Reyhan segera melajukan mobilnya ke restaurant yang sudah ia dan Lisa tentukan.
Di dalam mobil, Lisa begitu terlihat resah. Tiba - tiba ia memikirkan Zidan. "Aku tidak pergi berdua, aku mengajak Sindy, jadi Zidan pasti mengerti." gumam Lisa mencoba menenangkan dirinya sendiri. Meskipun sebenarnya dia takut.
Setibanya di restaurant, Reyhan mengajak dua wanita itu untuk turun dan segera masuk ke dalam restaurant tersebut. Seoranh greeter memberi sambutan hangat dan mencairkan meja kosong untuk mereka bertiga, lalu menyodorkan dua buku menu di atas meja.
Lisa yang masih tak tenang, segera mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi. Lalu ia mengambil ponsel miliknya dan hendak mengirimkan pesan kepada Zidan.
Zi, aku sedikit terlambat pulang. Tadi aku tidak sengaja bertemu dengan Reyhan, aku diajak makan olehnya. Aku mau menolak, tapi tidak enak. Kau kan tahu Reyhan dari dulu adalah temanku, aku pergi makan tidak hanya berdua dengan Reyha, tetapi aku juga mengajak Sindy. ~ Lisa
Lisa mengambil beberapa foto Reyhan dan Cindy yang sedang sibuk melihat menu makanan, secara diam-diam. Sebagai bukti bahwa dirinya tidak hanya pergi berdua dengan Reyhan, ia juga melampirkan foto tersebut ke dalam pesan yang ia kirimkan kepada suaminya tersebut. Namun pesan itu memperlihatkan tanda centang satu, menandakan pesan tersebut masih belum terkirim dan masih belum diterima oleh Zidan. Lisa sedikit bernafas lega seusai mengirimkan pesan kepada suaminya itu, ia mengembalikan ponselnya tersebut kembali ke dalam tas miliknya
~
"Astaga akupa, dari tadi aku tidak membawa ponselku. Ponselku tertinggal di kamar."
"Hah, malas sekali jika harys turun dari mobil dan masuk ke dalam." Zidan berdecak, ia terpaksa turun dari mobil dan masuk kedalam boutique untuk memanggil Lisa.
"Selamat sore, tuan." sapaan yang dilontarkan oleh salah satu pegawai Lisa kepada Zidan saat melihatnya masuk kedalam.
"Sore... Tolong panggilkan Lisa, saya menunggunya disini!" perintah Zidan.
"Nona Lisa sudah pulang, tuan." ujar pegawai itu.
"Astaga,kenapa tadi aku lupa bilang kalau aku akan menjemputnya." gumam Zidan
"Oh sudah pulang? Jam berapa dia pulang?" tanya Zidan.
"setengah jam yang lalu, tadi di jemput oleh seseorang, tuam." ujar pegawai tersebut.
"seseorang? Laki - laki atau perempuan?" tanya Zidan dengan penasaran.
"Laki - laki,tuan." dahi Zidan mengernyit seakan tak senang.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Zidan.
"Tidak, tuan."tiba - tiba nama Reyhan melintas dipikirannya,membuat dirinya menerka - nerka curiga.
"Apa laki - laki yang kau makdsud itu tinggi dan berkulit putih?" tanya Zidan kembali.
"Iya, tuan. Laki - laki iyu tinggi dsn berkulit putih."
Raut wajah Zidan tiba - tiba beruba merah seakan - akan dia akan murka. Tanpa permisi, ia pergi begitu saja menggilkan boutique istrinya itu.
~
Sementara di restauran.
Mereka bertiga menyantap makanan mereka masing - masing. Sindy dengan lahap dam penuh semangat mengunyah makanan miliknya, sebegitu nikmatnya hingga membuat dirinya menahan napas hanya demi bisa menikmati makanan itu. Sementara Reyhan, ia sedari tadi memperhatikan Lisa yang terlihat resah dan berulang kali terlihat mengecek ponsel miliknya.
"Elu, kenapa Lis?" tanya Reyha. Seraya mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Ehm... Tidak apa - apa..." Lisa tersenyum.
" Gue lihat, elu seperti sedabg menunggu kabar seseorang?" tanya Reyhan.
"Ehm, iya, aku menunggi kabar ayahku..." jawab Lisa dengan bohong. Padahal wanita itu sedang sibuk memandangi pesan yang ia kirimkan kepada Zidan yang sampai saat ini belum terkirim juga.
"Oh... Ya sudah, makanlah dulu. Jika makanannya sudah dingin tidak akan enak. Lisa tersenyumbdan mengangguk.
"Kenapa pesanku belum terkirim juga?" gumam Lisa dalam hati.
"Sepertinya aku juga harus mengirimkan SMS kepadanya." Lisa meletakkan sendok dan garpu yang baru saja ia pegang. Ia meng - copy paste pesan yang sudah ia kirim lewat WA tadi kepada Zidan dan mengirimnya lagi lewat SMS, lalu ia juga mengirimkan beberapa poto melalui MMS. Reyhan mamsih meperhatikan Lisa yang sibuk dengan ponselnya.
"Ada apa dengan Lisa? Kenapa dia sepertinya cemas sekali,apa ada yang sedang menunggunya?" gumam Reyhan
" Semoga Zidan membacanya dan percaya..." Lisa meletakkan ponselnya ke dalam tas dan melanjutkan kembali makannya. Sesekali Reyhan mengajaknya mengobrol di sela - sela makannya
~•••~
.
.
.
.
.
Maaf ketidak nyamanannya karena typo yang berserakan dimana - mana🙏😐
Jangan lupa dukungannya ya readerku sayang like dan votenya sanga aku tunggu. Borahae💜