ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Datangnya sang mantan suami


Seusai sarapa Zidan dan Lisa pun berangkat bersama mengendarai mobil yang di kemudikan oleh Zidan.


Sebelum ke kantor, Zidan terlebih dahulu mengantarkan Lisa ke boutiquenya. Ia menghentikan mobilnya tepat di depan boutique itu.


"Sepertinya hari ini aku tidak akan lama karna, aku hanya menemui beberapa client untuk membicarakan kerjasama dengan perusahaan induk." tutur Zidan


"Baiklah, semoga semuanya berjalan dengan lancar" ujar Lisa


"Kamu pulangnya jam berapa, biar nanti aku jemput?" tanya Zidan.


"Entalah, biar nanti aku naik taxi saja atau kalau gak aku minta di antar sama Sindy " jawab Lisa sembari melebarkan senyumnya kepada Zidan.


"Tidak perlu naik taxi atau di antar Sindy! Kabari saja aku jika kamu mau pulang!" seru Zidan.


"Tapi, Zi. Kamu kam....."


"Sudah, cepat turun sana. Kau banya bicara sekali."suruh Zidan.


"Hmm, baiklah. Aku turun dulu ya, hati - hati di jalan ya sayang." Lisa turun dari mobil dan melambaikan tangannya ke arah mobil suaminya yang mulai berjalan menjauh dari pandangan matanya.


Lisa mengubah posisi tas miliknya yang semula ia jinjing, kini ia selempangkan ke tubuhnya. Ia masuk kedalam boutique miliknya dan saat melihat Lisa disana. Para pegawainyang bekerja di boutique miliknya itu segera menghampirinya dan memberi sapaan hangat kepadanya.


Lisa menyapa balik pegawainya itu, kemudian ia berjalan menuju ke ruangannya. Saat di depan ruangannya ia melihat Sindy yang sedang sibuk menggambar.


"Hai Sin" sapa Lisa. Sindy sempat kaget saat melihat Lisa yang berdiri di hadapannya.


"Lisa... Astaga, elu kapan nyampenya?" tanya Sindy, ia pin berjalan memutari mejanya, kemudian saat ada di depan Lisa. Sindy pun langsung memeluk sahabatnya itu


"Gue kangen" seru Sindy.


"Gue juga, Dini mana? " tanya Lisa.


"Oh Dini, dia lagi ke tukang jahit." balas Sindy, sembari melepaskan pelukannya dari Lisa


"Oooo... Yuk ke ruangan gue" ajak Lisa. Sindy pun mengikuti Lisa masuk kedalam ruanganya.


Lisa memilih duduk di sofa dari pada duduk di kursi meja kerjanya.


"Oh iya, Sin. Kata elu semalam ada orang yang terus mencari gue selama sepekan terakhir ini?" tanya Lisa.


"Iya Lis, wanita itu terus mencari elu. Gue sudah bilang kalau elu itu gak ada ,lagi keluar kota. Tetapi dia gak percaya, tetap aja dia datang ke sini tiap hari."tutur Sindy.


"Apa elu mengenalnya?Barang kali di pernah mesan baju sama kita?" tanya Lisa.


"Pernah sih dia kesini buat pesan gaun pernikahan untuk kakaknya dulu. Tapi itu udah lama banget dan gue juga udah lupa kapan waktunya"jawab Sindy. Lisa semakin penasaran dengan wanita yang dimaksud oleh Sindy itu.


"Apa dia tidak menyebutkan namanya?" tanya Lisa kembali.


"Tidak, dia sama sekali tidak menyebutkan namanya. tapi gue inget nih ciri - cirinya."


"Wanita itu berambut hita agak coklat gitu dan memiliki tingginya sejajar dengan elu" dahi Sindy mengerut dan kedua matanya menyipit saat mengingat - ingat kembali fisik dari wanita yang di maksudnya itu.


"Siapa ya? Apa Mia? atau Putri mantannya Zidan? Mereka berdua sama - sama berambut hitam kecoklatan, tapi kalau memang dia antara dua wanita ini, untuk apa mereka mencari gue apa lagi itu sih Putri?" gumam Lisa. Ia menghembuskan napasnya dengam sedikit was - was.


"Apa elu punya urusan dengan kedua wanita ini?" tanya Sindy yang tadi sedikit mendengar gumaman Lisa.


"Perasaan gak ada deh, elu kan juga tau gue gak pernah punya masalah sama orang lain" seru Lisa.


"Ehm, ya sudah, Lis. Gue kembali ke meja dulu ya, gak enak sama pegawai lain kalau gue lama duduk disini, lagian sekarang lagi banyak pesanan." ujar Sindy.


"Iya, bye" Sindy pun beranjak pergi ke meja kerjanya yang ada di luar ruangan Lisa.


Lisa pun beranjak berdiri dan memilih duduk di kursi kerjanya.


"Semntara aku nunggu orang itu, mending lanjut design aja" gumamnya mulai membuka buku designnya. Namun sekuat apa pun Lisa mencoba untuk fokus, tapi tetap saja fikirannya terus melayang memikirkan ciri - ciri yang di sebutkan oleh Sindy tadi.


"Kira - kira siapa ya, wanita yang dimaksud oleh Sindy itu?" gumamnya. Ia berfikir keras dan sangat penasaran di buatbya, ia seakan tak mau lepas dari fikirannya.


~


Tangan Lisa merogoh ke dalam tas selempangnya yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ia segera mengambil ponsel miliknya, saat dirasanya ada getaran dari dalam tas itu. Terlihat satu pesan masuk tertera di layar ponselnya.


"Zidan?" bibir Lisa berucap. Tanganya segera membuka pesan dari suaminya tersebut.


Kamu sedang apa? Aku lapar, apa kamu gak lapar? Tiba - tiba aku pengen makan kue buatanmu~ Zidan


Raut wajah Lisa yang awalnya muram, kini terbesit senyuman di sana, jari - jari tangannya mulai menyentuh layar ponselnya itu dan membalas pesan singkat itu.


Baiklah nanti aku akan membuatkanmu kua ~ Lisa


Harus yang enak ~ Zidan


Kalau tidak enak bagaimana? ~ Lisa


Sebagai gatinya, kamu yang akan aku makan.~ Zidan


Bahkan laki - laki itu mengiriminya emoticon sedang bersungut hingga membuat Lisa terkekeh di butnya. Ya Tuhan, hanya membaca pesan singkat dari Zidan saja mampu mengembalikan mood Lisa.


Aku ingin tau bagaimana kamu akan memakanku ~ Lisa.


Baiklah, kita lihat saja nanti ~ Zidan


Lisa tak sadar sedari tadi dirinya tersenyum setiap kali ia membalas pesan dari suaminya itu.


Ia mengakhiri pesan singkatnya dengan Zidan dan segera mengembalikan ponselnya ke dalam tas dan meletakkan tas itu kembali di atas meja nya.


"Nanti, aku akan membuatkan Zidan cupcake red velvet spesial untuknya. Bukannya dulu kata mama, Zidan sangat suka dengan cupcake?" Lisa terseny sambil mengingat wajah garang suaminya dulu, twpi meskipun garang begitu dimata Lisa tetap saja wajah itu sangat menggemaskan.


Lisa kembali melanjutkan kegiatan menggambarnya, meskipun terkadang ia tersenyum saat mengingat waja suami tampannya itu.


"LISA..."suara seorang wanita menghentikan kegiatannya, ia mendongakkan kepalanya menatap pintu ruangannya yang masih tertutup.


Ceklek


Tiba - tiba ada yang membuka pintu ruangannya dengan sangat kasar.


"Putri?"gumam Lisa, ia mengernyitkan dahinya saat melihat Putri berjalan menghampirinya. Bahkan, perempuan itu terlihat berjalam dengan wajah yang tak ramahm sama sekali.


Sindy pun dengan sedikit berlari menghampiri Lisa dan berdiri di samping sahabat sekalian bos nya itu.


"Lis, itu wanita yang selalu mencari elu." ujar Sindy berbisik ke telinga Lisa. Lisa pun mengiyakan dan segera menghampiri mantan suaminya itu.


~•••~


Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.


Terimah kasih💜