
DERT DERT DERT
Zidan meraih dengan lemas ponsel miliknya yang tergeletak di sampingnya. Suasana hati dan fikirannya sudah hancur ditambah dengan gangguan dari ponsel miliknya yang membuatnya semakin kacau. Dengan malas Zidan menjawab telfon dari seseorang tanpa melihat nama kontaknya terlebih dahulu.
“ Hallo , Zidan ! Tiba-tiba saja mama ingin mendengar suara Lisa.. ehehe..mama tiba-tiba jadi merindukan menantu mama yang cantik itu.”
Zidan meringis kecil ketika mendengar suara mamanya yang kini sedang tertawa renyah dari seberang sana. Zidan kini masih terduduk di kursi sofa kamar hotel yang ia dan Lisa tempati.
“ Zidan? Kau masih disana, kan ?”
“ Uhm. Ada apa, mah?” tanya Zidan
“Mama hanya ingin berbicara sebentar dengan Lisa. Sudah berkali-kali mama menelfonnya tetapi tidak aktif. Bisa kau berikan ponselmu padanya ?” seru mama Lilis
Zidan gelisah. Matanya bergerak kesana kemari.
“ Zidan?” panggil mama Lilis
“ I-iya ma ? Di- Dia sedang mandi, mah” Dusta Zidan
"Oh... begitu ya, yaudah nanti kalau dia sudah selesai mandi bilang kalau mama nanyain dia!" ucap mama Lilis
"Iya mah, nanti aku sampaiin, bye ma" Zidan menutup telponnya dan meletakkan kembali ponselnya di meja depannya.
Zidan melirik kearah ranjang, dan ia melihat Lisa masih bersembunyi di balik selimut. Zidan juga melihat Selimutnya bergetar, menandakan kalau Lisa sedang menangis.
Zidan menghampiri Lisa dan mendudukkan tubuhnya di samping Lisa.
"Sayang, kamu kenapa nangis? udah dong marahnya, aku kan udah minta maaf juga" ujar Zidan . Lisa tidak menjawab, dia masih betah akan diamnya.
Karena merasa lelah membujuk sang istri Zidan pun berdiri dan berlalu masuk kekamar mandi. Lisa yang mendengar Zidan masuk ke kamar mandi pun membuka selimutnya dan berlalu pergi meninggalkan kamar, ia merasa masih begitu kesal kepada Zidan.
~
Lisa berjalan pelan di bibir pantai. Angin sore berkali-kali menerpa wajah kusutnya. Melihat gadis-gadis yang hanya memakai bikini dan para lelaki yang toples, sedikit demi sedikit mengurangi rasa kesalnya.
Hingga tatapannya tertuju pada gerobak kecil yang dicat dengan warna-warna cerah yang kini ramai dekerumuni anak-anak kecil. Jaraknya dengan gerobak Es Krim itu hanya beberapa meter saja.
Dengan mata berbinar Lisa berlari kecil ke arah gerobak es krim tersebut. Setelah melihat es krim yang dibeli oleh anak-anak membuatnya langsung melupakan semua masalah yang terjadi padanya.
~
Zidan berlari kesana kemari seperti orang gila. Ia begitu kaget saat keluar dari kamar mandi dan tidak menemukan istrinya di dalam kamar.
Dengan bermodal insting seorang suami, Zidan berlari ke arah pantai. Beberapa menit setelah memasuki area pantai, Zidan berhenti sejenak melihat wanita-wanita sexy yang hanya menggunakan bikini melambai-lambaikan tangan mereka ke arahnya. Dan dibalas dengan tatapan jijik oleh Zidan.
‘ Istriku telihat lebih sexy saat tidak menggunakan apapun dari pada kalian‘ Ucap Zidan dalam hati.
Dengan cepat Zidan kembali melangkahkan kakinya. Mengedarkan pandangannya ketika melihat seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari kerumunan orang yang sedang mengerumuni sebuah gerobak es krim sambil mengelus-elus perutnya. Zidan bisa melihat dengan jelas wajah Lisa yang sangat semangat melihat daftar es krim yang tertempel di badan gerobak.
Dengan cepat Zidan menghampiri Lisa. Tidak butuh waktu yang lama kini ia sudah berdiriri belakang Lisa yang belum juga menyadari kehadirannya.
” Lisa.” Lisa menoleh dan langsung merubah mimik wajahnya.
” Apa yang kau lakukan disini ?” Sepertinya Lisa benar-benar marah kali ini.
” Ikut aku.” Zidan langsung meraih tangan Lisa dan menarik dengan sedikit kasar karena Lisa yang mulai memberontak.
” Yak ! Lepaskan aku !" Lisa terus berteriak hingga semua orang yang berada di sekitar mereka melihat ke arah mereka.
” Tolong ! Dia ingin menculikku ! Tolong !”
” Kumohon siapapun tolong aku !”
” Pria ini ingin menculikku !”
Zidan meringis ketika melihat orang-orang tengah melihatnya dengan tatapan tajam seakan-akan berkata ‘ Kau sudah tidak bisa lari‘. Dengan gerakan cepat Zidan berbalik dan langsung mengangkat Lisa ala Bridal Style. Yang membuat Lisa semakin memberontak.
” Hua ! Tolong !!” Lisa benar-benar pandai menipu orang-orang.
” Lisa, diam!!.” Desis Zidan
” Dia berbicara kalau dia ingin membunuhku ! Tolong !” Teriak Lisa.
Zidan semakin mempercepat langkahnya ketika dua pria paruh baya gempal terlihat berlari kecil ke arahnya.
” Hey !”
” Berhenti disana !”
” Paman ! Tolong aku !”
Damn.
Lisa benar-benar membuat Zidan terlihat seperti pembunuh. Zidan menghentikan langkahnya ketika seorang pria lain menghalangi jalannya di depan.
” Turun kan gadis itu sebelum kau kami bawa ke kantor polisi." Zidan tertawa aneh membuat pria yang kini berpakaian polisi yang ada di hadapannya semakin menduga bahwa Zidan memang benar-benar psikopat.
” Apa seorang suami tidak bisa menculik istrinya sendiri ?” Si polisi langsung gelagapan. Dilihatnya Lisa meringis kecil dan langsung menyembunyikan wajahnya di dada Zidan.
” Ka- Kalau begitu silahkan.” Zidan kembali tertawa aneh dan berjalan melewati sang polisi dan beberapa orang yang penasaran apa yang terjadi pada mereka.
” Dasar bodoh.”
” Terserah.”
” Gara-garamu , aku pasti dikira orang gila.”
” Terserah.”
” Menyebalkan.”
” Terserah.”
” Aku membencimu, Zidan.”
” Aku juga mencintaimu, sayang.”
” Menjijikkan.”
” Terserah.”
Begitulah percakapan mereka. Ada saja hal-hal yang mereka perdebatkan hingga mereka sampai di lobby hotel yang mereka tempat.
Lagi, orang-orang memperhatikan mereka dan membuat Lisa merasa risih.
” Turunkan aku.”
” Tidak mau.”
” Ck. Apa kamu tidak lihat ? Mereka memperhatikan kita.”
” Kau kan istriku.”
” Tapi mereka belum mengetahuinya.”
Mendengar penuturan Lisa, Zidan langsung menghentikan langkahnya ketika ia dan Lisa berada di tengah -tengah lobby.
” Dia istriku ! Cantik, bukan ?!” Teriak Zidan.
” Yak ! Memalukan !" Zidan masih dengan tampang datarnya kembali berjalan sambil sesekali berteriak
” Dia istriku ! Dia sangat cantik, bukan ?!”. Memalukan tapi itu masih bisa dibilang manis, bukan ?
Di dalam lift, maupun koridor menuju kamar mereka,
Zidan masih saja mengucapkan hal yang sama ke setiap orang yang ditemuinya.
Kini mereka terduduk di sofa kamar. Lisa masih berusaha mengalihkan perhatiannya karena sedari tadi Zidan terus memperhatikannya.
” Berhenti melihatku seperti itu !” Zidan masih diam. Bergeser mendekati Lisa dan semakin menajamkan pandangannya. Lisa juga ikut bergeser menjauh ketika Zidan semakin mendekatinya.
” Kenapa kau menjauhiku ? Kau marah ?”
” Tentu saja, bodoh.”
Zidan tersenyum kecil membuat Lisa mengerucutkan bibirnya.
” Kenapa marah, hm ?”
” Karena tadi kamu mengacuhkanku di restoran. Aku bahkan sampai-sampai terjatuh dan kamu baru datang saat orang-orang itu mulai berkurang.” ucap Lisa sambil mencabut-cabut benang-benang yang ada di sofa.
” Itu karena aku juga marah padamu.”
” Bodoh.”
” Ya, aku memang bodoh.”
” Dan jelek.”
” Aku tidak bisa menerima yang itu !”
Mereka berdua menghembuskan nafas panjang bersama. Karena sama-sama memiliki ego yang tinggi, mereka berdua selalu ingin menjadi juara dan tidak ingin kalah.
” Ini semua juga karena salahmu.” Ucap Zidan.
” Kenapa aku ?!”
” Kau terus saja membicarakan tentang member - member BTS itu. Kau tidak sadar bagaimana perasaanku.”
” Memangnya bagaimana perasaanmu?”
“ Sudah kuduga kau akan berkata seperti itu,”
“ Karena aku memang tidak mengerti.”
” Tentu saja ! Ck. Lupakan saja.”
Kembali hening.
Tidak ada di antara mereka yang berniat membuka suara.
” Aku minta maaf.”
” Untuk apa ?”
” Uhm.. Karena sudah meninggalkanmu dan.. mengacuhkanmu di restoran tadi.”
” Hanya itu ?”
” Ck. Memangnya apa lagi ?”
” Seperti memberikanku hadiah.”
” Tidak ada hadiah.”
” Menyebalkan.”
Sekali lagi, hening.
Lima menit pertama, keduanya masih sibuk dengan fikiran mereka.
Lima menit berikutnya, Zidan mulai terlihat resah dan Lisa masih terlihat biasa saja.
Sepuluh menit berikutnya,..
” Argghh ! Aku sudah tidak tahan !” Pekik Zidan, ia dengan cepat menggendong Lisa dan memindahkannya ke atas ranjang. Ia mendudukkan Lisa sementara dirinya merebahkan tubuhnya dengan posisi telentang sembari menatap Lisa.
Lisa menoleh seraya berkata ” Ada apa ?”.
” Biasakah kita melakukannya sekarang ?”
” Apa maksudnya?”
” Ayolah, Lisa. Tidak usah berpura-pura bodoh, lagi pula ini malam terakhir kita honeymoonnya. Buat penutup boleh lah .” bujuk Zidan
” Aku benar-benar tidak mengerti.” Lisa masih berpura - pura tidak paham akan maksud suaminya itu.
Tanpa aba-aba Zidan langsung menarik Lisa, hingga Lisa terjatuh dan menindih dirinya
” Apa yang kau lakukan ?!” Lisa membulatkan kedua matanya
” Aku sudah tidak bisa menunggunya sampai nanti malam.”
” Tapi.. aku sangat lelah.” keluh Lisa, sembari meronta minta di lepaskan, Zidan melepaskan Lisa. Lisa duduk kembali dan merapikan bajunya yang sedikit berantakan
” Aku tidak peduli.” ujar Zidan, mencoba meraih tubuh Lisa kembali
” Apa kau ingin membunuhku ?!”tanya Lisa mencoba menghindar
” Tidak. Aku hanya ingin melakukannya.”ujar Zidan
” Pokoknya aku tidak mau ! kau kira itu tidak sakit ?! kamu sih iya hanya tinggal memasukkannya tapi aku ? Astaga..” keluh Lisa kesal, karna Zidan hanya memikirkan enaknya saja.
” Tapi aku sudah tidak tahan.”
Tangan kekar Zidan tiba - tiba menarik tubuh Lisa dan menjatuhkannya di atas tubuhnya hingga membuat Lisa meronta - ronta.
"Zidan, lepaskan aku... Lepaskan!" Lisa meronta.
"Bersabarlah, setelah ini akan ku lepaskan." salah satu tangan Zidan mulai menarik baju yang masih melekat sempurna ditubuh Lisa.
"Zidan tanganmu!!"Lisa menjauhkan tangan laki - laki itu dari bajunya.
" Katanya minta dilepaskan. Akan ku bantu melepaskan bajumu!!" goda Zida, tangannya mencoba masuk menyusup ke dalam balik baju yang Lisa kenakan
"Zidan!!" Lisa mengeraskan suaranya.membuat gendang telingan Zidan hendak pecah karnanya.
"Diam!" Zidan menatap Lisa tajam kedua mata Lisa membuat wanita itu membungkam mulutnya.
"Sebentar saja" imbuh Zidan dengan suara terendahnya.
"Aku tidak mau, aku lelah" Lisa mencoba menjauhkan tubuhnya dari Zidan
"Setidaknya untuk penutupan, malam ini kita kan terakhir disini."ujar Zidan
"Aku tidak mau! lepaskan aku" perintah Lisa.
"Kamu mau pulang atau tidak?" tanya Zidan
"Lepaskan aku, Zi!!" Lisa masih berusaha menjaukan tubuhnya
"Diam! Kau berteriak lagi. Akan aku bakar semua koleksi foto - foto dan barang - barang yang berhubungan dengan idol mu itu!" ancam Zidan.
"Zidan kau benar - benar...." belum sempat menyelesaikan perkataannya, Zidan memindahkan posisi Lisa di bawah tubuhnya dan menindihnya.
"Zid.." Lisa mencoba bernicara, namun bibir Zidan tak memberinya sedikitpun cela pada bibirnya untuk berbicara. Lisa hanya bisa pasrah, saat Zidan berhasil melucuti semua pakaiannya.
~•••~