
Matahari mulai naik, sinarnya masuk melalui sela - sela tirai kamar menghangatkan tubuh polos Zidan dan Lisa yang saling berpelukan.
Zidan bangun terlebih dahulu, dia melihat wajah Lisa yang sedang tertidur pulas di didalam pelukannya.
Zidan menyibakkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Lisa. Dalam keadaan tidur dengan mulut sedikit menganga pun Lisa terlihat cantik dan sangat menggairahkan bagi Zidan.
Zidan tersenyum ketika Lisa mulai membuka matanya. Melihat Zidan sedang menatapnya, Lisa menyusupkan wajahnya di dada Zidan. Ia merasa sangat malu dengan apa yang sudah terjadi diantara mereka semalam dan tadi pagi.
"Kenapa malu?" Zidan berusaha melihat wajah Lisa yang merona merah. Namun Lisa semakin menyusupkan wajahnya di dada Zidan.
"Lihat aku dong sayang?" Zidan mengusap kepala Lisa lembut. Lisa menggelengkan kepala nya.
"Apa kamu kita mengulangnya lagi" goda Zidan yang berhasil membuat Lisa mengangkat kepalanya.
"Yang benar saja" seru Lisa menatap Zidan kesal.
Lisa menarik Selimut dan melilitkannya ke tubuh polosnya, saat Lisa hendak turun ingin ke kamar mandi, dengan cepat Zidan menahannya.
"Mau kemana?" tanya Zidan menahan tangan Lisa.
"Kekamar mandi" Jawab Lisa mencoba melepaskan tangan Zidan. Tapi Zidan bukannya melepaskan, dia malah menarik Lisa hingga terjatuh di atas tubuhnya.
Lisa sangat kaget dan dengan cepat - cepat dia berusaha untuk bangun. Namun, Zidan tidak membiarkan Lisa bangkit dia malah mengeratkan dekapannya.
"Lepasiiinn, aku mau ke kamar mandi" ujar Lisa memeles. Dia bener - bernar tidak nyaman dengan posisi seperti ini.
"Nanti saja, sebentar lagi kita mandi bersama" tutur Zidan.
"Nggak mau, ini tu udah siang aku udah gerah" ujar Lisa sembari memukul tangan Zidan yang sudah mulai bergerak kemana - mana.
"Sebentar saja" bujuk Zidan yang semakin menjadi.
"Aku mau ke kamar mandi, lepas Zidan, aku mau buang air" ujar Lisa menahan tangan Zidan di tubuhnya.
"Shitt... Pergilah, pergi sana" Zidan melepaskan Lisa dan membelakangi Lisa. Lisa menatap Zidan kesal.
Ia dengan cepat - cepat turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi tidak lupa dia juga membawa baju gantinya.
"Dasar, dia kira gak capek di tunggangin mulu" gerutu Lisa melepas selimut, dia mengisi bath up dengan air hangat. Seperti petunjuk yang ia dapat kan dari novel - novel yang ia baca. Kebanyakan para author menulis sehabis melakukan hubungan para pemeran wanitanya pasti berendam dengan air hangat.
Lisa pun melakukan hal yang sama, ia mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat remuk.
"Apa dia tidak merasa lelah melakukannya, dasar manusia mesum gila. Badan ku rasanya remuk semua" keluh Lisa sembari memijit - mijit bahunya.
"Semalam adalah pengalaman pertamaku"ujar Lisa menutup matanya, dia benar - benar butuh istirahat.
Diluar kamar Zidan tampak kesal karena dia tidak mendapatkan apa yang ia mau. Ia menatap pintu kamar mandi.
"Apa gue terlalu egois ya sama dia. Tapi mau gimana lagi dia bikin nagih" ujar Zidan sembari tersenyum mengingat kembali kegiatan mereka tadi malam.
"Kenapa dia lama sekali di kamar mandinya?" pikir Zidan, dia melihat jam di ponselnya dan sudah 30 menit lebih Lisa berada di kamar mandi.
"Apa dia... Tidak,tidak, tidak mungkin cuma gara - gara itu dia bunuh diri" Zidan menggelengkan kepalanya, ia menepis semua pikiran buruknya.
"Mending gue cek" Zidan memakai celana pendeknya yang berserakan dilantai. Ia pun melangkah menuju pintu kamar mandi.
Tok...tok...
"Lisa apa kau masih bernapas di dalam" panggil Zidan. Ia mendekatkan telinga nya untuk mendengarkan suara di dalam. Namun, dia dalam sana tidak ada suara apa pun.
"Apa dia benaran mati?" gumam Zidan yang mulai panik. Tanpa pikir panjang pun Zidan mundur dan berlari menuju pintu. Namun malangnya saat Zidan hampir mendekati pintu, tiba - tia Lisa membuka pintu dari dalam dan naasnya Zidan pun tersungkur ke lantai.
Lisa yang menatap Zidan bingung, dia kaget saat melihat Zidan tiba - tiba berlari kearahnya dan untung saja dia masih sempat mengelak.
"Apa kau baik - baik saja?" tanya Lisa mendekati Zidan dan membantu Zida. Untuk duduk.
"Kau lihat nya bagaimana, aw" Zidan meringis kesakitan.
"Kenapa kau berlari seperti itu ?" tanya Lisa bingung.
"Gue eh aku cuma mau ngecek kamu di dalam. Soalnya kamu mandi lama banget, aku kira kamuuu"Zidan menghentikan ucapannya dan melihat kearah Lisa.
"Aku apa? Mati gitu maksudnya?"seru Lisa kesal.
"Bisa berdiri nggak? Mandilah setelahnya kita cari makan aku laper banget." seru Lisa membantu Zidan berdiri. Zidan menganggukan kepalanya dan menutup pintu setelag Lisa keluar dari kamar mandi.
Sementara Zidan mandi , Lisa memilih untuk bersiap - siap dari pada nanti bakalan ribet kalau berdandan saat ada suami menyebalkannya itu.
Saat asik berdandan Lisa tidak menyadari kalau Zida. Sudah berdiri di belakangnya dan tiba - tiba memeluknya dari belakang.
Lisa membulatkan matanya saat merasakan sentuhan tangan Zidan.
"Kau sedang apa? kenapa harus dandan? Kenapa harus dandan?" tanya Zidan sembari meletakkan dagunya di bahu Lisa.
"Bukannya kita hari ini akan jalan - jalan seperti yang kau janjikan semalam." ujar Lisa menatap pantulan diri mereka di cermin yang ada di depannya.
"Kau benar, tapi kurasa tidak perlu sampai berdandan seperti ini." tutur Zidan.
"Apanya yang seoerti ini, kurasa ini biasa - biasa saja" Lisa memeriksa riasannya.
"Terserah kau saja" Zidan mengurai pelukannya dari Lisa dan berjalan menuju tempat tidur untuk pakaiannya yang telah disiapkan oleh Lisa, kemudian dia berlalu masuk kekamar mandi kembali.
Lisa memeriksa kembali riasannya, dia merasa semuanya baik - baik saja.
"Dasar aneh" ujar Lisa kesal.
Ceklek.
Lisa melihat kearah kamar mandi ketika Zidan keluar dari sana.
"Ayo cepatlah sedikit, aku benar - benar lapar" tutur Lisa sembari memegang perutnya.
" Iya ayo" Zidan pun mengandeng Lisa keluar menuju ke restoran hotel.
Setelah selesai makan Siang Zidan pun mengajak Lisa jalan - jalan ke temat yang ingin iya mau.
"Sekarang kamu maunya kita kemana dulu?" tanya Zidan sembari melihat peta petunjuk.
"Sebenarnya aku mau ke pulau jeju" jawab Lisa menoleh kearah Zidan.
"Yang benar saja, itu jauh dan memakan waktu yang cukup lama. Bagaimana kalau kita kesananya besok saja, jadi kamu puas - puasin dulu di Seoulnya" saran Zidan.
"Kamu benar, tapi beneran ya besok kita ke jeju" tutur Lisa mengacungkan kelingkingnya kearah Zidan.
"Apa ini?"
"Janji " ujar Lisa cengengesan. Zidan pun menuruti Lisa, ia mengaitka kelingkingnya dengan kelingking Lisa.
"Dasar bocah" ucap Zidan mengacak rambut Lisa.
"Rambutku, bodo amat" ujar Lisa memanyunkan bibirnya.
Cup
Melihat Lisa manyun seperti itu membuat Zidan jadi gemes.
"Jangan seperti itu, atau aku kita nggak jadi kemana - mana" tutur Zidan mengusap pipip Lisa. Lisa yang mendapatkan serangan mendadak dari Zidan pun seketika tubuhnya jadi kaku dan jantungnya berdetak tak karuan.
"Dasar mesum" gumam Lisa pelan
"Kamu bilang apa?" tanya Zidan yang merasa kalau Lisa mengatai nya.
"Tidak bilang apa- apa. Ya sudah, ayo ntar keburu kesorean!" ujat Lisa menari tangan Zidan. Mereka pun pergi menggalkan restoran hotel. Zidan menghubungi sopir yang sengaja di sewanya selama mereka honeymoon di Korea.
"Bagaimana, apa mobilnya sudah siap?" tanya Lisa saat Zidan menutup panggilanya dengans ang supir.
"Sudah ada di depan" jawab Zidan mengandeng tangan Lisa. Lisa hanya menganggukkan kepalanya sebagainjawaban. Ia melihat tangannya yang di gandeng Zidan.
Dia merasa heran dengan sifat Zidan dimulai dari bangun tidur tadi. Tadi malam sehabis mereka melakukan pertempuran, Zidan melarangnya untuk ber Elo - gue kalau sedang berbicara dengannya.
Awalnya Lisa menolak, tapi setelah dipikir - pikir olehnya. Emang bener kalau dia tidak pantas memanggil Zidan dengan elo gue.
Jadi mulai tadi malam Lisa memutuskan untuk ber aku - kamu.
~•••~
Readers tersayang jangan bosan - bosan ya nunggu kelanjutannya ceritanya.
jangan lupa juga gerakkan jempolnya buat like, komen dan kalau kalian suka jangan lupa juga di favorit sekalian votenya. Terima kasih☺