
Seharian penuh Lisa bersikap manis kepada Zidan tetapi Zidan malah tidak menanggapinya. Hal itu membuat Lisa semakin pusing dibuatnya.
"Mungkin dengan begini lu bisa jerah dan lebih baik lagi sama gw" pikir Zidan yang melihat Lisa sedang memasakkan makanan kesukaannya yang dia tahu, Lisa tadi menelpon mamanya untuk menanyakan makanan kesukaannya.
~
Lisa datang menghampiri Zidan yang sedang menonton tv.
"Demamnya udah turun" ucap Lisa. Zidan kaget saat Lisa tiba - tiba memegang dahinya.
"Yuk makan siang, gw udah masak makanan kesukaan elu" ajak Lisa. Zidan hanya diam, dia berdiri dan pergi ke meja makan.
"Ini makanlah yang banyak, biar lu cepat sembuh. dan ini jangan lupa minum susu biar racun cabe di perut elu cepat hilang" ujar Lisa.
"Hm" balas Zidan. Lisa terdiam mendengar jawaban Zidan.
"Yang benar saja, gw ngomong panjang lebar. cuma dijawab Hm" pikir Lisa kesal. Dia menahan kekesalannya karena dia tahu kalau Zidan jadi begini, semua itu atas kesalahannya.
Mereka makan dalam diam, yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok dan garpu. Sedari tadi Lisa makan dengan selalu menunduk sedangkan Zidan dia sedari tadi memperhatikan Lisa. Dia tersenyum puas karena sudah berhasil mengerjai Lisa dengan dia yang seakan - akan marah kepada Lisa padahal dia tidak marah sama sekali.
"Gw selesai" ucap Zidan berdiri dan hendak melangkah pergi.
"Zidan tunggu" Zidan menghentikan langkahnya dan berbalik melihat kearah Lisa.
"Lu masih marah sama gw?" tanya Lisa yang tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya.
"Nggak" jawab Zidan singkat
"Terus, kalau lu gak marah. Kenapa dari tadi pagi lu selalu cuek sama gw?" tanya Lisa.
" Emang gw harus gimana?" tanya Zidan.
"Ya setidaknya kaya biasa aja" jawab Lisa
"Gw rasa ini udah kaya biasa" Lisa diam tidak menjawab.
"Apa ada lagi yang mau lu tanya?" tanya Zidan. Lisa masih diam. Melihat Lisa yang diam, Zidan pun berlalu pergi meninggalkan Lisa.
"Lisa, Lisa ada apa dengan kamu, kenapa kamu malah jadi galau gini karena dia bersikap cuek" gumam Lisa pelan.
~
Ting tong...ting tong...
Zidan yang sedang menonton tv pun berdiri membuka pintu.
Ceklek
"Hai kakak ipar" sapa sang tamu yang tak lain adalah Rose dengan pacarnya.
"Eh kalian silahkan masuk" Zidan mempersilahkan adik ipar dan Daniel pacar adik iparnya itu masuk.
"Silahkan duduk, saya panggilkan Lisa nya dulu" ujar Zidan berlalu pergi memanggil Lisa yang sedang dikamar.
Ceklek
Zidan membuka pintu kamar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Didepan ada Rose dan pacarnya tu" ucap Zidan.
"Aku lagi mager, elu aja sana ladenin mereka" seru Lisa yang masih asik menggambar.
"Enak aja, dia kan adiknya lu. Ya lu lah yang berurusan, Kalau lu nggak mau keluar. Yaudah mereka gw usir aja"ancam Zidan
"Hais.. merepotkan saja" dumel Lisa kesal. Akhirnya dengan terpaksa Lisa menghampiri adik dan pacar adiknya itu.
"Eh kalian kapan datang? maaf nunggu lama ya" sapa Lisa basa basi.
" Baru aja sampai kak, kak Zidannya mana?" tanya Rose yang tidak melihat Zidan muncul.
"Dia lagi di kamar, lagi gak enak badan" jawab Lisa.
"Udah kakak kasih obat belum tu kak Zidannya ?" tanya Rose perhatian
"Kok kamu malah perhatian gitu sama pak Zidan?" Tanya Daniel.
"Ya wajar lah sayang dia kan suaminya kakak aku. ntar kalau dia sakit siapa coba yang jagain kakak aku" elak Rose. Sebenarnya dia benar - benar khawatir dengan kakak iparnya itu.
" Udah kok dek, tadi uda minum obat. Kamu kesini buat nanyain Zidan doang nih, kabar aku gak di tanyain gitu?" tanya Lisa.
" Kalau kakak gak perlu ditanyain. Kakak pasti sehat - sehat aja kan" ujar Rose.
"Dasar, eh kalian udah makan belum?" tanya Lisa
"Udah kak, tadi sebelum ke sini kita pergi makan dulu" jawab Daniel
"Yaudah tunggu bentar ya kakak ambil minumnya dulu" pamit Lisa.
"Kamu kenapa sih perhatian gitu sama pak Zidan?" tanya Daniel yang masih kesal dengan kekasihnya yang sangat perhatian dengan dosennya itu.
"Kan tadi udah aku jelasin alasannya. Ih kamu jangan mulai deh yang, ntar kak Lisa nya salah paham aku yang gak enak" ujar Rose.
"Kalian lagi berantem ya?" tanya Lisa yang tiba - tiba datang.
"Ini silahkan diminum dan di cicipi kuenya" Lisa mempersilhakan Rose dan Daniel minum.
" Ini kakak yang bikin?" tanya Daniel.
"Oh jelas tidak dong Niel. Kakak mana sempat bikin kue" ujar Lisa.
"Bukan gak sempat, tapi emang gak pandai bikin kue " sahut Rose.
"Kamu jangan buka aib kakak dong dek, kan jadi malu sama Daniel" ucap Lisa terkekeh. Lisa memang bisa memasak tapi dia paling gak bisa bikin kue.
Mereka pun melanjutkan obrolannya dengan penuh canda dan tawa. Karena memang Daniel orangnya suka becanda dan paling bisa mencairkan suasana. Tapi kalau tentang hubung pacaran Daniel orangnya sangat kaku.
"Kita pamit dulu ya kak" pamit Daniel
"Iya hati - hati ya, jangan ngebut bawa mobilnya" seru Lisa.
"Aku pulang ya kak, jaga kesehatan kalau bisa sekali - kali menginap lah di rumah, aku kesepian tau gak ada kakak" ucap Rose memeluk sang kakak.
" Iya kakak usahakan, kamu juga jaga kesehatan ya dan jangan bandel dengerin kata ayah" nasehat Lisa kepada adiknya.
"Bye kak" pamit mereka. Lisa melambaikan tangannya, setelah mobil Daniel sudah keluar dari pekarangan rumahnya Lisa pun kembali masuk kedalam.
Saat dia membersihkan ruang keluarga dan saat itu juga Zidan melewatinya.
"Mau kemana?" tanya Lisa yang melihat Zidan berpakain rapi.
"Cari angin" jawab Zidan
" Ngapain capek - capek nyari angin, noh hidupin tu kipas pasti ketemu sama anginnya. Gembung - gembung deh tu" canda Lisa.
" Capek ngomong sama lo" ucap Zidan berlalu pergi.
"Yaudah gak usah ngomong apa susahnya" gumam Lisa. Dia kembali melanjutkan aktivitasnya.
~
Zidan sedang berada di toko buku yang menjual perlatan menggambar. Ya Zidan keluar hanya untuk membeli alat gambar untuk Lisa. Karena saat dirinya di kamar tadi dia tanpa sengaja melihat kalau peralatan Lisa sudah hampir habis.
"Apa lagi ya?" gumamnya
Dia kembali berkeliling mencari apa - apa saja yang dibutuhkan untuk menggambar.
"Mungkin ini sudah cukup" gumamnya lagi. Zidan berjalan ke kasir.
~
Saat dijalan hendak pulang Zidan melihat dipinggir jalan ada penjual cendol. Dia tau kalau istrinya sangat suka dengan cendol.
Zidan memakirkan mobilnya tak jauh dari penjual cendol.
" Mas cendolnya 2" pesan Zidan.
"Tunggu bentar ya mas" jawab pedagang cendol. Tak lama 2 bungkus cendol pun sudah ditangan Zidan.
"Terima kasih ya mas" ucap Zidan. Zidan kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan pulangnya.
Sesampainya di rumah Zidan langsung ke dapur. Dia mengambil 2 gelas kosong dan memindahkan cendol yang dibelinya tadi ke gelas. Kemudian dia membawa semua barangnya kekamar.
Ceklek
Zidan masuk ke kemar tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kebiasaan" gumam Lisa pelan tanpa melihat kearah Zidan. Lisa masih fokus dengan membaca novel.
"Ehm" kode Zidan yang duduk di karpet bawah. Lisa masih acuh akan kehadirannya.
"Hmm...seger juga minum cendol sore - sore gini" pancing Zidan. Seketika Lisa menoleh, dan melirik 1 gelas yang berada di samping Zidan.
"Lu beli 2?" tanya Lisa.
"Iya" jawab Zidan, mendengar itu Lisa langsung turun dari tempat tidur dan mengambil posisi duduk didepan Zidan.
"Ih kok banyak kali lu belinya, gak baik loh minum cendol banyak - banyak" ujar Lisa.
"Kenapa emang nya?"tanya Zidan menahan senyum, dia tahu kalau Lisa menginginkan cendolnya.
"Gak baik minum es banyak - banyak, apalagi elu kan baru siap demam. Jadi gak boleh minum es" ujar Lisa
"Terus gimana dong, apa gw buang aja ya yang satu ini?" Zidan pura - pura terpengaruh oleh Lisa.
"Ih jangan dibuang, gak boleh juga. Lebih baik lu kasih ke gw aja" tawar Lisa.
"Bwahahahha" akhirnya tawa Zidan pecah, dia sudah tidak bisa menahanya lagi.Lisa cemberut mendengar Zidan tertawa.
"Jadi lu mau?" tanya Zidan. Lisa mengangguk dan hendak meraih gelas tersebut.
"Ehits... Ada syaratnya"
~•••~