ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Badmood


Malam harinya Lisa bersiap hendak tidur, tiba - tiba terdengar suara bel rumahnya berbunyi.


Ting tong.... Ting tong...


"Aduh siapa lagi yang datang malam - malam begini" gumam Lisa pelan.


"Ah biarin ajalah, biar di kira gak ada orang dirumah" gumamnya lagi.


" Lagian ini Zidan kemana sih, udah jam segini belum juga pulang " kesal Lisa


Ting tong... Ting tong..


Bel rumah kembali terdengar,Lisa semakin gelisah. Dia takut kalau yang datang kerumahnya adalah orang jahat. Lisa menarik selimut sampai ke kepalanya. Keringat dingin mulai bercucuran di tubuhnya.


"Zidan lu kemana sih" gumam Lisa ketakutan.


Ting tong... Ting tong...


Ting tong...Ting tong...


Lisa semakin takut, dia mengambil ponselnya dan mencari nomor Zidan.


"Nomor nya mana lagi? "Lisa terus mencari no kontak Zidan.


"Aaduuh, gw lupa save nomor dia lagi" Lisa kesal pada dirinya sendiri. Kenapa dia begitu bodoh sampai - sampai dia tidak menyimpan nomor suaminya sendiri.


"Gw harus gimana?" gumam Lisa takut.


Ceklek


Lisa membulatkan matanya saat mendengar suara pintu kamarnya yang dibuka.


Tap


Tap


Tap


Lisa semakin mempererat selimutnya, keringat dingin membasahi baju nya.


"Ayah Lisa takut" Lisa menangis ketakutan.


"Aaarrrggg" teriak Lisa saat seseorang tiba - tiba menarik selimutnya.


"AYAH"teriak Lisa.


"Bwhahahahaha" tawa orang itu


"Zidan" gumam Lisa pelan, dia membuka selimutnya.


"Brengsek hiks hiks" tangis Lisa pecah, karena dia bener - bener ketakutan.


"Hahahaha" Zidan tak bisa menahan tawanya.


"Hiks..hiks.." Lisa masih menangis, melihat itu Zidan menghentikan tawanya. Dia mendekati Lisa.


"Sorry" ujar Zidan memegang tangan Lisa.


Bugh


bugh


"Ampun ampun ampun" teriak Zidan saat Lisa memukul Zidan.


"Rasain nih rasain" Lisa terus memukul Zidan.


"Aw udah ah sakit tau" mohon Zidan.


"Bodo, bodo. Lu ngeselin tau" Lisa terus memukul Lisa.


Zidan berdiri dan menghindari serangan Lisa.


"Lu tau gak gw hampir mati ketakutan ha" teriak Lisa kesal.


"Lagian lu juga, gw pencet - pencet bel tapi gak lu buka - bukain pintu" seru Zidan.


"Kenapa coba lu pake pencet - pencet bel segala, langsung masukkan bisa" hardik Lisa kesal.


"Ya gw lagi malas aja mutar kuncinya" jawab Zidan santai.


"Grrrrrrrmmm...Zidaaaaaannn lu bener - bener ya argh"geram Lisa kesal.


"Dosa apa gw punya suami kaya lu?" tanyaLisa kesal.


"Dosa lu banyak dan untuk menebusnya lu harus terima gw sebagai suami lu. Lagian seharusnya lu itu bersyukur gw jadi suami lu" ujar Zidan bangga.


"Bersyukur kepala lu, pokoknya malam ini lu tidur dibawa!!!" ucap Lisa, dia kembali ke tempat tidur dan mengambil bantal dan selimut kemudian di lemparnya kearah Zidan.


Zidan membulatkan matanya, dia tidak terima kalau dia harus tidur dilantai.


"Ok, dari pada gw tidur sekamar sama lu mending gw tidur di kamar tamu" balas Lisa keluar kamar.


"Pergi aja sana, awas lu kalau balik lagi kesini"Teriak Zidan.


Zidan pergi kekamar mandi untuk mengganti bajunya.


"Dia lucu juga kalau lagi takut gitu" gumam Zidan tersenyum.


Sementara Lisa masuk ke kamar tamu, dia membaringkan tubuhnya di ranjang. Saat matanya baru tertutup tiba - tiba Lisa membayangkan hal - hal yang aneh.


"Aduh jangan mikir yang enggak - nggak dong, please" gumam Lisa pada dirinya sendiri.


Bukannya semakin hilang tapi khayalannya semakin menjadi. Lisa seketika bangun dari tidurnya, kemudian di berlari kembali kekamar.


Ceklek


Mendengar suara pintu terbuka Zidan tersenyum miring. Dia mengubah posisi tidurnya yang awalnya telentang sekarang menjadi menyamping menghadap kearah tempat Lisa berdiri.


"Ngapain lo kesini? katanya gak mau sekamar sama gw?" goda Zidan.


" Berisik" teriak Lisa masuk kedalam selimut Zidan.


"Hahahaha" Zidan tertawa keras, melihat Lisa yang begitu menggemaskan dimatanya.


Lisa hanya diam, dia malas meladeni celotehan Zidan. Dia lebih memilih untuk diam dan tidur. Melihat Lisa yang tidur, Zidan pun ikut tidur menyusul Lisa ke alam mimpi.


~


Pagi harinya karena cuaca sedang hujan dan udara menjadi dingin, Lisa semakin mendekatkan tubuhnya ke sumber yang memberinya kehangatan. Dia semakin mempererat pelukannya yang memberikannya kenyamanan dan kehangatan.


"Hmmm...nyaman banget" gumam Lisa pelan. Lisa meraba - raba benda yang dipeluknya itu.


"Kok guling aku ada hidunhnya, lah ini ada rambutny" ujar Lisa pelan. Seketika itu Lisa sadar dan membuka matanya yang membulat sempurna.


"Aaarrgghh" Teriak Lisa.


"Apa sih teriak - teriak pagi - pagi gini?" tanya Zidan mempererat pelukannya di tubuh Lisa.


"Lepasin.... Lepas" teriak Lisa lagi, dia terus bergerak meronta minta di lepaskan tapi Zidan seakan enggan untuk melepaskannya.


"Tunggu lah sebentar" ujar Zidan pelan.


"Apaan sih lo peluk - peluk gw" Lisa terus meronta.


"Lo diam atau gw cium?" mendengar ancaman 'Zidan, seketika Lisa langsung diam.


"Kalau diam gini kan enak, lagian cuma peluk doang lu gak akan rugi apapun" ucap Zidan.


"Kenapa lu mau nikah sama gw?" tanya Lisa, dia gak tau entah kenapa pertanyaan itu kembali muncul di benaknya.


"Bukannya udah pernah gw jawab"jawab Zidan.


"Gw tau bukan itu alasannya" seru Lisa.


"Gw mandi dulu" Zidan melepaskan pelukannya dan berlalu pergi ke kamar mandi.


"Kenapa lu harus ngelak sih Zi?" gumam Lisa bingung dengan sikap Zidan. Lisa hanya diam termenubg memikirkan nasibnya yang harus hidup dengan orang yang tidak mencintainya.


"Huuft... mending gw bikin sarapan aja deh" ujar Lisa bergegas turun dari tempat tidur dan berlalu ke dapur.


Dikamar mandi Zidan menatap pantulan dirinya di kaca kamar mandi.


"Asal lu tau Lis, gw mau nikah sama lu karena gw cinta sama lu. Dan kalau bukan karena permintaan gw pernikahan ini gak bakalan pernah terjadi" gumam Zidan


"Tapi gw masih nunggu waktu yang pas buat mengutarakan perasaan gw ke elu Lisa. Gw tau lu pasti trauma dengan masalalu kita." ujarnya lagi.


~


Saat sarapan tak ada satupun dari mereka yang berniat memulai pembicaraan.


"Gw selesai" ucap Zidan berdiri, mengambil tas kerjanya di kamar kemudian berlalu pergi tanpa menyapa ataupun berpamitan kepada Lisa.


"Dasar nyebelin" gumam Lisa.


~


Hari ini mood Lisa atau pun Zidan sangat lah buruk. Sampai di tempat kerjanya masing - masing mereka selalu saja marah - marah meskipun orang lain membuat kesalahan sekecil apa pun dan Zidan atau pun Lisa pasti akan memperbesar masalahnya.


"Maaf pak Zidan saya tidak sengaja" ucap mahasiswanya yang tak sengaja menyenggolnya.


"Makanya kalau jalan tu hati -hati" ujar Zidan dingin.


"Maaf pak" ucap mahasiswa itu lagi. Zidan tidak menanggapi dia pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Mood Lisa tak jauh bedanya dengan Zidan. Dia akan sangat marah hanya karena Sindi salah membawa barang yang dimintanya.


~•••~