
Lisa sangat merasa puas, seharian penuh dia mengelilingi kota Seoul. Zidan benar - benar menuruti semua permintaan Lisa, kemana pun dan apa pun yang Lisa ingin kan dipenuhi oleh Zidan.
Sekarang mereka sedang duduk di salah satu bangku yang ada di tepi sungai Han. Ini adalah tempat terakhir yang di pilih Lisa untuk menikmati kebersamaan mereka.
Mereka berdua duduk sambali melihat ke indahan lampu di malam hari di sungai han.
"Apa kau senang?" tanya Zidan sembari memegang tangan Lisa.
"Senang banget, terima kasih ya" ucap Lisa tersenyum kearah Zidan. Lisa menyandarkan kepalanya ke bahu Zidan.
"Disini sangat nyaman" tutur Lisa sembari melihat kesekelilingnya.
"Apa kau ingin tinggal disini?" tanya Zidan. Lisa menggelengkan kepalanya. Zidan menoleh melihat wajah Lisa.
"Kenapa? bukan nya tadi kau bilang sangat menyukai negara ini?" tanya Zidan mengerenyitkan alisnya.
"Aku hanya bilang nyaman, bukan berarti aku mau tinggal disini. Lagi pula aku nggak cocok tinggal disini." jawab Lisa yang masih betah melihat sungai Han.
"Kenapa?" tanya Zidan penasaran.
"Karena disini tidak ada yang jual batagor" jawab Lisa singkat, sembari menutup matanya, ia benar - benar menikmati ketengan yang ada di sungai Han.
"Hahaha hanya karena itu?" tanya Zidan tak menyangka akan jawaban Lisa yang sangat tidak masuk akal bagi Zidan.
Lisa tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Zidan menggosok telapak tangannya, ia sudah merasa kedinginan. Dia menoleh kearah Lisa, ia melihat bahwa istrinya itu sedang tertidur.
"Apa dia tidur?" gumam Zidan. Zidan mencoba membangun kan Lisa tapi tidak ada pergerakan dari Lisa. Dan akhirnya Zidan pun mengendong Lisa ke mobil, saat di perjalanan menuju ke tempat parkir. Lisa mengingau, dia mengatakan hal - hal yang tidak jelas.
Zidan hanya tersenyum mendengar semua ucapan Lisa. Zidan menghentikan langkahnya sejenak, pemikiran konyol tiba - tiba terlintas begitu saja di kepalanya.
"Lisa, menurutmu Zidan itu orangnya gimana sih?" tanya Zidan penasaran.
"Dasar Zidan, jelek, egois, menyebalkan dan yang paling parah dia itu menyebalkan" ucap Lisa kembali tertidur, Zidan tercengang mendengarnya. Ia tak menyangka kalau dirinya di mata Lisa akan seburuk itu.
"Mata lu ketarak kali, orang ganteng gini juga, dasar menyebalkan. Elu itu juga menyebalkan tau." Gerutu Zidan sepanjang perjalanan menuju parkiran.
Sesampainya di mobil Zidan memasukkan Lisa kedalam mobil, kemudian ia berputar dan masuk ke pintu sebelahnya.
"Kita kembali ke hotel ya pak" seru Zidan kepada supirnya, kemudian ia membenarkan posisi duduk Lisa.
"Baik tuan" sang supirpun mulai menjalankan mobilnya menuju hotel tempat Zidan dan Lisa menginap.
~
Sesampainya di hotel Zidan mencoba membangunkan Lisa.
"Lisa ayo bangun kita sudah sampai di hotel" seru Zidan menggoyangkan lengan Lisa.
"Heummm.... " Lisa merenggangkan otot - ototnya.
"Udah nyampe, ih kok kita pulangnya cepat banget, kita juga belum makan malam" ujar Lisa cemberut.
"Salah siapa coba, udah jangan cemberut mulu, ayo turun" sahut Zidan sembari membuka pintu dan ia keluar duluan.
"Haish..padahal aku mau makan di luar" gerutu Lisa menyusul Zidan.
Mereka pun masuk ke hotel, sebelum kembali ke kamar, Zidan terlebih dahulu mengajak Lisa untuk makan di restoran hotel.
"Kamu mau makan apa?" tanya Zidan melihat daftar menu.
"Apa ajalah, yang penting kenyang dan cepat. Aku udah ngantuk banget." keluh Lisa.
Zidan tidak menyauti Lisa dia fokus melihat apa yang akan ia pesan. Setelah memesan makanan, Zidan melihat Lisa yang sedang terkantuk - kantuk.
"Kita makan di kamar saja" seru Zidan yang kasihan melihat berusaha menahan kantuk. Lisa hanya menganggukkan kepalanya.
Zidan memanggil pelayan, ia mengatakan kalau makanannya untuk di antar ke kamarnya.
"Ayo" ajak Zidan berdiri dari duduknya dan menghampiri Lisa. Namun Lisa tak bergeming.
"Gendooong"ujar Lisa manja, ia mengangkat tangannya kearah Zidan.
"Dasar manja" seru Zidan, mengendong Lisa.
"Manja sama suami sendiri juga" gumam Lisa, memeluk leher Zidan. Zidan tersenyum senang, ia sangat suka jika Lisa manja seperti ini pada nya.
"Kau sudah mulai nakal ya" ucap Zidan melangkah menuju kamar.
Saat tiba di kamar Zidan menurunkan Lisa di atas ranjang dengan pelan.
"Jangan tidur dulu, tunggu makanannya datang. Aku ke kamar mandi dulu" ujar Zidan mengingatkan Lisa. Ia pun berlalu ke kamar mandi.
Tak lama kemudian bel kamar mereka pun berbunyi. Dengan malas Lisa pergi membukakan pintudan tenyata yang datang adalah pelayan hotel yang mengantarkan makanan yang dipesan Zidan tadi. Lisa mempersilahkan pelayan hotel untuk menghidang makanan mereka di meja yang ada di kamar.
"Thank you" ucap Lisa, kemudian ia menutup pintunya kembali.
Lisa mendengar Zidan masih sedang mandi, ia pun duduk didepan sambil menunggu suaminya itu.
Tak lama kemudian Zidan pun keluar dari kamar mandi, ia melihat Lisa sedang duduk menunggunya.
"Apa makananya datang dari tadi?" tanya Zidan sembari menarik kursi depan Lisa. Lisa hanya diam menatap Zidan heran.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Zidan heran.
"Kenapa kamu gak pake baju?" tanya Lisa
"Untuk apa pakai baju, nanti juga akan di buka kembali. Cepat lah makan!" tutur Zidan. Lisa tertegun mendengar ucapan Zidan.
"Apa dia akan melakukannya lagi? aku benar - benar lelah" pikir Lisa yang mulai memikirkan bagaimana dia bisa selamat malam ini dari suaminya itu.
Mereka pun makan dalam diam. Selama mereka makan pandangan Zidan tak pernah terlepas dari Lisa. Hingga Lisa merasa Khawatir dibuatnya.
"Apa kau sudah selesai? ayo kita istirahat di tempat tidur" seru Zidan yng melihat piring makanan Lisa sudah kosong.
" Iya kamu pergilah dulu, aku mau meletakkan ini depan pintu kamar" tutur Lisa menyusun piring kotor bekas mereka makan tadi.
"Baiklah, cepat ya jangan lama - lama" Zidan mengedipkan sebelah matanya kepada Lisa. Lisa yang melihatnya pun jadi salah tingkah. Zidan berdiri dari duduknya dan pergi ke ranjang.
Sementara Lisa meletakkan piring kotor ke depan pintu dan setelah itu iya mengambil air mineral untuk Zidan.
"Ini minum lah" Lisa menyodorkan air mineral tersebut kepada Zidan.
"Apa ini?"tanya Zidan heran
"Apa matamu tak berfungsi lagi." ujar Lisa memberikannya ke tangan Zidan. Tanpa pikir panjang Zidan pun meminum segela air yang dibawakan oleh Lisa.
"Terima kasih" ucap Zidan meletakan Gelas kosong diatas nakas.
Zidan membaringkan tubuhnya disamping Lisa, saat Zidan berbaring didekatnya dengan spontan Lisa menggeserkan tubuhnya.
"Kenapa menghindar? Geser sini" Zidan menarik tangan Lisa. Hingga kini Lisa berada dalam pelukannya.
"Hmm... Zidan itu..Itu"
"Itu itu apa, bicaralah yang jelas" ujar Zidan memperhatikan bibir Lisa.
"Bisakah ki-kita ti-tidak melakukannya malam ini?" tanya Lisa ragu. Dengan cepat Zidan menggelengkan kepalanya.
"Jangan becanda, sudah seharian aku menahannya" seru Zidan, sembari menindih tubuh Lisa.
"Tapi.." Zidan membungkam mulut Lisa dengan ciumannya. Lisa sangat kaget, ia hanya bisa diam. Zidan terus mencium dan ******* bibir Lisa rakus, hingga Lisa merasa sulit untuk bernapas.
Lisa memukul - mukul Zidan, Zidan yang mengertipun memindahkan ciumannya ke leher jenjang Lisa. Lisa mengatur napasnya yang terasa sangat sesak, tiba - tiba Lisa tidak merasakan adanya pergerakan Zidan di tubuhnya.
Lisa menyingkirkan tubuh Zidan dari atas tubuhnya, hingga Zidan tergolek kesamping. Lisa tersenyum melihat Zidan yang sudah tidak bergerak lagi. Ia pun menarik selimut dan mulai menutup matanya sembari mengukir senyum di bibirnya.
"Good night" ucap Lisa mencium pipi Zidan sebelum ia benar - benar tidur.
~•••~