ZIDAN Dan LISA

ZIDAN Dan LISA
Curhat


Dibutik Lisa sedang membuat desain gaun – gaun untuk peragaan butiknya akhir tahun ini.


Sedang asik - asik menggambar Lisa tiba – tiba kepikiran omongan Zidan tadi saat sarapan tadi.


“Haaa… benar – benar ya tu orang berbuat baik salah, cuek salah, jadi bingung. Kan aku cuma pengen berubah aja.” Lisa tidak habis pikir dengan suaminya itu, bisa –bisanya dia ngira Lisa kesambet.


“Bodoh ah yang penting aku usaha dulu, mana tau pernikahan ini bisa berujung bahagia.” Gumam Lisa kembali melanjutkan kerjanya meski sangat sulit bagi Lisa untuk fokus.


Tidak jauh bedanya dengan Lisa, Zidan pun tidak bisa focus dengan kerjaannya. Dia masih penasaran dengan perubahan istrinya pagi ini.


~


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Daniel pacarnya Rose.


“Aku kangen sama kakakku”jawab Rose lesuh. Padahal dia berpisah dengan kakaknya itu baru satu malam. Tapi Rose sudah sangat merindukan kakaknnya.


“Emang kakak kamu pindah kemana?” tanya Daniel lagi.


“Kerumah pak Zidan, kamu tahukan jarak rumah pak Zidan itu sangat jauh dari rumah aku” ujar Rose.


“Tapi kan masih dikota ini sayang, lagian seingat aku rumah pak Zidan itu nggak jauh dari kampus kita. Jadi kamu bisa berkunjung kesana” karena sebelumnya Daniel pernah berkunjung kerumah Zidan saat dosennya itu menyuruhnya mengantarkan tugas.


“Kamu benar juga ya, tumben kamu pinter” Rose memeluk pacarnya itu.


“Sayang jangan gini, malu banyak yang lihat”tolak Daniel. Benar kata Daniel, banyak yang melihat kearah mereka. Karena sekarang mereka sedang berada di kantin kampus. Rose melepas pelukannya dan tersenyum malu.


“yaudah kita ke kelas yuk” ajak Daniel


“Dasar kaku” gumam Rose pelan.


“Kamu bilang apa?” tanya Daniel, dia tidak mendengar dengan jelas ucapan Rose barusan.


“Yuk katanya mau ke kelas.” Rose bergelayut manja di lengan Daniel.


~


Saat jam makan siang, Lisa ingin mengantarkan makanan untuk Zidan. Tapi dia ragu untuk bertemu dengan Zidan.


“Antar nggak ya?... Takutnya nanti dia salah paham lagi” gumam Lisa ragu.


“Tapi kalau nggak diaterin, berarti aku belum bisa dong jadi istri yang baik.” Lisa bimbang.


“Haaa…. Gimana ini?”teriak Lis frustasi. Beginilah Lisa terlalu sulit utuk membuat keputusan. Biasanya kalau dia ingin melakukan sesuatu dia pasti meminta pendapat adik dan ayahnya. Tapi ini masalahnya berbeda.


CEKLEK


“Lu kenapa?” tanya Sindi tiba – tiba masuk, karena dia kaget mendengar teriakan Lisa barusan.


“Tidak apa – apa heheh”sahut Lisa cengengesan.


“Terus tadi gw dengar suara teriakan, kenapa itu?” tanya Sindi heran.


“ Nggak ada apa – apa kok, percaya deh sama gw”ucap Lisa meyakinkan sekretarisnya itu.


“Ok, lu udah makan siang?”tanya Sindi.


“Belum, ini gw baru mau ngajak lu makan bareng” sahut Lisa.


“Sorry Lis, gw gak bisa.. gw uda janji makan bareng sama cowok gw” tolak Sindi.


“Ooo gitu ya” Lisa mengangguk paham.


“Mendig lu makan bareng suami lu aja.”saran Sindi.


“Gw lagi malas ketemu dia.” Ucap Lisa


“Lah kenapa?... Apa lagi sih sekarang Lis?... Jangan bilang lu masih belum bisa menerima suami elu itu” tanya Sindi curiga dengan Bos sekaligus sahabatnya itu.


“Bukannya gitu Sin. Gw sih udah mau mencoba untuk nerima keadaan ini. Tapi dia nya rese Sin, jadi kesel gw “ keluh Lisa.


“Rese gimana?” tanya Sindi penasaran.


“Hmm… eh katanya lu tadi ada janji makan siang bareng cowok elu” ujar Lisa sengaja mengantung ceritanya, dia tahu kalau sahabatnya itu paling benci dengan cerita yang terpotong – potong.


Sindi mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, kemudian dia menghubungi pacarnya.


Halo sayang ~ Sindi


Iya sayang, ada apa? Aku bentar lagi sampai butik. ~ Roni


Sayang,kita batalin aja makan siang nya ~ Sindi


Lah kenapa? kamu yang benar aja dong yang ~ Roni


Mau gimana lagi sayang, ini Lisa tiba – tiba ngadain meeting ~ Sindi


Bener – bener dah tu bos kamu ~ Roni


Yaudah sayang, aku tutup dulu ya telpon nya. Bye sayang nya aku ~Sindi


Bye, muach ~ Roni


Muach ~ Sindi


Sindi meletakkan ponselya di atas meja. Beginilah Sindi selalu saja mengorbankan nama Lisa kepada sang pacar.


“Udah, ayo cerita” ajak Sindi semangat.


“Kita pesan dilevery di restoran biasa aja” ujar Sindi.


Dia kembali meraih ponselnya untuk memesan makanan untuknya dan Lisa.


“Udah kan” ucap Sindi meletakkan ponselnya.


“Hmmm.. baiklah, sampai mana tadi cerita gw?” tanya Lisa.


“Lu udah mencoba menerima keadaan. Terus dianya rese. Rese kenapa?” jawab Sindi.


“Ooo…. Iya gimana gak rese. Tadi malam kan gw cari di google gimana caranya jadi istri yang baik….”


“terus ketemu?” potong Sindi


“Sindiii jangan di potong – potong, ntar gw lupa” sanggah Lisa


“hehehe… maaf – maaf” ucap Sindi


Lisa pun menceritakan semuaya kepada Sindi, dimulai dari dia yang dikunci di luar kamar, tidur dilantai sampai kejadian tadi pagi. Lisa juga tidak melewatkan kata – kata Zidan yang menuduhnya kesambet.


“HAHAHA” Sindi tak bisa menahan tawanya mendengarkan cerita sahabatnya itu.


“Kok ketawa si, senang lu ya tahu sahabat lu teraniaya” ujar Lisa kesal.


“Bukannya gitu Lis, yang gw ketawain itu adalah berarti sampai sekarang kalian belum tidur bareng?” tanya Sindi.


“Idiihhh gw mah ogah banget tidur sama dia, gila aja lu” sahut Lisa


“Lah kenapa, apa sih kurangnya suami elu itu?” tanya Sindi heran dengan sahabatnya itu. Lisa hanya diam tidak menjawab omongan Sindi.


“Eh eh Lis , lu tau gak nolak suami itu dosa?.. tadikan lu bilang, kalau lu ada cari di google bagaimana caranya jadi istri yang baik. Nah pasti tu disana ada pembahasan tentang itu. Cobalah untuk memaafkannya Lis, kejadiannya kan udah lama juga.” Nasehat Sindi. Inilah yang disukai Lisa kalau bercerita dengan Sindi. Dia selalu mendapatkan solusi dari masalahnya. Lisa hanya diam dia tidak menyahut perkataan Sindi.


“Gw tahu ini semua berat buat lo tapi, mau sampai kapan Lis? Lagian sekarang dia udah jadi suami lu. Dia bakal hidup bareng elu selamanya” ujar Sindi.


“Apa yang lu bilang itu emang benar Sin. Tapi gw butuh waktu” ucap Lisa. Sindi memeluk sahabatnya itu, dia tahu luka yang di torehkan oleh Zidan sangatlah parah dan dalam.


Tok….tok…


“Masuk” seru Lisa


“Ini buk pesanannya” ujar kurir pengantar makanan.


“Letakkan disana ya bang, terima kasih” sahut Sindi. Kurir itu pun meletakkan makannya dan berlalu pergi.


“Kita makan dulu yuk” ajak Sindi.


~


Dikantor Zidan sedang sibuk dengan tumpukan – tumpukan kertas diatas mejanya. Karena dia 2 hari tidak masuk kerja, jadi beginilah jadinya.


Ceklek


Tanpa melihatpun Zidan sudah tahu siapa yang masuk keruangannya. Karena siapa lagi yang berani masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu selain sahabatnya Ridho.


“Wihhh pengantin baru” seru Ridho. Zidan tidak menanggapi sahabatnya itu.


“Cepat banget masuk kerjanya? Apa ngak sayang tu bini ditinggalin dirumah” ujar Ridho


“Lu kalau kesini, Cuma buat gangguin gw. Mending sekarang lu pergi aja” ucap Zidan yang tak bergeming dari berkasnya


“Ya elah sensian bener, apa semalam kurang ya? “ucap Ridho terus menggoda Zidan.


Zidan yang merasa tak bisa fokus karena sahabatnya itu, dia menutup berkasnya. Prrcuma juga dia membacanya berkasnya kalau dia tidak bisa fokus. Kemudian dia hanya diam menatap temannya dengan tatapan dingin.


“Gimana rasanya, enakkan kalau udah punya istri” Ridho terus saja mengocheh meskipun tak ada balasan dari Zidan.


“Enak gimana, orang kita ribut mulu” keluh Zidah mengusap kasar wajahnya.


“HAHAHA” Ridho tertawa keras.


“Tertawa aja terus, sampai tu mulut gak bisa mingkem lagi” kesal Zidan.


“Tega bener lu nyumpahin gw” Ridho mengatur nafasnya.


“Jadi, kalian belum damai?” tanya Ridho. Zidan menggeleng.


“Lu udah coba minta maaf belum sama Lisa?. Mana tau dengan lu minta maaf dia mau baikan sama elu” saran Ridho.


“Ntar deh gw coba pikirin” sahut Zidan.


“Ya elah, apalagi yang harus lu pikirin. Apa lu nggak pengen gitu – gitu sama bini lu?”goda Ridho.


“Ah otak lu kesana mulu. Ya pengen lah ogeb, ya kali kagak. Gini –gini gw juga masih normal kali” sahut Zidan.


Tok… tok…


~•••~


Siapakah yang mengetuk pintu ruangan Zidan?...


tunggu episode selanjutnya ya....


jangan lupa like, komen dan fav nya🤗