
Sindy pun dengan sedikit berlari menghampiri Lisa dan berdiri di samping sahabat sekalian bos nya itu.
"Lis, itu wanita yang selalu mencari elu." ujar Sindy berbisik ke telinga Lisa. Lisa pun mengiyakan dan segera menghampiri mantan suaminya itu.
"Kata pegawaiku, kamu mencariku dari kemaren. Ada apa kau mencariku?" tanya Lisa kepada Putri yang saat ini sedang berdiri berhadapan dengannya.
Tanpa menjawab pertanyaan Lisa, tangan Putri tiba - tiba melayang begitu saja di pipi kiri Lisa. Hingga membuat pipi Lisa yang berkulit putih itu memerah akibat pukulan keras dari tangan wanita itu. Sindy sangat terkejut dan segera menghampiri Lisa.
Plak
"Kenapa kau menamparku?" seru Lisa
"Karna itu pantas untukmu!" Putri menatap tajam kepada Lisa hingga kedua bola matanya seakan hendak keluar dari tempatnya. Ia hendak mendorong tubuh Lisa. Namun, Sindy yang melibatnya dengan ceoat mendorong tubuh Putri lebih duku. Bahkan, hingga membuat wanita itu jatuh tersungkur ke lantai.
"Nona tolong jaga sikapmu! " Sindy menunjuk Putri dengan jari telunjuknya. Ada rasa ketidak sukaannya saat wanita yang ia anggap asing itu hendak melukai bos serta sahabat dimana kejadian itu tepat di depan matanya.
Putri semakin marah di buatnya, terlebih lagi saat melihat wanit yang di anggapnya tak sepadan dengan dirinya itu ikut campur masalahnya dengan Lisa.
"Kau hanya seorang pegawai di sini, berani sekali kau mendorong tubuhku! " Putri hendak memukul Sindy namun di halangi oleh Lisa.
"Kenapa memangnya kalau aku hanya pegawai, apa hal itu mengganggu mu?"tanya Sindy.
"Berani sekali kau!" ujar Putri yang hendak menarik Sindy.
"Kau berurusan denganku bukan dengan dia" kata Lisa.
"Lisa minggirlah, biar gue libas tu cewek." ucap Sindy yang berusahan menyingkirkan Lisa yang menghalanginya.
"Diamlah! jangan memperburuk keadaan" kata Lisa. Ia mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Putri berjalan mendekati meja kerja Lisa dan ia membuang semua barang - barang yang ada di atas meja itu.
"Putri, cukup! jangan membuat keributan di boutique ku, dan jangan sekali - kali kau melukai atau pun menghina pegawaiku." teriak Lisa. Ia menyuruh Sindy untuk keluar dari ruangannya dan tidak ikut campur. Karena Lisa takut, jika Putri akan mencoba melukai sahabatnya itu.
"Apa kau tau, Lisa. Aku sangat membencimu!" teriak Putri. Bahkan guratan di dahinya timbul dengan begitu jelas seakan tak bisa menahan amarahnya yang tengah memuncak di dalam dirinya.
"Aku sama sekali tidak peduli jika kau membenciku, bahkan hal itu tidak akan mempengaruhi hidupku!" Lisa mencoba menahan dirinya agar emosinya tidak terpancing.
"Katakan, ada apa kau kemari?" tanya Lisa.
"Bukannya kau sudah mengetahui kalau aku dan Zidan sudah menikah bahkan kami sudah memiliki anak.
"Aku tidak peduli dengan hal itu, yang jelas kembalikan Zidan yang telah kau rampas dari ku!" seru Putri.
"Apa maksudmu?" Lisa mengernyit dengan bingung. Bahkan ,ia gagal mencerna.apa yang di katakan oleh mantan kekasih suaminya itu.
"Jika saja kau tidak merebut dan menikahinya, mungkin saja akulah yang akan menikah dengannya." ujar Putri
"Jangan asal bicara, kalau kau tidak tau apa - apa lebih baik kau diam saja" ucap Lisa.
"Jangan sok polos Lisa, aku tau kau menikah dengan Zidan hanya karna hartanya saja ya kan?" seru Putri.
"Tc, kelihatannya kau bangga sekali jadi istrinya Zidan! Apa aku harus mengingatkan mu kembali Lisa. Dia menikahi mu hanya karna untuk menyelamatkan impiannya dan apa kau juga lupa jika dia sangat membenci mu ketika kalian sekolah dulu."
"Seharusnya kau sadar diri, dia tidak akan pernah mencintaimu! Zidan itu hanya memperalatmu saja. Jadi, lebih baik kau buang jauh - jauh pikiranmu untuk mendapatkan hati Zidan! Karena aku sangat mengenal Zidan, dia tidak akan mudah jatuh cinta apalagi dengan orang seperti mu." seru Putri dengan penuh penekanan.
Lisa hanya diam dan memandang Putri dengan perasaan yang sangat menyesakkan di dada. Ia merasa apa yang di katakan oleh Putri itu semuanya adalah benar. Namun, Lisa mencoba menahan semua emosinya yang hampir saja terpancing karna ucapan Putri.
Kedua mata Putri mengarah ke arah rambut Lisa yang tergerai. Rasanya ingin sekali ia menarik rambut itu hingga terlepas dari kepala Lisa.
"PUTRI...."suara dari arah belakang tubuhnya, sehingga menghentikan gerakan Putri yang hendak ingin mencelakai Lisa. Sotak Putri menoleh kebelakang melihat siapa pemilik suara itu dan di ikuti oleh Lisa.
"Zidan?" suara Putri berubah melunak saat melihat Zidan sedang berjalan menghampirinya di sana.
"Sedang apa kau disini?" tanya Zidan, tatapan matanya seakan tak suka saat melihat wanita itu. Bahkan ia menjauhkan tubuh Lisa darinya.
"A-aku hanya sedang berkunjung saja, sekalian ingin melihat - lihat dress" kedua bola mata Putri mencoba menghindar dari tatapan Zidan. Dan Zidan tau kalau Putri sedang berbohong kepadanya.
"Zidan, aku sudah tau kalau kau menikahi Lisa hanya karena terpaksa ya kan. Kau mau bersamanya hanya untuk menyelamatkan impianmu kan? Dan hanya karena kau kasihan terhadapnya, makanya kau berpura - pura mencintainya ya kan Zi..."
"Tau apa kau hingga berani berbicara seperti itu?" tanya Zidan dengan nada yang tidak bersahabat.
"Tolong pergilah dari sini dan jangan ganggu istriku lagi. Apa kau tidak mengerti juga dengan peringatanku tempo hari!" perintah Zidan
"Aku tidak mengganggunya Zi, lagi pula untuk apa aku mengganggunya." Putri berucap dengan suara datar dan menyayupkan kedua matanya.
"Benarkah kau tidak untuk menggangunya?" seru Zida . Ia melirik ke arah pipi kiri Lisa yang memerah. Zidan begitu sangat geram dan tiba - tiba mencengkram erat lengan Putri.
"Zidan sakit..." Putri begitu ketakutan saat Zidan mencengkram lengannya dengan tatapan penuh amarah.
"Putri... Aku tidak peduli kau seorang perempuan atau bukan. Sedikit saja kau berani menyakiti istriku. maka tanganku sendirilah yang akan menghancurkanmu" seru Zidan dengan nada penuh penekanan.
Zidan melepaskan cengkramannya di lengan Putri kemudian tanpa banyak bicara
Plak
Zidan menampar pipi Putri tepat di sebelah mana Putri menampar istrinya tadi.
"Aku tidak bisa menolerirkan jika itu berhungan dengan Istriku. Pergi dari sini!!" perintah Zidan.
Putri menatap Zidan dengan tatapan yang begitu sakit hati. Tanpa berkata ia pun berlalu pergi dari sana.
"Kuharap, tidak akan pernah bertemu lagi dengan kau!!" teriak Zidan.
~•••~
Jangan lupa Like dan komennya ya guys, kalau bisa sih di vote ya kan tapi aku gak maksa kok. Gak vote juga gak apa - apa, yang penting kalian udah mau dukung karya yeoja.
Terimah kasih💜