Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Bergerak dalam diam


Villa utama


Abizard


Pagi-pagi sekali Abizard jelas mengerutkan keningnya saat melihat nama Indri terpampang di layar handphone nya, dia fikir ada apa gadis itu menghubungi diri nya pagi-pagi sekali.


Dengan gerakan cepat laki-laki itu menyambar handphone nya, mencoba mendekati telinga nya baik-baik ke layar pipih tersebut.


"Halo?"


Dia bertanya sambil mengerutkan keningnya.


"Abizard...."


Lalu terdengar suara panik di seberang sana untuk beberapa waktu.


Mendengar suara Indri yang terlihat panik dan bingung, Abizard jelas langsung mengeratkan rahangnya, bola mata nya seketika membulat.


Oh shi..t.


Laki-laki itu seketika mengumpat saat sadar apa yang terjadi, dengan gerakan cepat dia menyambar kunci mobil dan jaket hangat nya.


Bergerak terburu-buru keluar dari kamar nya menuju ke arah tangga.


Tapi....


Tiba-tiba sosok Meisya terlihat berjalan di lantai bawah, gadis itu terlihat mulai bergerak ke arah dapur untuk beberapa waktu.


Seketika Abizard tampak diam untuk beberapa waktu dan terlintas sesuatu di dalam kepala nya.


*******


Rumah sederhana


Indri


Dimas jelas mengerutkan keningnya saat dia melihat puluhan wartawan telah memenuhi sekitaran luar rumah mereka.


Laki-laki itu mencoba bertindak setenang mungkin, tidak ingin membuat kondisi menjadi Panik.


Dia melirik ke arah Indri, menatap sang adik yang terlihat memegang handphone nya.


"Menghubungi Abizard?"


Tanya Dimas cepat.


Indri Tampak diam, dia mengangguk pelan.


"Berikan pada kakak"


"Ya?"


Saat kakak nya meminta handphone nya, seketika Indri terdiam, dia fikir apa yang akan kakak laki-laki nya itu lakukan.


"Segeralah pergi untuk mandi, kakak akan menyelesaikan semua nya"


Ucap Dimas kemudian langsung menekan tombol panggilan di handphone Indri.


"Mama dan Papa sudah mandi?"


Tanya Dimas ke arah orang tua nya.


"Itu bagus, sekarang ganti pakaian dulu, biar Indri membersihkan diri, Dimas juga, setelah itu kita akan fikirkan soal selanjutnya"


Ucap Dimas sambil berusaha untuk tetap bersikap tenang.


Mama dan Papa nya mengangguk cepat, memilih duduk di atas kasur Indri dan menunggu putra serta putri mereka membersihkan diri.


Dimas jelas langsung bergerak menuju ke arah kamar nya, mencoba bicara dengan laki-laki di balik handphone nya itu untuk beberapa waktu.


Cukup lama hingga akhirnya Dinas secepat kilat menutup panggilan nya.


Setelah memastikan Indri selesai membersihkan diri Dimas langsung melesat membersihkan diri nya juga.


Laki-laki itu fikir para wartawan tidak mungkin Bergerak sekali dua kali, tidak mungkin meliput berita sehari dua hari.


Sudah menjadi tradisi sang pengejar berita, ketika satu berita berkembang naik dan viral di media, otomatis berita tersebut akan terus naik dan di korek hingga ke akar-akarnya.


Dia yakin di mulai hari ini, kehidupan mereka yang tenang pasti akan berubah menjadi tidak tentram.


Mungkin Papa dan Mama nya bisa menghadapi para pencari berita hari ini, tapi selanjutnya dia pastikan kedua orang tua nya akan mulai merasa terganggu, lama kelamaan dia takut itu akan mempengaruhi perasaan serta fikiran orang tua nya.


Apalagi Abizard memiliki masa lalu yang belum keluarga nya ketahui.


Dia takut pertanyaan demi pertanyaan akan mempengaruhi mental orang tua nya.


Jika tidak kuat mental menghadapi media dengan jutaan pertanyaan nya serta kemungkinan buruk lainnya, dia yakin keceriaan serta kesehatan orang tua mereka akan menjadi taruhannya.


Dia harus melakukan sesuatu untuk menghindari Papa dan Mama nya dari semua keadaan buruk tersebut.


Setelah melewati sesi membersihkan diri dan memastikan semua orang telah siap, Dimas buru-buru mengintip kembali ke arah sisi kanan kamar nya.


"Kak?"


Indri bertanya sambil mendekati sosok laki-laki itu.


"Sudah siap?"


Tanya Dimas sambil menyentuh lembut ujung kepala Indri.


"Hmmm"


Indri mengangguk kan kepalanya.


"Mama dan Papa?"


Tanya Dimas lagi.


"Sudah"


Ucap Indri pelan.


"Itu bagus"


Setelah berkata begitu, Dimas Tampak mengintip ke arah layar handphone milik Indri yang masih ada bersama nya.


Sepersekian detik kemudian terlihat sebuah panggilan dengan nama Abi didalam nya.


Dimas buru-buru mengangkat panggilan nya.


"Kamu di mana?"