
Alamakkkkk
Indri melonjak kaget saat sadar siapa yang ada dihadapan nya.
Wanita tua dengan kaca mata tebal dan rambut pendek dengan potongan di atas bahu yang di penuhi uban, wanita tua itu menatap Indri dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya.
Indri seketika melebarkan senyuman nya, dia mencoba menjongkok kan tubuhnya dengan cepat.
Dia fikir kenapa nenek tua ini menangkap nya?.
"Hehehe nenek?!"
Wanita tua itu terlihat mengerikan, Indri seketika mencoba menelan Saliva nya.
Dalam beberapa waktu orang yang dia panggil nenek itu kembali melangkah maju, dia mulai berkata.
"Kamu ini punya kemampuan apa?"
"Ya?"
Mendengar pertanyaan wanita tua itu seketika Indri mengerutkan keningnya.
Kemampuan? memang nya kemampuan apa yang dimaksud nenek tua itu.
"Tentu saja aku ini serba bisa"
Jawab Indri cepat sambil memicingkan sebelah matanya saat nenek tua itu sudah berdiri dihadapan.
Wanita itu memajukan wajah nya, menatap Indri lekat-lekat, dia menelisik Indri dengan tatapan yang begitu penuh keingin Tahuan.
"Ah... nenek rabun dekat? apa wajah ku susah terlihat nek?"
Tanya Indri tiba-tiba seperti tanpa dosa?.
"Apa?"
Sang nenek bertanya sambil memundurkan tubuhnya.
"Aku ini tidak begitu cantik nek, maksud ku jangan terlalu khawatir soal wajah ku"
Ucap Indri sambil mencoba mengembangkan senyuman nya.
"Kau fikir aku ini sudah rabun? aku tentu saja bisa melihat wajah mu dengan jelas"
Oceh wanita tua itu cepat.
"Ahhhh"
Indri mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tapi kenapa harus menatap ku begitu lekat-lekat?!.
Batin Indri.
Bukankah hanya orang rabun yang melakukan itu?
Batin Indri lagi.
"Ngomong-ngomong nenek siapa?"
Tanya Indri cepat sambil mencoba menelisik wanita tua di hadapannya itu.
"Apa nenek butuh bantuan? misal nya untuk menanam bunga? atau membuat masakan yang nenek tidak bisa? apa nenek tidak punya pelayan disini? atau nenek sitter? ah bukan apa istilah nya? ah...Grandma's sitter? apa nenek di telantar kan di rumah sebesar ini?"
Pertanyaan Indri yang sepanjang rel kereta api mulai membuat sakit kepala nenek tua itu.
"Apakah cucu nenek menelantarkan nenek? atau putra dan putri nenek? mereka benar-benar keterlaluan, apa harus aku hubungi mereka sekarang juga? berikan aku nomor telepon mereka"
Ucap Indri lagi dengan nada yang begitu cepat.
Sang nenek jelas hanya bisa menarik nafasnya beberapa kali saat mendengar Indri bicara.
"Aku ditelantarkan oleh cucu Laki-laki ku"
Jawab wanita tua itu cepat.
Seketika Indri membulatkan bola mata nya.
"Apa? tega sekali dia, berikan aku nomor telepon nya, aku akan memarahi nya, bagaimana bisa dia membiarkan nenek tinggal ditempat seperti ini dan menelantarkan nenek disini"
Indri buru-buru mengeluarkan handphone nya, dia dengan cepat meminta sang nenek untuk menekan nomor telepon cucu nya itu.
"Benar-benar cucu tidak berperasaan, tega-tega nya dia meninggal kan orang tua disini"
"Kamu benar dia laki-laki yang tidak berperasaan"
Sang nenek mengangguk-angguk kan kepalanya, menekan nomor telpon sang cucu kemudian memberikan nya kepada Indri.
"Bila perlu kamu harus menghajar nya saat dia tiba disini"
Wanita tua itu bicara dengan nada penuh kesenangan.
"Aku akan melakukan nya untuk nenek"
Jawab Indri cepat sambil menunggu panggilan nya terhubung.
"Apa aku harus memukul nya dengan sapu nenek?"
"Itu ide yang bagus, gagang sapu cukup bisa membuat dia sadar karena mengabaikan aku dalam beberapa hari ini, bahkan dia tidak bilang pada ku akan menikah dengan gadis pilihan nya"
"Hahhhh dia akan menikah?"
"Bahkan dia tidak membawa Dan memperkenalkan calon istri nya kepada ku"
"Oh ya Tuhan, dia tidak memperkenankan gadis pilihan nya pada nenek?"
"Benar"
"Dia benar-benar cucu yang keterlaluan"
"Itu benar"
Sang nenek bicara dengan jutaan semangat nya, sebuah senyuman Penuh kemenangan tercetak di wajahnya.
"Aku akan bicara pada nya dan benar-benar akan menghajar cucu nakal nenek"
Indri terus mengoceh hingga akhirnya Panggilan nya tersambung dengan seseorang.
"Halo tuan?"