
Kembali ke Khalid company
Mendengar suara seseorang di ujung sana, Diana seketika langsung memundurkan langkahnya, dia cukup terkejut dan malu dengan keadaan apalagi saat dia tahu Yash langsung membuka bola matanya di mana Diana berada didalam posisi dirinya yang sangat tidak menguntungkan.
perempuan tersebut tengah membungkukkan dirinya dan berniat untuk mencium laki-laki tersebut.
yakinlah dia pikir Yash pasti langsung berpikir betapa gatalnya dirinya.
"Yash...aku"
Diana terdekat dia benar-benar kehilangan kata-katanya.
Ali Alih-alih mau mendengarkan jawaban Liana, Yash sudah terlanjur marah.
plakkkk.
Dan satu hal tidak terduga terjadi ketika tubuhnya ditarik oleh seseorang hingga akhirnya sebuah tamparan mendarat di pipinya dengan cara yang cukup kencang.
"Berani sekali kau masuk ke mari dan ingin melakukan hal konyol seperti tadi pada suamiku?"
suara Hana jelas langsung meninggi, Perempuan tersebut melotot tajam menatap kearah Diana, seketika emosi Hana langsung membuncah.
Ya itu adalah Hana, Perempuan itu bahkan tidak lagi melihat Diana sebagai adik nya saat dia melihat Diana dengan kurang ajarnya masuk ke ruang suaminya lantas ingin berlaku tidak sempurna pada Yash yang tengah berbaring di atas kursi kerjanya.
Melihat kedatangan dan kemarahan Hana, Diana pikir bagaimana mungkin perempuan itu berada di kantor Yash padahal jelas-jelas perempuan tersebut dalam keadaan sakit dan seharusnya kakak tirinya itu berada di rumah sakit.
Diana jelas terkejut setengah mati saat dia merasa betapa pedas pipinya setelah ditampar oleh Hana, perempuan itu tidak main-main dengan menampar wajahnya, seakan-akan kemarahan itu telah dibendung dengan begitu lama dan baru dilampiaskan pada hari ini sehingga menciptakan rasa perih, pedih dan juga memerah yang cukup lumanyan memenuhi wajahnya.
"Hana ini tidak seperti yang kau pikirkan"
Ucap Liana panik.
Perempuan itu mencoba untuk menahan kemarahannya dan juga rasa malunya saat dia kepergok oleh pasangan suami istri tersebut dan juga dia harus mencari alasan baik atas keadaan tersebut.
Percayalah perasaan Liana saat ini jelas tidak enak, apalagi saat Yash mengetahui apa yang dia lakukan, seakan-akan dia kehilangan wajahnya saat ini juga, dia cukup tidak menyangka jika apa yang ingin dia lakukan bisa kepergok oleh semua orang.
Yash kini menatap kearah Diana dengan pandangan yang sedikit jijik, laki-laki itu pikir bagaimana ada seorang perempuan yang berani masuk ke ruangannya dan mencoba untuk menggoda dirinya.
posisi Diana tadi benar-benar sangat tidak menguntungkan untuk dirinya, dia pikir bagaimana Diana masuk ke ruangannya tanpa terdengar olehnya sama sekali.
"Kak jangan salah paham, ini benar-benar tidak sesuai apa yang kakak bayangkan"
Diana bicara cepat mencoba untuk mempengaruhi pemikiran Hana.
"ada sesuatu di ujung Kening Yash, aku hanya berusaha untuk membuangnya, aku pikir karena Yash tertidur aku tidak mungkin membangunkannya, karena itu aku bisa untuk membantu membuangnya dengan tanganku sendiri"
Dan percayalah seorang pencuri akan selalu mencari cara untuk membela dirinya sendiri, dia mana mungkin mau kehilangan harga dirinya hanya karena kecerobohan yang telah dia lakukan tadi.
tidak bisa dia bayangkan bagaimana pandangan Yash terhadap dirinya, laki-laki tersebut pasti memandangnya sebelah mata karena aksi nekat dan beraninya.
"aku bicara dengan sunggah-sungguh, mana mungkin aku berani untuk melakukan hal yang tidak-tidak pada Yash"
lanjut perempuan itu lagi.
mendengar Beo yang terus disampaikan oleh Diana seketika membuat Hana mendengus dengan kesal.
dan percayalah kemerahannya saat ini benar-benar membuncah, seolah-olah tamparan keras tadi tidak cukup untuk membuat Diana jera, dia sengaja melakukannya karena berkali-kali dia tahu Diana sering mencoba untuk menggoda Yash, meskipun dia tidak tergoda tapi dia jelas tidak bisa menahan amarah nya.
"Keluar dari ruangan suami ku, sekarang juga"
perintah nya kepada Diana sembari menatap bola mata perempuan tersebut dengan tatapan yang begitu tajam .
mendapatkan usiran dari perempuan yang ada di hadapannya itu membuat Diana langsung mendengus tidak percaya.
"Kak?"
perempuan itu menggenggam arah telapak tangan kanannya.
"bagaimana kau bisa mengusirku dari ruangan ini seolah-olah aku ini hanya orang asing di antara kalian? aku ini bagian dari keluarga kalian dan aku adalah adikmu"
kali ini Diana menaikkan oktaf suaranya, dia menatap kesal ke arah Hana, merasa tidak menerima saat perempuan itu mengusirnya.
"apa kau pikir aku buta ? kau ingin mencoba memanipulasi keadaan? jangan membuatku lebih marah lagi Diana, tolong keluar dari sini sekarang juga sebelum aku wanita security yang mengusirmu"
Diana kembali meninggikan suaranya, Yash sengaja tidak bergeming dia sama sekali tidak ingin membela.
mendengar ucapan kakak tiri perempuan nya tersebut Diana pada akhirnya harus belajar mengalah untuk keadaan ini, dia tahu berdebat dengan Hana jelas bukan hal yang baik.
apalagi saat Hana marah dia tahu betul perempuan itu tidak akan pernah mau mengalah dengan siapapun, Hana sama sekali tidak marah tapi ketika kemarahannya meledak tidak ada yang bisa membujuk hatinya.
dia pikir kesalahpahaman ini akan dijelaskan nanti bersama ayah mereka, karena satu-satunya. kelemahan Hana hanyalah ayah mereka.
jadi dia jelas tidak ingin bersusah payah malah dia ini perempuan yang ada di hadapan tersebut, apalagi Diana percaya setelah kematian Hana dia tidak pernah lagi harus berhadapan dengan perempuan itu.
Sedikit lagi.
Batin Diana Sembari mengeram kesal, dia mengeratkan kedua rahangnya.
Yah kematian Perempuan itu sebentar lagi, dia hanya harus menunggu sebentar lagi untuk bisa menguasai apapun yang pernah menjadi milik Hana termasuk Yash Khalid.
Diana pada akhirnya terlihat mulai bergerak untuk menjauh dari sana sembari menahan kemarahannya, dia membanting pintu ruangan kerja Yash dengan kekesalan yang luar biasa.
begitu Diana keluar dari ruangan tersebut Hana langsung menoleh ke arah suaminya.
"Kau lihat bagaimana kurang ajar nya Perempuan tersebut? bagaimana ayah bilang dia pantas untuk diri mu?"
Ucap Hana kemudian sembari menatap tajam bola mata suami nya.
perempuan itu tidak pernah marah tapi kali ini kemarahannya pecah, apa yang dia lihat tadi di depan matanya benar-benar sangat luar biasa.
bahkan rasanya tamparan itu tidak cukup untuk memberikan pelajaran pada Diana, rasanya dia ingin sekali menjambak rambut perempuan itu tanpa sisa, tapi berhubung ini berada di kantor dia mencoba menahan emosinya demi image yang dia miliki Dan juga ini suaminya.
Mendengar ucapan istri nya seketika membuat Yash terdiam.
"karena itu sebelum perempuan licik tersebut mengganggu kehidupanmu setelah aku mati, maka lakukanlah pernikahan secepatnya dengan gadis pilihanku"
lanjut Hana lagi dengan nada menggebu-gebu penuh kemarahan.