
Yash sama sekali tidak mengeluarkan suaranya sejak tadi setelah melihat dokter Rick pergi dari hadapan nya, dia memilih duduk tepat disamping kiri istri nya secara perlahan, mencoba menyandar kan tubuh nya di sebuah kursi stainless yang ada di sudut kasur tersebut.
Laki-laki itu sama sekali tidak menampilkan ekspresi wajah nya, terlihat datar dan begitu lemas, seolah-olah karena sakit istri nya, ½ jiwa nya ikut terbang melayang entah kemana.
Raga nya memang di sana bersama istri nya, tapi jiwa nya entah ada di mana, pergi berkelana mencari sesuatu yang tidak dia ketahui dimana tempat nya.
Yash duduk di kursi tersebut dengan posisi kedua lutut nya memangku tangan kiri dan kanan nya, kemudian secara perlahan Yash Membiarkan wajah nya masuk ke dalam telapak tangan nya untuk beberapa waktu.
Laki-laki tersebut sejenak meraup wajah nya dengan kasar, setelah itu Yash langsung menenggelamkan wajahnya di telapak tangan nya untuk waktu yang cukup lama.
Yash mendongakkan kepalanya untuk beberapa waktu, kemudian dia menatap istri nya sejenak.
"Tidak inginkah kamu Melayani laki-laki tua ini hingga anak-anak menikah dan kita melihat cucu-cucu kita yang lucu-lucu sayang?"
Tanya Yash secara perlahan, laki-laki tersebut mulai meraih telapak tangan istrinya.
"Kamu lupakah? kamu pernah berjanji akan menjadi istri yang terus berbakti dan mendampingi aku hingga ke hari tua? tapi sekarang kenapa berdusta pada ku dan berniat meninggalkan diri ku sendiri hmmm?"
Lanjut Yash lagi, laki-laki itu kini membiarkan telapak tangan istrinya berada di pipi kirinya.
"Jangan pergi terlalu cepat"
Tiba-tiba suara laki-laki tersebut mulai berubah.
"Ada banyak hal yang belum kita lewati berdua, buku agenda yang pernah kita tulis bersama belum sepenuhnya kita jalankan semuanya karena padat nya jadwal pekerjaan ku"
Kali ini laki-laki tersebut berusaha menahan tangisannya yang mungkin akan pecah, tapi Yash jelas tidak mungkin melakukan nya, laki-laki selalu harus terlihat kuat dalam banyak hal bahkan harus bisa menahan perasaan dan duka nya, mereka di paksa kuat padahal sebenarnya juga Begitu lemah dan tidak berdaya di waktu-waktu tertentu sama seperti saat ini.
Kali ini air mata Yash benar-benar tumpah, Isak tangisan nya terdengar begitu lirih.
"Katakan pada ku, aku bagaimana hidup tanpa kamu Hana?"
Setelah mengatakan itu,dia mencoba untuk buru-buru melepaskan genggaman tangan nya dari istri nya dan langsung mencoba sedikit menjauh dari hadapan istri nya agar Hana tidak mendengar suara tangisannya.
laki-laki itu berulang kali mencoba untuk menarik nafas nya, rasa sakit menghantam Dada nya saat ini, andaikan dia tidak malu dengan suasana di sana mungkin dia telah berteriak sekeras mungkin sembari menangisi nasibnya.
atau bahkan dia telah mengeluh kepada Tuhan atas ujian luar biasa yang harus dia lewati.
berulang kali dia berkata di dalam doanya, Allah boleh menguji nya soal materi tapi tidak soal kehidupan dan kematian, tapi apalah daya sebaik-baiknya pengatur kehidupan dan kematian adalah Allah SWT dan dia bisa apa.
Bukankah perjalanan kehidupan manusia terkadang tidaklah selalu sesuai apa yang diharapkan? terkadang seorang manusia harus melewati jalan terjal setelah beberapa waktu menikmati jalan yang landai.
Hari-harinya pun penuh warna, terkadang gembira namun sewaktu-waktu ia dihampiri rasa sedih, duka dan nestapa, inilah tabiat kehidupan. Tak ada yang dapat mengelak dari kenyataan ini.
Allah berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4).
Yash secara perlahan menghapus air matanya, kemudian laki-laki tersebut kembali membalikkan tubuhnya dan menatap wajah istrinya yang masih terlelap di dalam tidurnya.