Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Kondisi yang memaksa dia bungkam


Catatan \=


Kakak/makkkk kapan ending bahagia nya?


Kakak/Makkkk kasih part bahagia Indri dan Abizard donk, kasih part Meisya kalan donk, kasih part.......... de El El.


Pastiiiii Makkkk setelah badai Mak author kasih yang bahagia-bahagia, Mak author kasih yang hareudang yakkkkk terkira🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣


Di tambah buanyakkk-buanyaaakkkk part yang bisa bikin diabetes dan basyahhh dah pokok nya🤣🤣🤣🤪🤪🤪💋💋❤️.


*******


Masih di masa lalu


Beberapa hari sebelum


Pernikahan Abizard dan Agnes


"Bisakah kita membatalkan pernikahan nya?"


Tanya Agnes pada Abizard pelan.


Laki-laki itu tampak berkutat dengan segudang pekerjaan nya sejak tadi.


Begitu mendengar ucapan Agnes seketika laki-laki itu menghentikan gerakan tangannya.


Abizard langsung menaikkan wajah nya.


Dia baru saja ingin bicara namun tiba-tiba Mama Helen menyeruak masuk dengan ekspresi panik.


"Abizard...kakekkkkk"


Seketika Abizard dan Agnes menoleh ke arah Mama Helen.


"Ada apa?"


Alih-alih menjawab, mama Helen Secepat kilat berlarian meninggal kan mereka, melihat ekspresi sang Mama Abizard ikut keluar dari ruangan kerja nya diikuti oleh Agnes.


*******


Rumah sakit xxxxxxx


Jakarta pusat


Seluruh keluarga Nakhel Tampak gelagapan begitu kakek tua Nakhel jatuh tidak sadarkan diri.


Dokter berkata kesehatan kakek tua Nakhel semakin menurun belakangan ini, selain karena faktor usia, jantung menjadi permasalahan utama laki-laki tersebut.


Laki-laki itu tertekan dengan keada hingga membuat kesehatan nya menurun secara drastis.


"Jika bisa jangan membuat pokok permasalahan baru untuk kakek, ini semakin memperburuk kesehatan beliau"


Ucap seorang dokter kepada Abizard.


"Buat Fikiran nya menjadi tenang dan rileks, jangan sebut persoalan-persoalan pelik lainnya yang bisa memicu kekhawatiran beliau"


Lanjut laki-laki berseragam serba putih itu lagi.


"Aku fikir jika ada permasalahan lain yang menghantam sebaiknya di tunda hingga kesehatan beliau mulai membaik, kondisi beliau tidak bisa di bilang baik-baik saja"


Mendengar ucapan Laki-laki itu membuat Agnes menatap tas yang ada di tangan nya, dia yang awal nya mencoba mengeluarkan kotak Hitam didalam sana dan ingin membicarakan nya pada Abizard soal kondisi nya saat ini langsung mengurungkan niat nya.


"Aku harap kalian mengerti maksud perkataan ku"


Setelah berkata begitu, dokter tersebut menepuk-nepuk pelan punggung Abizard kemudian dia beranjak pergi meninggalkan semua orang.


Disisi kanan Agnes Mama Helen tampak menangis sejak tadi, bibi nya mencoba untuk menenangkan wanita cantik tersebut.


Disisi kiri Agnes bisa dilihat Abizard mulai bergerak mendekati dirinya, di depan sana sang calon Papa mertua nya terlihat berdiri menatap ruangan kaca yang ada dihadapan nya.


Dimana terdapat sosok kakek tua Nakhel yang tengah berjuang dengan berbagai macam selang di tubuh nya.


Abizard mencoba duduk di samping Agnes, laki-laki itu terlihat tidak bicara sama sekali.


Papa Mohammed beranjak mendekati mereka, dia berbisik pada Abizard.


"Jangan sampai para pemegang saham tahu kondisi kakek, Papa takut ini akan cukup membawa dampak buruk pada laju naik turun nya saham perusahaan"


Ucap laki-laki itu sambil menepuk-nepuk bahu Abizard.


Laki-laki disamping Agnes hanya mengangguk kan pelan kepala nya, kemudian dia memijat pelan pelipis nya dengan jemari-jemari nya untuk beberapa waktu.


Sejenak Abizard menoleh ke arah Agnes, dia mencoba menyentuh lembut ujung kepala gadis itu.


Bisa dia lihat gadis itu menundukkan kepalanya, gadis itu menangis pelan tanpa mengeluarkan suara nya.


"Belakangan semua urusan menjadi begitu pelik, jangan khawatir soal apapun, kakek pasti baik-baik saja"


Kau tahu kenapa aku menangis?!.


Selain aku mengkhawatirkan kakek karena dia satu-satunya orang yang menjadi tempat ku bersandar setelah Alessia, kekhawatiran lainnya adalah aku ingin sekali berteriak pada dunia jika aku ingin pernikahan kita dibatalkan tapi keadaan memaksa ku untuk bungkam.


Kakek dan saham perusahaan menjadi alasan paling menyakitkan untuk ku bicara soal kenyataan.