Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Semakin membuat nya gila


Masih di beberapa Bulan sebelum nya


Sebelum Misca berpindah Posisi


Sebelum Indri diterima bekerja


Palembang


Hotel xxxxxxx


Misca meraup kasar wajahnya saat dia melihat Meisya berjalan santai keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk mandi mendominasi berwarna putih.


Memperlihatkan lekuk dua dada indah nya serta paha mulus dan putih nya.


Gadis itu tampak berjalan perlahan mendekati arah kasur, meraih sepiring menu makanan yang ada di atas nakas dan mulai melahap nya secara perlahan.


"Apa tidak sebaiknya ganti pakaian dulu?"


Misca bertanya pelan, bisa di katakan itu seperti nada protes yang di buat selembut mungkin.


Dia benar-benar bisa gila melihat penampilan gadis cantik dihadapan nya itu.


"Nanti saja, bukan kah ini diruangan yang tertutup? tidak ada yang perlu di khawatir kan"


Jawab Meisya dengan enteng nya.


Gadis itu terus melahap makanan yang ada di hadapannya itu.


"Sebelum tidur, makan adalah hal yang palingg menyenangkan yang biasa aku lakukan"


Jawab Meisya sambil mengembangkan senyuman nya.


Misca berulang kali menarik nafasnya kasar.


Sejak awal masuk ke kamar ini benar-benar terasa seperti sebuah tragedi besar, bahkan dia harus mandi dengan cara mengunci pintu hingga membuat Meisya mengerutkan keningnya, dia terpaksa memperbaiki make up nya didalam agar Meisya tidak tahu bagaimana sosok aslinya.


Padahal ketika di Jakarta, malam adalah waktu terbaik nya meng istirahatkan diri, melepas make-up yang membalut wajahnya selama seharian, bahkan dia bebas menggunakan pakaian laki-laki nya atau bahkan celana kolor nya.


Tapi kini dia harus menarik nafasnya dengan keadaan paling berat, bersabar dengan keadaan dan harus menggunakan pakaian tidur perempuan hingga besok pagi.


Belum lagi bagaimana cara Meisya memperlakukan dirinya persis seperti seorang perempuan, tanpa malu-malu menggunakan handuk mandi nya dengan santai, belum juga berganti pakaian, bahkan tiduran di atas kasur seperti tanpa dosa.


Memperlihatkan bagian paha mulusnya yang misca yakini begitu handuk itu di tarik, semua anggota tubuhnya akan di tampilkan secara sempurna.


Jika terus seperti ini Dia fikir dia benar-benar bisa khilaf, bahkan dia bisa melahap habis gadis itu dan melesatkan rudal pukguksong milik nya ke milik gadis itu.


Ohhh Ssshhhhh.


Misca mengacak-acak frustasi rambut nya sejenak.


"Sayang"


"Ya? ada apa?"


"Kemarilah, kenapa kamu kaku sekali?"


Meisya bertanya sambil menaikkan ujung alisnya, menatap misca yang sejak tadi mencoba duduk di atas kursi sofa di ujung kasur.


"Buka. seperti itu, hanya saja..."


"Tidurlah disini, kamu terlihat aneh sejak tadi"


Oceh Meisya sambil meletakkan piring makanan nya ke atas nakas, gadis itu bergerak mencari sesuatu di dalam tas koper nya.


"Jangan terlalu serius memasang jarak, anggaplah kita bukan atasan dan bawahan, anggap saja kita ini adalah teman"


Ucap Meisya cepat.


Misca secara perlahan berjalan mendekati Meisya, Laki-laki berwujud perempuan itu terlihat kikuk, berusaha untuk duduk di tepian kasur sambil menunggu apa lagi yang di inginkan gadis cantik tersebut.


"Bantu aku sebentar, kita bisa melakukan nya secara bergantian"


Ucap Meisya tiba-tiba sambil menyerahkan sesuatu ke tangan misca.


"Ini apa?"


Misca mengerutkan keningnya.


"Olesi ke semua permukaan kulit ku, tangan, punggung, pinggang, paha hingga kaki, ini bagus untuk me rileksasikan kulit, aroma nya benar-benar begitu lembut dan kalem"


Ucap Meisya sambil mulai berguling di atas kasur, dia terlihat mengendurkan handuk miliknya.


What?.


Tunggu dulu.


Seluruh permukaan tubuh?!.


Misca jelas panik.


"Tapi Meisya..."


"Sayang Kita akan melakukan nya secara bergantian"


Meisya bicara sambil mulai memejamkan bola matanya.


Gila....oh God, aku benar-benar bisa khilaf.


Pekik misca didalam hati nya.


Seketika dia melihat kulit putih mulus dihadapan nya itu sambil menelan perlahan Saliva nya.