
Hana mencoba menarik nafasnya berat, dia berusaha menetralisir perasaan nya soal ucapan Kallan.
"Sayang mama baik-baik saja, tidak kah kamu lihat mama sehat?"
Perempuan tersebut bicara cepat.
"No ma, aku tidak mungkin salah melihat, mama seperti nya sakit"
mendengar ucapan Kallan seketika Hana langsung tertawa kecil, dia kemudian langsung menggenggam erat telapak tangan kallan.
"Itu hanya perasaan mu saja sayang, duduklah kemari, mama pikir tidak lama lagi Pinkan akan datang, papa mu juga dalam perjalanan kemari"
Ucap Perempuan itu cepat, dia melirik ke arah pelayan kepercayaan nya itu.
bibi Tori buru-buru menggeser posisi kursi untuk Kallan, laki-laki tersebut pada akhirnya langsung duduk di kursi yang ada di belakang nya.
Sedangkan sang bibi pelayan mulai menyiapkan makan malam mereka yang perlahan di sajikan di atas meja makan dibantu oleh beberapa pelayan lainnya.
"Apa ini pengalihan pembicaraan ma? jangan membuat ku khawatir"
Kallan bicara sembari menaikkan ujung alisnya, dia menatap sang mama untuk beberapa waktu.
Hati nya sedikit gelisah, dia pikir bukan kah wajah mama nya tidak baik-baik saja?!.
Ditengah pemikiran kalut nya, sejenak bola mata Kallan tertuju pada beberapa menu makanan yang ada di hadapannya.
"Hari ini nyonya dengan khusus membuat sup dan iga bakar kesukaan Tuan"
Ucap bibi Tory kearah Kallan, wanita tua itu buru-buru menggeser makanan favorit sang tuan muda nya, dia sengaja mengalihkan pemikiran dan pembicaraan soal wajah pucat dan kecurigaan Kallan atas kondisi nyonya nya tersebut.
Setelah bibi Tori secara perlahan menggeser menu favorit Kallan, dia mulai membalikkan piring makanan dan juga meletakkan sendok serta garpu di atas piring yang ada di hadapan tuan muda nya itu.
mendengar kata sup dan iga bakar kesukaan nya seketika membuat Kallan menoleh kearah Mama nya, seulas senyuman mengembang dibalik wajah tampan nya.
"Ma..."
kallan pikir Mama nya masih selalu seperti yang dulu, selalu tahu apa yang menjadi makanan favorit nya bahkan selalu menyuguh kan nya setiap kali dia kembali ke rumah.
Meskipun sebenarnya belakangan dia mulai enggan pulang ke rumah ketika dia tahu mama nya selalu mendesak nya agar dia segera masuk ke perusahaan secepatnya.
Itu Masih terlalu dini, Ma.
itu yang sering Kallan ucapkan pada perempuan cantik tersebut.
Dia belum siap untuk masuk ke perusahaan saat ini, seperti katanya ini masih terlalu dini untuk dirinya, selain karena usianya yang dia pikir masih terlalu muda, dia belum siap untuk terjun dengan berbagai macam tekanan didalam perusahaan.
Anggaplah ini begitu buruk, dia masih ingin bersenang-senang.
Hana membalas senyuman bahagia Kallan, perempuan itu membiarkan putranya mulai mengambil nasi dan meraih sup serta iga bakar kesukaannya.
Kallan memilih tidak bicara apa-apa, mencoba memasukkan nasi ke dalam piring nya secara perlahan.
Ditengah keadaan, tiba-tiba suara seseorang terdengar memecah keadaan dari arah luar sana.
"Ma...ma..."
suara seorang gadis memecah pendengaran, Begitu Hana menoleh seorang gadis cantik berusia 21 tahunan melesat masuk dari arah luar sana.
Gadis cantik dengan tubu proposional serta penampilan yang casual terlihat bergerak cepat mendekati dirinya.
"Ohhh aku begitu merindukan Mama"
Gadis itu bicara mendekati Hana, dia mencium hangat pipi perempuan itu dengan jutaan kerinduan, 1 tahun belakangan gadis itu tidak tinggal di rumah mereka, menetap di luar kota karena mulai belajar mengurus perusahaan cabang di kota yang berbeda bersama bibi muda Khalid, adik perempuan Yash.
Pinkan begitu nama gadis itu, dia memeluk Hana dari arah belakang, mencium mama nya lantas berkata.
"Papa ada dimana?"
tanya gadis tersebut sambil mengedarkan pandangannya.
Begitu bola matanya tertuju pada Kallan, kakak laki-laki nya, Pinkan langsung mengembangkan senyumannya.
"Kakak terlihat jauh lebih dewasa dari tahun kemarin terakhir kita bertemu"
Ucap Pinkan kemudian, gadis itu mendekati Kallan lantas langsung menunggu sang kakak nya berdiri dan memeluk dirinya.
Kallan berdiri dengan cepat, dia membentang lebar-lebar kedua tangan nya dan membiarkan adik semata wayangnya masuk kedalam dekapannya.
"Kau benar-benar tumbuh dengan baik setahun belakangan"
ucap laki-laki tersebut sambil mencium puncak kepala adik nya Tersebut.
melihat keakraban kedua anak-anak nya seketika membuat Hana diam, bola mata nya menelisik kedua putra dan putri nya, entahlah kenapa tiba-tiba saja bola matanya berkaca-kaca.
dia pikir seolah-olah tidak akan lama dia melihat kebersamaan yang ada di depan matanya saat ini, dia tahu sebentar lagi dia tidak akan pernah bisa lagi menikmati momen-momen seperti ini.
Sejenak rasanya seolah-olah jutaan batu Menghantam perasaan nya, Perempuan tersebut mencoba menahan air mata nya yang akan tumpah.
"Nyonya'
Bibi Tori berbisik pelan sembari menyentuh lembut kedua bahu nyonya besar nya dari arah belakang.
seakan-akan wanita tersebut tahu kekawatiran yang dirasakan oleh sang nyonya nya.
Ditengah perasaan yang menghantam diri nya, tiba-tiba kembali dari arah depan datang seseorang.
"Maaf papa terlambat"
Yash muncul dari arah balik pintu Sembari meminta maaf kepada semua orang, bola mata laki-laki tersebut langsung mencari sosok istrinya.
Hana langsung menarik nafasnya bersama, perempuan itu mencoba membuang perasaan sedihnya saat ini, dia mencoba menarik nafasnya panjang dan mengeluarkan ekspresi begitu bahagia menghadapi suaminya, seulas senyum mengembang dibalik wajah cantiknya.
"Itu bukan masalah"
jawab Hana cepat.
mendengar jawaban istrinya senyuman balasan langsung diberikan oleh Yash pada Hana, kemudian sang pemilik wajah kharismatik tersebut langsung bergerak melangkah kedepan.
dia membiarkan bibi Tori meraih tas kerjanya, kemudian Yash langsung menghampiri Hana dan buru-buru mencium hangat kening istrinya.
"Aku merindukan papa"
Ucap gadis tersebut cepat sembari masuk ke dalam dekapan papa nya.
"Orang tua mana yang tidak merindukan anak-anak nya?"
Yash memeluk balik putri nya tersebut, membiarkan moments tersebut tidak cepat berlalu, segurat kekhawatiran menghantam dirinya, dia pikir bagaimana cara dia menjelaskan pada anak-anak mereka soal kondisi Hana?!.
Terkadang dia ingin membicarakan kondisi ibu anak-anak pada kedua putra dan putri mereka, tapi mengingat itu jelas bukan hal yang baik dimana Hana juga melarang nya bicara membuat Yash memilih untuk bungkam hingga hari ini.
Mencoba memberitahukan itu berat, tapi lebih berat lagi ketika mereka memilih diam dan tidak bicara sama sekali, menyembunyikan kenyataan besar yang bisa membuat semua orang terluka.
Yash menepuk-nepuk punggung Pinkan kemudian laki-laki tersebut melepaskan pelukan nya secara perlahan.
"Semua diperusahaan baik-baik saja?"
Tanya Yash pelan pada putrinya.
Alih-alih menjawab, Pinkan lebih memilih untuk menganggukkan kepalanya.
"Mari menikmati makan malam nya"
Hana bicara cepat, dia melirik ke arah putranya untuk beberapa waktu, dia pikir Kallan kalian pasti sudah merasa lapar sejak tadi.
Mendengar ucapan mama nya pinkan langsung bergerak menjauhi Yash, dia Memilih kursi didekat mama nya.
pada akhirnya mereka sibuk dengan aktivitas makan malam bersama, sesekali terdengar obrolan di antara mereka berempat, Pinkan yang paling banyak bicara, menanyakan banyak hal kepada mamanya dan papanya juga kepada Kallan kakaknya.
Bahkan sesekali gadis tersebut bercerita soal kesulitannya selama berada di perusahaan di awal-awal bulan pertama kali dia masuk ke cabang Khalid company yang di urus oleh suami bibi muda nya.
Dan ada satu keluhan yang pada akhirnya dia ceritakan pada semua orang.
"Aku benci setiap kali bibi muda Diana masuk ke perusahaan"
Pinkan bicara soal adik tiri Mama nya.
"Dia berlagak seperti Papa, padahal dia hanya berkunjung dan bukan siapa-siapa di perusahaan Cabang ke 2"
keluh Pinkan dengan wajah penuh kekesalan.
Sejak dulu Pinkan memang paling sulit menyukai orang lain, selain memang sulit mempercayai orang-orang disekitar nya, penyakit buruk nya Pinkan memang susah menjalin silaturahim dengan orang lain.
Mungkin sifat tersebut didapatkan nya dari kakek papa nya, dimana dulu kakeknya juga merupakan orang yang sangat sulit untuk percaya dengan orang lain.
"Aku berharap papa tidak terlalu sering membuat bibi Diana masuk ke perusahaan secara tiba-tiba, para karyawan dan karyawati sedikit risih dengan sikap bibi Diana"
lanjut Pinkan lagi.
Pinkan jelas tidak begitu menyukai adik tiri Mama nya itu, tapi karena dia memiliki banyak adi kuasa di sana dia tidak bisa banyak bicara.
Diana adalah putri bawaan dari pernikahan ke dua Kakek nya bersama istri nya, papa dari sang mama Hana, meskipun anak bawaan Kakek nya tapi keluarga Khalid jelas menyetarakan dan membagi adil Adi kuasa mengingat mereka tidak memiliki banyak keturunan sebelum nya.
Gosip berkata sebenarnya mama mereka dulu memiliki saudara lain, tapi satu peristiwa buruk terjadi hingga menewaskan saudara kandung mama nya dalam sebuah kecelakaan buruk di masa lalu.
Karena itu memiliki dua putri dianggap sang kakek sangat berarti,Mama nya dan Diana jelas satu-satunya orang yang akan mewarisi kerajaan bisnis kakek nya.
Tapi bukankah bukan hal yang baru lagi jika didalam keluarga, akan ada yang jahat dan baik? akan ada bawang merah dan Bawang putih? dan itu terjadi pada bibi Diana dan mama mereka.
Tapi bibi Diana sangat pandai memainkan peran baiknya, hingga membuat kakek mereka menjadi bodoh dan menuruti setiap ucapan perempuan culas tersebut.
Dimasa lalu sebenarnya bibi Diana mencintai Yash tapi Yash mencintai Hana, hingga akhirnya pernikahan terjadi antara Yash dan Hana.
Mereka sebenarnya sahabat baik, Yash dan Diana menjadi sahabat baik ketika masih di bangku sekolah untuk waktu yang begitu lama.
"Papa akan bicara pada Diana, jangan khawatir soal apapun"
Ucap Yash saat mendengar keluh kesah putri nya soal Liana.
Mendengar ucapan Yash sejenak Hana melirik kearah suaminya kemudian perempuan tersebut membuang pandangannya.
Hana mencoba menghabiskan makanannya secara perlahan tanpa banyak Bicara.
"Ngomong-ngomong ma"
tiba-tiba Pinkan kembali membuka suaranya, dia menoleh kearah Mama dan papa nya secara bergantian.
"Aku pikir belakangan mendengar berita yang cukup tidak enak didengar selama di perusahaan"
Ucap Pinkan tiba-tiba.
mendengar ucapan putrinya seketika membuat Yash dan Hana langsung menoleh ke arah Pinkan, mereka berdua saling menoleh sejenak sambil mengerutkan keningnya.
"Ada apa?"
tanya Yash kemudian.
"aku mendengar gosip mama meminta Papa menikah lagi dengan perempuan lain, apa itu benar?"
tanya Pinkan tiba-tiba sembari menatap dalam bola mata mama nya.
"Apakah itu ada hubungannya dengan istilah turun ranjang yang akan dilakukan oleh bibi Diana dengan papa?"
lanjut Pinkan lagi kemudian.
"Ya?"
Kallan yang sejak tadi sibuk dengan sup nya seketika langsung menoleh dan terkejut mendengar ucapan adik semata wayangnya.
"Kau bilang apa?"
tanya laki-laki itu lagi kemudian.
"Kakek bilang akan menyiapkan pernikahan Papa dan bibi Diana secepat nya"
Lanjut Pinkan lagi dengan memasang muka masam.