Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Kepo


Begitu tuan bule pulang papa Indri buru-buru mencuci kaki nya kekamar mandi dengan gerakan terburu-buru, setelah itu dia langsung menemui Indri yang tengah mencuci muka nya dan bergosok gigi.


Laki-laki itu cepat-cepat meraih tangan sang istri untuk masuk ke kamar putri nya, menunggu Indri keluar dari kamar mandinya.


"Pa...apaan sih?"


Istri nya bertanya bingung ke arah Suami nya.


"Kita habiskan waktu untuk meng interogasi"


Sebenarnya nya sih bukan meng interogasi, Sang papa saat ini bersiap untuk bergosip ria bersama sang putri.


"Allahuakbar"


Istri nya hanya bisa tepuk-tepuk jidat.


Indri yang baru keluar dari kamar mandi menggunakan pakaian tidur dengan motif hello Kitty nya langsung kaget dengan kehadiran mama dan papa nya.


"Alamakkkkk mati orang satu kuburan"


Gadis itu melonjak kaget, sempat memundurkan tubuhnya sejenak saat sadar mama dan papa nya sudah rebahan di atas ranjang.


Sang papa menaik turunkan alisnya sejenak.


"Apa?"


Tanya Indri sambil berjalan menuju ke arah dua orang kesayangan nya itu.


Sang papa langsung duduk dengan cepat di atas ranjang nya, bertanya cepat dengan tingkat ke kepoan akut tingkat tinggi, dengan jantung bertalu-talu penuh cinta dan rasa penasaran menggebu-gebu laki-laki itu bertanya dengan cepat.


"Gaun nya indah sekali"


Basa-basi papa nya langsung mematikan pemikiran Indri.


"Hahahaha"


Indri tertawa kecil.


"Warna pink... cantik"


"Itu diberi bos"


Dia tahu papa nya bakal terkena serangan ingin tahu tingkat akut.


Sejenak papa Indri mencoba menarik nafasnya dengan begitu panjang, tiba-tiba sang papa berkata.


"Bukankah aneh di hari kerja Pertama bos bule tampan memberikan kamu gaun indah? bahkan sampai mengantar pulang segala macam? apalagi tadi di akhir sampai salah bicara manggil papa juga papa? kalau tidak suka pasti ada maksud tertentu bukan? apa bos bule nembak kamu? kalau itu terjadi Papa sih oke-oke saja tapi bagaimana dengan Reno? kata nya kan dia mau ngajak kamu tunangan?"


Ucapan papa nya jelas tidak punya jeda, begitu panjang tanpa tahu dimana titik koma nya, bahkan bisa-bisa tanpa Mereka sadari bisa jadi air ludah Papa nya mungkin ada yang muncrat kesana-kemari.


Belum lagi bola mata Indri dan mama nya harus ikut naik turun melihat ekspresi alis dan bibir papa nya yang bergerak kesana-kemari sejak tadi.


Setelah menyelesaikan ucapannya, papa Indri langsung menarik panjang nafasnya, ala jet Lee atau biksu di film-film kolosal China papanya langsung meletakkan kedua tangannya didepan dada nya.


"Sudah Pa?"


Indri bertanya sambil menaikkan ujung alisnya, belum mau menjawab takut sang papa masih ingin menyambung kembali ucapan nya.


"Sudah"


Seketika Indri dan mama nya menghela lega nafas mereka.


"jadi...."


"Ehhhhhhhhh oke Indri jawab Pa"


Saat papa nya ingin bicara lagi secara tiba-tiba, Indri dengan cepat langsung bicara.


Dia tahu papa nya bakal menarik ulang nafasnya dan membuat pertanyaan baru untuk dirinya.


Pertanyaan sepanjang gerbong kereta api yang tadi saja belum dia jawab, bagaimana bisa dia menerima tambahan pertanyaan baru kembali fikir nya.


Sang papa jelas langsung melebarkan senyuman nya sambil menaikkan turunkan Alisnya.


Menunggu jawaban Indri atas pertanyaan nya yang dia lontarkan tadi dengan hati berdebar-debar.


Dia benar-benar ingin tahu ada apa dengan bule tampan yang mengantar Indri pulang, bahkan dia ingin tahu bagaimana dengan Reno yang sering hilir mudik kerumah mereka belakangan ini, yang bukan lalu berkata akan melamar Indri.