Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Calon kakak ipar yang cantik


Syahnaz terlihat menggigit pelan bibir bawahnya saat dia hari ini di minta untuk pergi mengantar beberapa undangan kepada beberapa keluarga Nakhel yang ada di seputaran kota Jakarta.


Sebenarnya itu bukan menjadi persoalan untuk dirinya, dia jelas bahagia mengantarkan undangan tersebut, bisa bertemu dengan beberapa keluarga yang mungkin lama tidak dia kunjungi selama beberapa tahun ini mengingat diri nya telah lama tidak kembali ke Indonesia.


Tapi yang menjadi persoalan untuk dirinya saat ini adalah permintaan orang-orang agar dirinya pergi dengan Dimas.


"Tapi Ma..?!.


Dia bicara dengan Mama Helen dengan perasaan bingung.


Gadis itu biasa memanggil wanita cantik itu Mama.


"Kalau sendirian bahaya sayang, minta bantuan yang lain tidak mungkin kan? kebetulan weekend loh? Dimas juga tidak kerja bukan?"


Ucap Mama Helen cepat.


"Tapi Syahnaz bisa sen..."


"Bukan masalah Tante, Dimas lagi libur juga, biar Dimas yang mengantar Syahnaz full dari pagi sampai malam bukan masalah"


Laki-laki itu menjawab cepat, tangan nya terlihat mulai memasukkan beberapa undangan pernikahan kedalam paper bag yang mendominasi berwarna merah di hadapannya.



Mendengar ucapan Dimas seketika gadis cantik itu menoleh ke arah Dimas, lagi-lagi dia menggigit bibir bawahnya.


"Tapi..."


Dia benar-benar merasa ragu untuk saat ini, kehadiran Dimas membuat perasaan nya terlalu bingung, perlakuan lembut laki-laki itu terasa cukup mengganggu dirinya.


"Itu bagus, Tante serahkan sama kalian yah, jangan sampai ada yang tertinggal sebab waktu nya sudah kepepet"


Tambah Mama Helen lagi.


Wanita itu menepuk-nepuk punggung Syahnaz.


"Jangan lupa antar sama para pekerja yang ada di Villa puncak yah, Mama merasa aman kalau Dimas yang menemani kamu"


Ucap wanita itu lagi.


"Usahakan jangan terlalu malam, sebaiknya pergi sejak pagi saja yah Dimas"


Tambah Mama Helen lagi.


"Ya Tante"


Dimas menjawab sambil melebarkan senyuman nya.


Setelah itu Mama Helen langsung pergi meninggalkan mereka, Dimas tampak menyusun beberapa sisa undangan dan terus memasukkan nya ke dalam paper bag.


Syahnaz terlihat sedikit canggung, gadis itu menyentuh lembut tengkuk nya, tidak tahu harus berkata apa.


"Mau sarapan dulu? setelah itu kita baru pergi"


Tiba-tiba Dimas bicara sambil menarik dua paper bag besar berisi undangan tersebut.


"He em, aku fikir sebaiknya kita sarapan dulu"


Jawab Syahnaz pelan.


"Hmmm pergilah lebih dulu, aku akan meletakkan undangan nya ke dalam mobil"


"Kak"


Indri terlihat memekik pelan memanggil Dimas.


"Kenapa?"


"Pergi sama kak Syahnaz?"


Indri bertanya cepat ke arah laki-laki itu sambil berlarian mendekati saudara laki-laki ke sayangan itu.


"He em"


Dimas mengangguk cepat.


"Bawa roti dan minuman ini yah, kalau belum sempat mampir makan nanti bisa di buat pengganjal perut sementara, ada keripik pisang dan ibu nya juga"


Gadis itu bicara cepat sambil menyerahkan sebuah kantong kresek ke arah Dimas.


"Banyak benar?"


Dimas terlihat mengerut kan keningnya.


"Nggak apa-apa, buat cemilan selama di perjalanan"


Ucap Indri lagi.


Dimas mengganggukkan kepalanya.


Dia fikir Indri sudah selesai bicara, laki-laki itu berbalik kembali ke mobil dan meletakkan makanan yang di berikan Indri ke mobil depan mereka.


"Kak.."


Indri bicara Cepat ke arah Dimas, sedikit berbisik ke arah kakak nya itu.


"Hmmm ada apa?"


"Good luck"


Goda Indri tiba-tiba.


Dimas langsung mengerut kan keningnya.


"Ya?"


Alih-alih menjawab lebih dulu Indri malah mengulumkan senyuman nya, gadis itu menepuk-nepuk punggung kakak nya sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Aku suka sama pilihan kakak, calon kakak ipar ku, cantik"


Ucap Indri sambil terkekeh kecil, Setelah berkata begitu gadis itu buru-buru melesat pergi meninggalkan Dimas.


Laki-laki itu diam sejenak, kemudian tahu-tahu dimas mengulumkan senyuman nya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


Rona merah di wajahnya terlihat begitu manis, dia cukup malu di goda oleh adik nya sendiri.


Dasar!.


Ucap Dimas didalam hati.