
Masih di rumah Utama
Keluarga Sederhana Indri
Gadis itu masih tampak bingung dengan apa yang barusan dia lihat, dia menoleh kearah papa dan kakak nya secara bergantian.
Jika bukan sang kakak yang membeli nya lalu siapa?.
"Kamu habis menang undian?"
Tiba-tiba papa nya bertanya sambil menatap dalam bola mata Indri.
"Apa mungkin mobil nya beranak Pinak? melahirkan atau bertelur?"
Tanya papa nya lagi sambil menaikkan ujung alisnya.
"Papa ini nanya nya kok yang tidak masuk akal begitu"
Mama nya bicara sambil memukul lengan suami ya dengan centong nasi yang masih ada di tangan nya.
"Awwww ma kok galak benar sih?"
Papa nya meringis pelan, mengelus lengannya yang barusan di pukul oleh sang mama.
Kakak Indri jelas masih mengerutkan keningnya, dia berjalan ke arah dalam memperhatikan mobil tersebut dengan seksama.
Seingatnya semalam memang tidak ada mobil lain disana, bukan kah terlalu ajaib Tiba-tiba ada mobil lain lagi ini ketika dia membuka pintu garasi.
Hanya orang gila atau orang yang tidak waras tiba-tiba mengantarkan mobil disaat semua penghuni rumah terlelap.
Kecuali ada yang bersekongkol di dalam rumah.
Sang kakak menoleh ke arah papa nya.
"Yang masukin ke garasi siapa memang nya?"
Indri bertanya cepat ke arah semua orang.
Sejenak dia mencoba mengingat-ingat soal sesuatu, ucapan Abizard kemarin di villa nya.
"Apa kamu bisa menyetir?"
"Bisa"
"Itu bagus"
Mungkinkah? tapi kapan dia mengantar nya?.
Batin Indri.
Bukankah semalam pulang sedikit malam, ada kakak nya, kemudian mereka masih melihat satu mobil di garasi, lantas setelah itu mereka tidur.
Lalu kapan laki-laki itu mengantarkan mobil tersebut jika itu benar Abizard.
Sejenak Indri menoleh ke arah papa nya, dia memicingkan kepalanya.
Sang papa tanpa sengaja menoleh ke arah Indri.
"Kenapa?"
Papa nya bertanya sambil menaik turunkan alisnya.
Mencurigakan sekali.
Dia jangan-jangan sudah berhasil mengambil hati papa.
Fikir Indri.
Gadis itu buru-buru melesat masuk ke dalam rumah, berlarian menuju ke kamar nya dan mencoba menghubungi laki-laki tersebut.
Cukup lama hingga akhirnya Panggilan nya tersambung.
"Hmmm?"
Oh god.
Suara nya terdengar begitu seksi, Indri tebak Laki-laki itu pasti baru saja bangun dari tidur nya.
Kemarin saat dia menghubungi Abizard dari handphone nya di rumah nenek Nakhel dia belum kenal dengan suara laki-laki itu di balik benda pipih tersebut, pagi ini dia mulai tahu jika itu adalah suara khas Abizard.
"Pak, itu..."
Indri sedikit bingung harus memulai pertanyaan nya dari mana.
Takut salah bicara atau salah bertanya.
"Apa kamu sudah menerimanya, sayang?"
Sebaris pertanyaan meluncur dari balik bibir laki-laki tersebut tepat di balik telinga nya.
Apa? sa...yang?.
Indri jelas terkejut mendengar kata-kata laki-laki itu.
"Aku fikir itu warna kesukaan kamu hmm"
Ucap laki-laki itu lagi dari seberang sana.
"Jadi itu ulah bapak? kapan bapak membawa nya kemari?"
Tanya Indri jelas dengan ekspresi terkejut.
Alih-alih mendengar jawaban dari Abizard, Laki-laki itu malah berkata.
"Sayang tidak bisakah kamu memanggil ku Abi? kata bapak benar-benar membuat ku tidak nyaman"
"Eh?"
"Dan Jangan terlambat kemari hmm.. aku sudah bangun sejak tadi"
Kemudian terdengar suara Tut di seberang sana dimana Panggilan nya sudah di tutup dari sebelah pihak.
"Loh kok? Abi?.."
Indri jelas bingung.
Belum pula habis rasa terkejut nya, tiba-tiba suara sang kakak kembali mengejutkan dirinya.
"Abi? siapa itu Abi?"
Hahhh?.
Indri buru-buru berbalik dengan spontan, sang kakak tampak bertanya di belakang nya sambil mengerutkan dahi untuk waktu yang cukup lama.
Indri jelas langsung menelan salivanya.