Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Menerima kesepakatan


Restoran xxxxxxxx


Pusat kota


Ketika Alessia tiba di dalam sebuah restoran dengan gaya retro tersebut, sejenak gadis tersebut menghentikan langkah kakinya saat seorang wanita mengencangkan senyuman nya kepada dirinya.


Alessia terlihat diam tak bergeming untuk beberapa waktu, seolah-olah langkah kakinya tidak mau untuk melangkah maju atau mundur saat ini.


Akhirnya gadis tersebut melangkah mendekati perempuan itu secara perlahan, langkah kakinya masih terlihat ragu-ragu sembari dia mencoba berkali-kali menarik nafasnya dan kedua tangannya saling menggenggam antara satu dengan yang lainnya.


Namun di detik berikutnya dia kembali menghentikan langkah kakinya,sejenak Alessia memejamkan bola matanya, di antara banyak pertimbangan yang dilakukan oleh nya, keputusan kali ini benar-benar sangat terasa begitu berat.


"Apa ada sesuatu yang mengganggu?"


tiba-tiba suara seseorang mengejutkan dirinya, begitu Alessia membuka bola matanya, bisa dia lihat Nyonya Khalid telah berdiri tepat di hadapanmu.


Perempuan cantik dengan wajah pucat tersebut mengembangkan senyumannya ke arah dirinya, menyentuh hangat dan lembut telapak tangan nya, mencoba membawanya untuk melangkah dari sana menuju ke arah kursi di mana perempuan tersebut duduk tadi.


"Tidak ada, nyonya"


Jawab Alessia pelan, dengan langkah lembut dia berjalan mengikuti langkah perempuan tersebut.


Hingga akhirnya mereka duduk di kursi mendominasi berwarna cream itu.


sejenak mereka tidak saling bicara, memilih diam dengan pikiran masing-masing untuk beberapa waktu.


Entahlah apa yang masing-masing mereka pikirkan, yang jelas mereka memiliki beban masing-masing yang tidak harus diceritakan.


"Sudah menyakini semua keputusan nya?"


Tanya wanita itu kemudian memecah keheningan, dia bertanya sembari menatap dalam bola mata Alessia.


Sejenak Alessia terlihat diam untuk beberapa waktu, keraguan masih menghantam hatinya, antara menerima atau tidak menerima tapi dia jelas tidak memiliki lagi pilihan yang lainnya.


"sudah memikirkan segalanya dengan matang?"


Nyonya Khalid kembali bertanya kepada Alessia nada bicaranya terdengar begitu lembut dan hangat.


Yang ditanya terlihat masih diam, masih belum mau membuka suaranya, seolah-olah ada yang menghalau mulutnya untuk terbuka dan menjawab.


Mereka kembali diam, tidak bergeming atau bahkan saling bicara antara satu dengan yang lainnya.


Ketika seorang pelayan datang, mereka membiarkan pelayan tersebut menyusun minuman dan makanan tepat di atas meja di hadapan mereka.


Meletakkan es dalam sebuah gelas yang terlihat segar dengan lelehan cairan yang memenuhi sekitar luaran gelas tersebut.


Juga saat beberapa menu makanan diletakkan, aroma semerbak yang mampu membuat lapar Indra perut karena aroma harum menusuk Indra menciuman.


Tapi semua itu tidak mampu membuat rasa haus dan lapar mereka saling meronta, sebab sejatinya persolan mereka jauh lebih menggugah selera dan asa.


Hana bahkan menunggu jawaban gadis dihadapannya dengan jantung berdetak jauh lebih kencang, dia menunggu jawaban Alessia diiringi berjuta-juta kemungkinan.


Tidak berapa lama Alessia pada akhirnya mulai membuka suaranya, gadis itu secara perlahan bertanya.


"Katakan pada ku nyonya, dari sekian banyak gadis kenapa nyonya hanya memilih diriku?"


tanya Alessia pelan sembari menatap balik bola mata wanita tersebut.


Pertanyaan yang dia lontarkan jelas sangat masuk akal, ada ratusan bahkan mungkin ribuan gadis yang bisa ditawarkan oleh perempuan tersebut saat ini, bahkan bisa jadi para gadis lain Akan langsung menerimanya tanpa harus berpikir dua tiga kali.


Bahkan bisa jadi cantik akan menjadi prioritas, Perempuan dihadapan nya bisa mencari model gadis manapun yang tidak memiliki wajah standar seorang gadis.


Namun kenapa? tawaran itu harus ditujukan kepada dirinya?!.


"Apa nyonya yakin aku wanita yang baik dan tepat untuk suami nyonya? tidak kah akan nyonya takut jika aku akan menguasai segala sesuatu yang seharusnya sejak awal menjadi milik nyonya? tidak juga kan yang nyonya takut jika seandainya aku akan merebut seluruh hak di dalam keluarga nyonya?"


pertanyaan itu yang menjadi pertanyaan Alessia selama berapa hari ini terpaksa dia tanyakan secara gamblang.


lanjut Alessia lagi.


Nyonya Khalid sejenak terdiam kemudian wanita itu mengembangkan senyumannya.


"Tidak banyak alasan yang bisa aku katakan, tapi ini insting seorang perempuan, insting seorang istri dan insting seorang ibu jika putra putri ku pasti berada di tangan gadis yang tepat"


jawab wanita itu sembari mengelus tangan Alessia secara perlahan.


mendengar jawabannya Nyonya Khalid, Alessia tampak terdiam.


sesimpel itu kah?!.


batinnya di dalam hati.


"Katakan pada ku syarat apa saja yang bisa aku penuhi untuk pernikahan kalian"


Ucap wanita itu kembali.


Alessia terlihat menggigit bibir bawahnya.


"Itu..bisakah anda, memberikan aku uang di muka?"


tanya Alessia sembari mengencangkan genggaman tangan nya, dia bicara dengan nada perlahan sembari terus menatap bola mata wanita yang ada di hadapannya itu.


"Dan ada beberapa hal yang aku ingin nyonya mengabulkannya"


lanjut Alessia lagi.


Nyonya Khalid terlihat diam, kemudian dia mengangguk kan kepalanya sembari mengembangkan senyuman nya.


*****


Disisi lain


Masih di restoran xxxxxxxx


Di ujung sana seorang perempuan tampak berjalan melangkah masuk ke dalam restoran xxxxxxxx tersebut, dia memiliki janji temu dengan seseorang di sana karena itu perempuan tersebut terlihat bergerak cepat menuju ke arah dalam restoran dan mencari sosok yang ingin dia temui.


namun saat bola matanya mengitari restoran itu tiba-tiba pandangannya tertuju pada satu sosok yang sangat tidak asing dan begitu dia kenali.


Hana?!


perempuan itu bergumam sembari dia mengerutkan keningnya saat dia melihat Hana tengah berbicara dengan seorang gadis muda.


dia langsung menghentikan langkah kakinya sembari mencoba meneliti apa yang terjadi di ujung sana, perempuan itu menoleh ke arah sisi kirinya lantas berkata.


"Kenapa Hana disini? siapa gadis itu?"


Dua pertanyaan itu meluncur dari bibir perempuan tersebut, rasa penasaran yang besar menyeruak di dalam lubuk hatinya, yang dia tahu Hana tidak memiliki banyak kenalan, jikalaupun Ada kenalan dia tidak mungkin tidak tahu siapa orang-orang yang dekat dengan perempuan tersebut.


seorang gadis muda?!.


Dia pikir itu cukup unik.


mendengar pertanyaan dari perempuan disamping nya tersebut, perempuan muda di sampingnya itu buru-buru menjawab.


"Aku tidak tahu itu nona, tapi aku akan coba untuk mencari tahu setelah ini"


sembari bola matanya ikut menetap ke arah di mana nyonya mudanya itu menatap saat ini.


itu adalah nyonya Khalid, kakak perempuan dari nyonya yang ada di sampingnya tersebut, bisa dilihat hanya tampak berbincang serius dengan seorang gadis yang duduk tepat di hadapannya.


setelah mendengar jawaban dari sang asisten nya, perempuan itu langsung membuang pandangannya, dia melangkah ke sisi kiri masuk ke sebuah ruangan lain di mana seorang laki-laki dengan menunggu mereka sejak tadi.


sembari hati kecilnya terus bertanya-tanya kenapa Hana ada di tempat tersebut tanpa ditemani oleh yash.