
Apartemen Kalan
Sebelum makan malam
Meisya beberapa kali menguap sejak tadi sambil menunggu makanan siap saji mereka di antar oleh Bambang grab.
Dia dan Kalan duduk menghadap televisi di ruang tengah, tidak begitu peduli dengan siapapun di belakang sana.
Hari ini setelah seharian berkeliling Jakarta menyelesaikan beberapa urusan yang tertunda sambil mengantarkan undangan pernikahan untuk resepsi pernikahan mereka bersama Syahnaz dan Dimas akhirnya mereka kembali juga ke apartemen Kalan.
Rasanya betis Meisya sudah ingin copot saat ini juga.
"Lelah?"
Tanya Kalan sambil menatap ke arah Meisya.
"Rasanya seperti ingin lepas"
Rengek Meisya kemudian.
Mendengar rengekan gadis itu seketika Kalan mengulum senyuman nya, laki-laki itu bergerak mendekati sang calon istri dan mencoba menaikkan kaki gadis itu ke paha nya.
"Biar aku pijat"
Ucap laki-laki itu kemudian.
Dimas yang sejak tadi duduk bersama Syahnaz di ujung ruang tamu di atas kursi sofa terlihat sibuk memasukkan undangan ke dalam plastiknya hanya bisa menggelengkan pelan kepalanya melihat kelakuan Meisya terhadap Kalan.
Dia baru tahu betapa manja nya gadis bungsu keturunan Nakhel, tapi dia yakin Kalan type laki-laki yang bisa mengayomi gadis tersebut.
Syahnaz terlihat ikut sibuk di samping Dimas, mengepak satu persatu sisa undangan yang belum di sebarkan.
Mereka fikir waktu resepsi pernikahan sudah semakin menyempit.
"Kamu tidak lelah?"
tiba-tiba pertanyaan Dimas mengejutkan Syahnaz.
"Apa?"
Gadis itu bertanya karena tidak begitu mendengar kan pertanyaan laki-laki Tersebut, sebab sejak tadi dia cukup fokus dengan pekerjaannya.
"Kamu tidak lelah berkeliling seharian?"
Dimas mencoba mengulangi pertanyaannya.
"Ah.... hmmm aku fikir tidak juga"
Jawab Syahnaz pelan.
Dan seperti biasa gadis itu masih cukup canggung tiap kali berhadapan dengan Dimas.
Entahlah, mungkin karena Syahnaz masih belum bisa 💯% mempercayai dirinya karena trauma pada hubungannya di masa lalu bersama Reno.
Padahal Acapkali Dimas ingin mencoba memperlakukan gadis itu begitu istimewa, memijat kaki nya, memijat bahu nya, memberikan banyak perhatian dan lain sebagainya.
Tapi tetap saja gadis itu masih cukup kaku menghadapi dirinya, entahlah menurut Dimas mungkin lebih tepatnya Syahnaz masih trauma untuk percaya kepada orang baru karena peristiwa lama.
"Kamu tahu?"
Tiba-tiba Dimas berkata sambil mengentikan kegiatan tangan nya.
Syahnaz yang masih terlihat sibuk dengan perkejaan nya hanya mengangguk kan kepalanya tanpa berniat menoleh ke arah Dimas.
Tapi tiba-tiba dia membeku saat Dimas tahu-tahu menyentuh lembut tangan nya.
Gadis itu langsung menoleh ke arah Dimas lantas menatap wajah laki-laki itu untuk beberapa waktu.
"Apa masih Sulit untuk membuang trauma mu dimasa lalu?"
Tanya Dimas tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan Dimas, seketika Syahnaz terdiam.
"Aku tahu cukup sulit menata hati yang kecewa karena orang lain kemudian kembali membuka hati yang pernah terluka"
Ucap Dimas tiba-tiba sambil menggenggam erat telapak tangan Syahnaz.
"Tapi apa kamu tahu? Berdamai dengan Masa Lalu untuk Menjaga yang Sekarang itu juga penting"
Syahnaz Tampak diam, dia mencoba untuk menundukkan kepalanya namun tangan Dimas dengan cepat meraih dagu gadis itu dan membiarkan Syahnaz agar menatap bola mata nya lekat-lekat.
Dia tahu, dia belum bisa benar-benar menerima Dimas dan berdamai dengan masa lalu nya.
Syahnaz fikir Dimas mungkin menyadari nya.
"Kamu tahu ? Seorang psikologi pernah berkata jika trauma masa lalu bisa merusak hubungan percintaan sekarang ketika kamu masih dibayang-bayangi masa lalu dan tidak move on. Sejatinya kamu tidak bisa menyamakan semua orang sama dengan mantanmu. Perilaku ini tidak hanya berdampak pada citra dirimu, tetapi juga hubunganmu dengan pasangan yang sekarang."
Ucap Dimas sambil mencoba menyentuh lembut kedua belah pipi Syahnaz.
"Setiap orang memiliki watak yang berbeda juga dengan kepribadian yang tidak sama, tidak semua laki-laki juga sama"
"Karena itu mari melupakan persolan masa lalu, mari bersikap lebih terbuka, saling mengeluarkan pendapat saat kamu merasa tidak nyaman dengan aku atau aku tidak nyaman dengan kamu"
"Bukan kah dalam sebuah hubungan yang paling utama komunikasi yang baik dengan saling membuka diri, memberikan perhatian kecil yang kadang bisa berdampak besar untuk keharmonisan sebuah hubungan hmmm"
Setelah berkata begitu, Dimas mengelus lembut wajah Syahnaz, dia mengembangkan senyuman terbaiknya sambil kembali berkata.
"Tanpa ada ingatan soal siapapun, tanpa ada beban dalam tanda kutip jika Laki-laki itu sama saja, I'm different, percayalah"
Ucap laki-laki itu lagi.
Syahnaz terlihat terus menelisik bola mata Dimas, bisa dia lihat keseriusan dibalik bola mata laki-laki itu yang menatap nya sejak tadi.