
Mansion Utama Iriana
Iriana menerima sebuah amplop mendominasi berwarna coklat di hadapannya dari laki-laki yang baru saja masuk ke dalam ruangan nya tersebut, wanita itu duduk diatas kursi kerja yang mengahadap ke arah sebuah meja kaca berwarna hitam.
Wanita itu meraih amplop Tersebut lantas membuka nya secara perlahan, memastikan semua isi nya sesuai dengan apa yang dia harapkan.
"Ini cukup bagus untuk menghancurkan mereka"
Ucap Iriana Sambil menaikkan ujung bibirnya, wajah bahagia tercetak jelas di balik senyuman tersebut.
"Pastikan berita nya masuk dengan cepat, aku berharap Keadaan menjadi kacau tidak terkendali"
Lanjut wanita itu lagi.
"Semua sudah tersusun Sesuai dengan rencana yang nyonya harapkan, kita hanya tinggal menunggu semua berita nya naik cetak setelah laki-laki itu membawa flash disk rekaman nya"
Setelah berkata begitu laki-laki itu membalikkan tubuhnya, dia berjalan ke arah pintu keluar masuk dan membuka pintu itu secara perlahan
Seorang laki-laki berusia sekitar 30 tahunan tampak berdiri di ujung pintu depan, begitu laki-laki yang didalam tadi membukakan pintu nya, laki-laki itu berjalan masuk sambil bersiul senang.
Suit....suit .....
Dia menggunakan pakaian yang cukup berantakan, baju kaos berwarna hitam dengan jaket Levis berwarna biru laut yang entah kapan kali terakhir di cuci, bisa dilihat laki-laki itu menggunakan sebuah topi rajut berwarna hitam yang terlihat mulai pias karena sering terkena sinar matahari, di tubuhnya tergantung sebuah kamera dan tas selempang mendominasi berwarna hitam.
Wajah laki-laki itu terlihat begitu kusut namun licik, bisa dilihat dia lebih menyukai melakukan bisnis dengan uang ketimbang dengan hati.
Dengan gerakan cepat laki-laki itu menghempas kan tubuh nya ke atas kursi sofa yang ada di hadapannya itu.
"Jadi kita akan memulai nya dari mana?"
Laki-laki itu bertanya sambil mengeluarkan rokok dan pamatik nya, kemudian secara perlahan laki-laki itu meletakkan sebatang rokok miliknya ke dalam sela-sela bibirnya dan mulai menyalakan pamatik miliknya.
Sepersekian detik kemudian laki-laki itu langsung menghisap pelan rokok miliknya.
Iriana berdiri dari posisi duduk nya, wanita itu meraih amplop coklat miliknya tadi lantas berjalan mendekati laki-laki itu.
"Pastikan kau menyelesaikan tugas-tugas mu dengan baik"
Ucap Iriana sambil menyerahkan amplop tersebut ke arah laki-laki itu.
Begitu wanita itu memberikan amplop berwarna coklat tersebut, Laki-laki itu menyambar nya dan mencoba mengintip isi nya.
Beberapa gambar terlihat ada di dalam sana dan sebuah flashdisk berwarna putih juga terlihat di dalam nya.
"Seperti permintaan anda, aku butuh DP 50% dimuka"
"Pastikan laki-laki itu membuang Indri secepat nya"
"Itu sesuai keinginan anda, nyonya"
******
Disisi lain.
Meisya terlihat bergerak masuk ke dalam rumah Tante Iriana nya dengan tergesa-gesa, dia sebenarnya enggan untuk mengantarkan undangan kepada wanita tua culas tersebut, tapi karena Mama nya memaksa mau tidak mau gadis itu mengikuti kemauan nya.
Dengan perasaan enggan dan kurang suka dia naik menuju ke lantai atas, tapi seketika dia mengerutkan keningnya saat dia melihat sosok seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan yang biasa Tante Iriana nya gunakan untuk bekerja.
Sebenarnya Meisya bukan type manusia kepo yang ingin tahu soal banyak hal, tapi untuk wanita itu terkecuali.
Dengan gerakan perlahan gadis itu bergerak menuju ke ruangan Iriana, dengan terburu-buru Meisya mencoba mengintip dan mendengarkan apa yang terjadi.
Pemikiran tidak baik menghantam Diri nya.
Apa itu kekasih nya? apa mungkin si tua Bangka memiliki kekasih baru?.
Batin Meisya.
Dia mencoba memasang telinga nya sebaik mungkin hingga akhirnya satu pendengaran Indri menangkap jelas satu pembicaraan.
Hah??!.
Gadis itu jelas terkejut mendengar percakapan orang-orang didalam sana.
Meisya langsung menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangan nya dengan kencang, dia takut mengeluarkan suara berisik nya.
Gadis itu berusaha untuk berbalik tapi.
Pranggggghh
Seketika dia membeku saat tanpa sengaja dia menabrak sebuah vas bunga di sisi kanan nya.
"Siapa itu?"
Terdengar suara Iriana dari dalam sana.
Oh my god.
Meisya jelas terkejut setengah mati, dia fikir apa yang harus dia lakukan saat ini.