
Bola mata Ara sejenak menatap ke arah depan nya untuk beberapa waktu, bukan sosok laki-laki di sisi bagian kanan yang membuat dirinya takut melainkan sosok wanita di sisi bagian kirinya yang membuatnya takut.
Image wanita itu sejak awal telah buruk di dalam bola matanya dan juga di hatinya, sebab baginya wanita itu persis seperti monster yang pernah menyakiti hati mamanya.
apalagi dia melihat sendiri bagaimana cara wanita itu memperlakukan mamanya dengan kejam.
Ara mencoba bersembunyi di Balik kaki mamanya sejak tadi.
"Aku mau pulang saja"
Ucap gadis kecil itu sambil melengkungkan bibirnya ke bawah, dia sepertinya ingin menangis saat ini juga, bahkan bola matanya bisa terlihat mulai memerah.
Ara menggenggam kaki mamanya dengan begitu erat.
"Ayo kita pulang saja mama"
Teriak Ara lagi kemudian.
Agnes terlihat bingung harus bagaimana, Ara jelas aja anak yang manis dan penurut, sedikit sulit dia begitu membenci seseorang, tapi begitu tidak menyukai seseorang gadis kecil itu pasti benar-benar membenci nya.
tidak dipungkiri mungkin Ara sedikit shok melihat wajah mama Iriana, sebab bagi gadis kecil itu kesan pertama yang didapat oleh nya jika wanita itu memperlakukan dirinya dengan cara tidak baik.
Kesan pertama saat melihat seseorang disebut Halo Effect dimana istilah itu di dalam bidang psikologi untuk menyebut kejadian yang kita alami saat memiliki kesan pertama pada seseorang tersebut.
Hal ini terjadi karena banyak orang kerap mengeneralisasi sifat-sifat seseorang yang baru mereka temui meski hanya sepintas melihat penampilan atau cara bicaranya.
Misalnya, jika di pertemuan pertama seseorang murah senyum dan berbicara dengan menyenangkan, anak-anak atau kita akan menilainya memiliki kepribadian yang ramah.
Tapi jika di kesan pertama orang yang ditemuinya sadis, garang dan pemarah maka anak-anak atau kita akan menilainya memiliki kepribadian yang mengerikan dan patut dihindari.
Dan kesan pertama yang Iriana berikan kepada Ara memiliki nilai kepribadian yang mengerikan dan patut dihindari bagi anak tersebut.
Meskipun Agnes suka membujuk Ara sejak beberapa hari yang lalu, gadis kecil itu tetap merasa takut bertemu dengan Nenek nya sendiri.
"Sayang, kemarilah"
Ucap Agnes sambil berusaha untuk memegang Lembut kedua bahu Ara, dia menatap wajah Putri nya itu untuk beberapa waktu.
"Mama ingin membelikan ku pada monstel itu?"
Seketika air mata Ara tumpah, dia menangis kecil sambil berusaha untuk tidak mengeluarkan suara keras nya.
Agnes menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"No sayang, itu nenek kita, bukan monster"
"Dia mau memakan Mama kemalin"
Agnes kembali menggelengkan kepalanya.
"Itu karena nenek sedang lelah dan berfikir jika Mama tidak Menjaga Ara, nenek fikir Ara pergi menghilang"
"Liel {Liar \= Bohong}."
Gadis kecil itu bicara masih dengan gaya cedal nya.
"Agnes secara perlahan memasukkan Ara kedalam pelukan nya, perempuan itu menepuk-nepuk punggung putri nya"
"Mama tidak pernah berbohong hmmm"
Perempuan itu bicara sambil membiarkan Ara memeluk hangat dirinya.
"Mari mengobrol sebentar, kemudian kita pergi, kita akan menghabiskan makan siang bersama Papa Reno, membeli sedikit mainan bersama kemudian pulang"
Mendengar ucapan Mama nya, Ara terlihat diam, dia memang suka membeli mainan baru bersama Mama dan Papa Hans saat mereka mendapatkan liburan bersama.
"Apa Ala boleh pelgi belsama Papa Hans?"
Tanya Ara kemudian.
"Tentu saja, Papa Hans akan ikut dibelakang kita, tapi Ara mau bergandengan tangan dengan Papa Reno bukan?"
"Nenek tidak ikut?"
Mendengar pertanyaan putri nya, Agnes langsung menggelengkan kepalanya.
"Nenek tidak bisa keluar dari tempat ini, Nenek Iriana hanya ingin menyentuh tangan Ara, mencium Ara dan memeluk Ara, kemudian makan sambil menyuapi Ara,hanya itu"
Tentu saja Mama Reno tidak bisa pergi kemana-mana, jeruji besi menjadi tempat persinggahan nya saat ini karena seluruh kesalahan nya, wanita itu harus menebus seluruh kesalahan nya dimasa lalu didalam tempat gelap dan pengap didalam sana.
Ara terlihat diam, dia mencoba mengintip ke belakang, memperhatikan dua Wajah dengan bola mata berkaca-kaca yang menatap nya sejak tadi.
Dia sebenarnya merasa tidak nyaman saat Papa hans berkata laki-laki itu akan menunggu diluar, menemui kedua orang asing itu terasa begitu aneh.
Tapi Mama nya berkata kedua orang itu bukan orang asing.
Mereka bagian dari keluarga kita.
Dia tidak paham arti ucapan Mama nya, tapi Papa Hans selalu berkata jika dia harus menjadi anak yang baik agar dicintai banyak orang.
Hingga akhirnya dia mengangguk kan kepalanya secara perlahan.
Seulas senyuman mengembang dibalik bibir Agnes.
"Kemarilah"
Ucap Perempuan itu sambil mencoba meraih tangan kecil nya, sang Mama membawa nya mendekati kedua orang asing tersebut secara perlahan.
dengan langkah ragu-ragu dia berjalan mendekati kedua orang tersebut, bola mata nya terus memperhatikan kedua orang itu dengan cara yang begitu awas dan hati-hati.
Terlihat seulas senyuman mengembang dari balik wajah kedua orang itu, membuat Ara terus melangkah dan mencoba untuk ikut mengembangkan senyuman nya dengan perlahan.