Terjebak BI*Rahi Duda Gila

Terjebak BI*Rahi Duda Gila
Hidup adalah pilihan


Masih di masa lalu


Beberapa hari sebelum pertemuan


Alessia dan Yash


Rumah sakit xxxxxxx


Manhattan


"Kita harus melakukan operasi nya"


Ketika dokter dihadapan nya berkata begitu, Alessia berusaha untuk mencari pegangan di belakang nya.


"Alessia"


Bibi muda nya berusaha menahan tubuh Alessia yang akan jatuh.


Keadaan benar-benar terjepit, Hans yang bisa mereka andalkan meskipun tidak banyak kini tengah berada di tengah-tengah kematian antara hidup dan mati.


Laki-laki itu sedang berjuang di atas ring kebanggaan nya, mengumpulkan pundi-pundi uang untuk pengobatan mereka.


Agnes dan Operasi lahiran nya karena kelahiran normal tidak mungkin dilakukan.


Dia dan Operasi nya, karena penyakit yang menggerogotinya harus segera di angkat.


Dia tahu tiap kali Hans berkata laki-laki itu akan mendapat kan uang nya, sejatinya laki-laki itu tidak benar-benar mengumpulkan semua nya.


Tidak mudah memperoleh uang dari ring tinju di setiap malam nya, belum lagi nyawa jelas menjadi taruhan laki-laki tersebut.


Wajah babak belur pasti selalu terlihat setiap kali laki-laki itu kembali.


Bisa Alessia bayangkan betapa menyakitkan luka-luka tersebut di wajah Hans.


Belum lagi seluruh kartu milik Hans di blokir oleh Mama nya, seluruh fasilitas yang di cabut tanpa perasaan membuat laki-laki itu kehilangan semua tabungan nya.


Ditambah lagi kebencian wanita itu pada Agnes membuat Hans kehilangan semua hak di rumahnya.


Karena itu dia fikir dia terpaksa menerima tawaran Nyonya Al Kalid.


Alessia menoleh ke arah bibi muda nya untuk beberapa waktu,bola mata nya terlihat berkaca-kaca.


"Lakukanlah operasi nya"


Tiba-tiba Alessia bicara ke arah dokter yang ada dihadapan nya.


"Baiklah, kalian bisa menyelesaikan administrasi nya"


"Ya, dokter"


Jawab Alessia pelan.


Setelah mendapat kan jawaban, dokter tersebut langsung berbalik dan meninggalkan mereka.


"Alessia"


Bibi muda nya menggenggam erat telapak tangan Alessia.


Wanita itu seolah-olah tahu apa yang difikirkan Alessia, begitu Alessia berusaha melepaskan genggaman tangan nya, dia langsung menggelengkan kepalanya.


Dia mencoba Berkata.


"Tidak,jangan lakukan itu. Jika kamu menerima tawaran wanita itu dan menikah, kamu akan kehilangan seluruh masa depan mu, Alessia."


"Bukankah Allah selalu punya rahasia dibalik tiap tragedi dan ujian yang diberikan untuk kita?"


Tanya Alessia sambil berusaha mengembangkan senyuman nya.


"Hidup yang benar-benar hidup adalah ketika kita bisa menyelesaikan sebuah tantangan bernama masalah dan kelumit hidup tanpa adanya yang dikorbankan. Dan bukankah dalam menjalani kehidupan selalu ada pilihan? Karena jika tidak adanya pilihan, kita tidak akan tertantang untuk itu bukan?"


"Tapi ini soal masa depan kamu, bagaimana bisa kamu menikah dengan laki-laki yang tidak kamu cintai? bahkan perjanjian itu begitu berat, kamu harus mendampingi laki-laki itu hingga akhir seperti permintaan istri nya"


"Mana yang lebih penting? Agnes dan calon keponakan ku atau harga diri dan masa depan ku yang jelas telah menghilang?"


Bibi muda nya tahu Alessia melepaskan semua nya karena keadaan nya.


Saat dioperasi ada dua kemungkinan.


Jika gagal maka Alessia Meninggal.


Jika berhasil maka Alessia kehilangan masa depan nya, tidak ada lagi harapan untuk bisa hidup, menikah dan menjadi perempuan seutuhnya.


"Tapi..."


"Aku yakin Allah sudah punya rencana indah untuk semua orang bi, aku juga yakin langit tidak selalu menjadi gelap, akan ada masa langit gelap berubah menjadi terang benderang"


Setelah berkata begitu Alessia langsung melepaskan genggaman tangan bibinya, dia secara perlahan mulai beranjak menjauhi wanita tersebut.


"Jaga Agnes untuk ku juga keponakan Ku hmmm"