
Masih di beberapa hari yang lalu
Setelah perjalanan mengantar Ima
Sahabat baik nya
Dimas terlihat melirik ke arah jam di tangannya, sejenak dia menghela pelan nafasnya.
Benar-benar terlambat.
Batin nya.
Seketika Dimas Ingat dengan sesuatu, Indri menitipkan sesuatu pada dirinya.
Laki-laki itu berniat untuk membelokkan motor nya ke sisi kiri dimana terdapat Indomaret disana, tapi tanpa dia duga terdengar hantaman keras di belakang nya.
Seketika suara klakson mobil dan motor saling bersahutan, laki-laki itu buru-buru menoleh dengan ekspresi terkejut.
Sebuah mobil menabrak mobil lain nya yang tengah diparkirkan di pinggiran jalan.
Dimas langsung menepikan motornya, enggan ambil pusing dengan perihal orang lain, tapi seketika bola mata nya tertuju pada satu sosok yang baru saja keluar dari sebuah toko disisi kanan Indomaret tersebut, berlarian panik menuju ke arah mobil yang di tabrak mobil lainnya.
Gadis itu lagi?!.
Batin Dimas.
Seolah-olah panggilan hati memaksa nya untuk mendekat, laki-laki itu dengan gerakan cepat mendekati gadis itu.
Hiruk pikuk jelas terdengar, kehebohan terjadi, sang penabrak jelas tidak ingin mengalah padahal jelas-jelas dia salah.
Karena yang menabrak seorang laki-laki bertubuh kekar, besar dan tinggi, berusia sekitar 40 tahunan, sang gadis terlihat tidak banyak membuat pembelaan.
"Mbak yang salah, harus nya jangan parkir di pinggir jalan, kan bisa masuk langsung ke dalam"
Si penabrak jelas ngotot tidak mau di salahkan.
"sudah tahu ini jalanan umum, parkir seenak nya saja"
Oceh laki-laki itu lagi.
"Yah nggak bisa lah pak, tetap saja bapak salah, masa bapak nggak bisa lihat mobil Segede gaban gini? bapak buta apa?"
Seorang perempuan berusia sekitar 35 tahunan tampak mengoceh, dan Dimas kenal siapa perempuan itu.
Tetangga dekat rumah nya, yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta.
Perempuan itu memiliki seorang anak kecil berusia sekitar 7 tahunan, Anak nya sering datang dan ikut main ke rumah mereka bersama Indri, dikala perempuan itu sibuk bekerja bahkan Suami belum pulang kerja, anak perempuan itu pasti akan di tinggalkan di tempat mereka.
"Bapak biar bagaimanapun tetap salah, bapak nabrak mobil yang sedang di parkir di jalanan"
Beberapa tukang ojek terlihat mencoba memberikan pembelaan pada perempuan tersebut.
"Jadi maksudnya mau minta ganti begitu hah?"
Suara laki-laki itu mulai meninggi.
Perempuan tadi tidak kalah kencang bicaranya, jelas kesal melihat laki-laki di hadapan mereka itu.
Disaat semua orang ricuh dengan keadaan, Gadis yang Dimas lihat mengeluarkan ekspresi bingung, gadis itu menyentuh keningnya untuk beberapa waktu.
"Aku harus tiba di acara nya dalam 10 menit Mir, bisakah kamu yang mengurus semuanya?"
Gadis itu bertanya sambil mencoba membuka pintu mobilnya, mencari sesuatu di sana.
"Mau naik apa? Miss kan belum ... "
Perempuan itu seketika menghentikan kata-kata nya saat dia sadar dengan kehadiran Dimas.
"Dewa?"
"Ada apa mbak?"
Dewa buru-buru bertanya.
Perempuan itu dengan cepat menjelaskan kejadian nya, realita nya laki-laki yang dihadapi mereka jelas keras kepala.
Untung nya sebuah mobil patroli melintas, dan bukan kah Dimas patut bersyukur saat melihat sosok siapa yang turun dari mobil patroli tersebut.
"Loh Dewa, kenapa?"
"Om..."
Seketika Dimas menepi, menjelaskan duduk permasalahan yang terjadi pada laki-laki berpakaian coklat tersebut yang berusia dibawah papa nya itu yang tidak lain masih saudara sang Mama.
Sang laki-laki pengendara mobil jelas panik, dia otomatis kehilangan kata-katanya.
"Dewa bisa bantu mbak nggak? antar kan dulu putri atasan mbak ke alamat ini, dia sudah lama tidak pulang ke Jakarta, sudah 5 tahun, mbak urus mobil nya dulu sama Om kamu dan bapak ini"
Bukankah segala sesuatu itu tidak ada yang kebetulan? kadang tuhan sudah merencanakan sesuatu dengan cara indah nya, hanya saja kita tidak tahu kapan dan dimana itu akan terjadi, juga seperti apa nanti nya hal itu terjadi.
"Miss Syahnaz bareng mas Dewa saja yah, dia baik kok Miss, nanti di antar hingga ke tujuan"
Sebaris kalimat yang meluncur dari bibir perempuan itu membuat gadis itu bungkam, dia tidak punya pilihan lain, menatap Laki-laki dihadapan nya itu yang sebenarnya sudah 2 kali dia tatap dengan cara tidak sengaja di kafe dimana dia berada sebelum nya.
Sejenak bola mata mereka saling beradu, keraguan jelas terlihat dibalik wajah Syahnaz.
"Aku akan bantu membàwa nya"
Sebaris kata laki-laki itu diiringi senyuman ramah nya membuat Syahnaz menyerahkan beberapa kantong barang yang ada di tangan nya.
Gadis itu menatap motor yang digunakan oleh laki-laki tersebut untuk beberapa waktu lantas dia melirik ke arah punggung kokoh tersebut.
Bukan persoalan motor yang membuat dia ragu tapi bagi nya ini adalah kali pertama dia pergi berboncengan dengan seorang laki-laki setelah kejadian 5 tahun yang lalu dimana dirinya di lukai.
"Ini mungkin akan sedikit terlambat"
Laki-laki itu bicara pelan sambil tiba-tiba meletakkan helm ke atas kepala gadis itu.
Seketika Syahnaz membeku saat sosok didepan nya merapikan rambut nya dengan gerakan yang begitu lembut sambil melebarkan senyuman.