
Indri jelas ikutan panik saat dia melihat ada banyak sekali wartawan sisi jendela rumah mereka, berdiri bahkan mencoba mengintip kedalam.
Untungnya kaca jendela kamar nya gelap dan tidak tembus pandang dari arah depan.
Gadis itu sejenak menyentuh dahi nya, agak bingung harus melakukan apa, mencoba mondar-mandir mencari solusi bagaimana cara nya mengusir para wartawan.
Tidak dipungkiri, para tetangga mulai heboh dengan keadaan, ikut mencuri intip dan ingin tahu apa yang terjadi di rumah mereka.
Bagi yang update dengan berita jelas sudah tahu apa yang terjadi, tapi bagi yang tidak tahu apa-apa jelas jadi mati penasaran melihat ada banyak wartawan disekitar rumah mereka.
Bisik-bisik tetangga terdengar dimana-mana, bahkan beberapa wartawan tampak mulai bertanya dengan gaya mereka ke beberapa mak-mak tetangga yang ketahuan punya muka kepo dan bisa di ambil informasi nya soal calon istri Penerus sah NAKHEL GROUP.
Ditengah kegalauan yang terjadi, sang Papa malah berkata.
"Nggak usah galau ah, buruan mandi dan hadapi dengan ikhlas dan berani"
Sang papa bicara sambil mendorong Indri agar segera mandi.
"Papa... mana sempat mikir mandi"
Protes Indri.
"Mandilah, itu air iler ada dimana-mana"
Papa nya tidak kalah protes melihat keadaan sang putri.
Indri memeluk enggan pintu kamar mandi, sejujurnya masih ingin menikmati pagi indah dengan memejamkan bola matanya di atas kasur empuk milik nya.
"Ngomong-ngomong Harus nya kita pakai baju yang bagus buat kondangan gitu kan Ma? siapa tahu nanti wartawan nya tidak mau pulang, memaksa untuk wawancara ma, kan malu masih pakai baju kaos begini?"
Laki-laki itu masih sempat mikir soal pakaian yang mereka gunakan.
"Apa mama harus pakai kebaya juga begitu? dengan gaya rambut disanggul kayak mak-mak di perayaan ibu Kartini?"
Tanya Mama nur sambil memunyungkan bibirnya.
"Itu wartawan terlalu kepo ingin tahu kehidupan orang yah Pa"
Lanjut dia lagi.
"Kalau tidak kepo namanya bukan wartawan mama, tapi chef juru masak yang tampil di televisi di acara akhir Minggu"
Protes Indri cepat.
"Kok Papa ngerasa bakal jadi artis dadakan? harus nya Papa maskeran dulu biar gantengan dikit kalau mau di wawancara, biar mirip kayak itu loh aktor Turki itu tu yang lagi ngetrend"
Sang istri bicara sambil memutar bola matanya.
"Aihhh Mama dan Papa ah..."
Indri jelas masih panik, berusaha untuk berfikir dengan jernih.
"Abizard"
Pekik Indri cepat.
Seketika bola mata nya mengembang dengan sempurna, gadis itu mencoba mencari handphone nya.
Dia tahu seharusnya laki-laki itu bisa mengatasi semua keadaan ini.
Dia khawatir jika para wartawan tidak mau beranjak pergi dari rumah mereka hingga sore nanti, tidak bisa di bayangkan bagaimana nasip Mereka didalam rumah tanpa bisa keluar kemana-mana di hari weekend yang panjang.
Ditengah kegalauan, tiba-tiba -Sang kakak nya Dimas terlihat berjalan masuk ke kamar, cukup terkejut saat dia bangun tidur mendapati suara berisik di sekitaran rumah mereka.
"Ada apa ini?"
"Sssttttt"
Papa dan Mama nur meletakkan jari mereka ke bibir mereka masing-masing.
"Apa?"
Dimas masih mengerutkan keningnya.
"Para wartawan sedang ingin bersilaturahmi"
Jawab sang Papa sambil cengar-cengir kuda.
"Wartawan?"
Lagi-lagi Dimas mengerutkan keningnya.
Laki-laki itu langsung mengintip ke arah luar, memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Oh shi..t.
Laki-laki itu mengumpat pelan di dalam hati nya.